Masuk era 30

Posted October 10, 2009 by wignyokarsono4
Categories: Sekedar Review

Fase hidup kita dapat kita bagi dalam dasawarsa. Dasawarsa pertama adalah masa kanak-kanak 1 – 10 tahun, dasawarsa kedua 11 – 19 tahun adalah masa remaja, dasawarsa ketiga masa menuju kedewasaan (20 – 30 tahun), masa (usia 31 – 55) tahun adalah masa kematangan. Setelah itu adalah masa menuju usia senja.

Usia 31 hingga 55 tahun adalah periode dimana setiap personal dapat dinilai sama tidak peduli usianya dalam konteks bekerja. Yang membedakan hanyalah faktor pengalaman saja. Di usia tersebut jangan heran jika ada beberapa orang yang dapat mencapai posisi tinggi di awal usia 30 -an yang secara normal biasanya dijabat oleh orang-orang dengan usia 50 tahunan. Tengok saja misalnya Firmanzah yang menjabat dekan ekonomi UI pada usia 32 tahun. Atau sebut saja Laksamana sukardi yang jadi VP di CityBank bahaka papa usia 29 tahun.

Memasuki masa kematangan di usia 31 tahun ada beberapa hal yang berubah secara fisik maupun secara mental dan psikis. Di usia awal fase kedewasaan kita dituntut tanggung jawab yang lebih sebagai orang dewasa. Dalam hal karir, di benak saya sudah tidak terlintas lagi keinginan untuk mencoba-coba peruntungan di tempat lain. Ibarat petani yang telah memilki sawah garapan, saya hanya mencoba mengolah sebaik mungkin kapling sawah yang saya miliki untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin.

Saya cukup bersyukur dengan keadaan yang ada. Walaupun belum punya tunggangan beroda empat namun saya sudah memiliki rumah yang cukup lumayan. Keadaan keuangan juga secara relatif baik karena tidak memiliki tanggungan utang besar. Walaupun tidak kaya namun saya juga tidak merasa sebagai orang miskin.

Di usia awal kedewasaan ini orientasi hidup saya juga mulai berubah. Sekarang saya merasa harus lebih realistis dengan keadaan di sekitar kita. Saya mulai belajar tentang menjalin hubungan kerja yang lebih baik dengan rekan-rekan kerja. Saya harus mulai berempati dan menunjukkan rasa simpati yang lebih. Saya mulai mencoba memahami kondisi orang lain, dan tidak memaksakan merek untuk berbuat sesuatu yag dulu saya pernah lakukan (dalam konteks kerja). Di balik kebiasaan dan sifat-sifat yang berwarna dari rekan-rekan kerja, setiap orang pada hakikatnya memilki keunggulun yang spesifik yang perlu dimanfaatkan dengan baik. Pelajaran ini saya ambil setelah ada yang menyampaikan ke saya bahwa saya tidak berhasil membina anak buah dengan baik.

Mimpi-mimpi saya dulu pada saat awal mulai bekerja adalah bekerja di sebuah institusi yang diisi oleh-orang-orang yang kompeten, agresif, bermotivasi tinggi dalam mengejar target dan profesional mulai harus ditinggalkan. Namun apa daya, lingkungan kerja saya tidak sesempurna seperti yang saya bayangkan. Untuk mencapai pekerjaan yang terbaik saya sekarang mencoba mendorong rekan-rekan kerja agar berbuat lebih baik bukan hanya berfikir mengenai uang yang akan didapatkan namun kualitas perkerjaan harus ditingkatkan.

Ada kawan yang pernah bercerita bahwa kalau sekadar kerja maka yang didapatkan adalah uang, namun apabila kita memiliki hal lain berupa pengabdian, pembinaan dan menyebarkan hal yang baik-baik bagi orang di sekitar maka tabungan akhirat kita juga akan senantiasa meningkat. Nah unsur pengabdian kepada profesi, pembinaan dan coaching itulah yang harus saya lakukan agar pekerjaan dapat berhasil dengan baik. Sesuai dengan kode etik kerja yang ada di institusi tempat saya bekerja maka integritas, independensi dan profesionalisme mutlak dijaga dengan baik. Sarana berupa petunjuk kerja (SOP) di tempat kerja sudah disusun, walaupun tidak sempurna paling tidak sudah ada dan kita tinggal menjalani apa yang ada. Inilah yang mendorong kita untuk berbuat sesuai standar, syukur-syukur kalau kita berbuat beyond the call of duty.

Secara biologis kondisi fisik juga mulai menurun. Kebiasaan kerja yang timpang dengan kegiatan fisik membuat badan cepat lelah. Apalagi saya terus terang malas berolahraga, dengan kondisi itu maka penyakit pun mudah datang. Alhamdulillah secara genetik saya tidak memiliki riwayat penyakit berat. Memasuki era kedewasaan ini, permasalahan yang membuat saya pusing adalah cepatnya uban tumbuh di kepada dan ketombe yang tiada sembuh-sembuh. Mudah-mudahan awal era ini saya lebih berhasil dalam membina karir, rumah tangga, kondisi keuangan dan kondisi spiritual yang lebih baik.

Makna di balik Kecurian

Posted October 10, 2009 by wignyokarsono4
Categories: realitas sosial

Beberapa saat yang lalu (24 Sept), sesampai di Jakarta kembali, setelah merayakan lebaran di kampung, saya mendapati rumah terkunci dari dalam. Setelah melongok dari bali jendela, saya dapari keadaan di dalam kamar sangat berantakan. Fikiran saya langsung tertuju pada barang-barang apa yang hilang. Sejenak tetangga kanan dan kiri langsung berkumpul ramai di depan rumah. Jam pada waktu itu menunjukkan pukul 20.00.

Dengan bantuan tetangga di depan rumah saya dibantu masuk ke dalam rumah lewat tembok belakang. Saya dapati pintu rumah belakang tidak terkunci dan rupanya maling lewat pintu belakang dengan cara mencongkel jendela terlebih dahulu. Dari lima kamar yang ada, empat kamar telah dimasuki maling. Semua kamar dalam keadaan berantakan. Pintu kamar depan dibobol, berbagai barang yang ditata rapi dalam lemari diobrak-abrik. Bahkan beberapa barang telah sampai ke luar kamar.

Sejenak tetangga berdatangan untuk mengechek keadaan rumah. Dengan bantuan pak RT setempat, polisi dari kantor Polsek setempat diundang datang untuk melihat kejadian tersebut. Beberapa bukti dikumpulkan polisi antara lain sorokan yang dibukin maling untuk mengambil barang-barang dalam kamar, rokok bekas pencuri dan gagang sapu yang telah dimodifikasi si maling juga diambil sebagai barang bukti. Polisi juga mengambil beberapa foto bekas tangan dan kaki pencuri yang menempel di dinding.

Pencuri ini menurut saya tergolong unik. Mungkin karena pas lebaran dimana kata tetangga saaat itu hujan maka pencuri dengan leluasa melakukan apapun. Bahkan “maaf” pencuri tersebut sampai sempat buang hajat, pipis merokok, serta makan beberapa makanan yang ada. Ini terlihat dari bekas-bekasnya berupa kloset yang tidak disiram dan bungkus rokok dan puntung rokok yang bertebaran di mana-mana.

Mungkin karena kesal karena barang jarahannya tidak terlalu bernilai tinggi maka pencuri tersebut mengambil ijazah, paspor dan buku nikah. Bagi orang lain. barang tersebut pasti tidak ada harganya namun bagi saya pribadi kehilangan barang-barang tersebut tentunya sangat merepotkan. Kehilangan barang-barang seperi perhiasan, jam tangan, decoder indovision dan lain lain tidak membuat saya kecewa namun kehilangan surat-surat penting itulah yang membuat dada serasa sesak. Untung saja surat sertifikat tanah saya bawa, kalau tidak pasti ikut dibawa si maling.

Peristiwa yang tentu tidak mengenakkan ini tentu saja membuat saya geram, namun apa dikata semuanya telah terjadi. Saya hanya coba mengambil hikmah dari kejadian ini antara lain:

1. Jika meninggalkan rumah untuk pulang lebaran jangan lupa untuk titip kepada tetangga. Syukur-stukur kalau ada tetangga yang dapat dimintai bantuan untuk bertempat sementara di rumah sampai kita datang lagi.
2. Jaga dengan baik-baik barang-barang yang sangat berharga, bila perlu bawalah bersama anda jika mau pergi.
3. Berkenalan dengan tetangga agar hubungan lebih terjalin dengan erat. Ingat sebagai entitas sosial jangan lupa bahwa anda memiliki tanggung jawab bukan hanya kepada diri sendiri dan keluarga namun juga kepada tetangga di sekitar anda.
4. Jangan lupa untuk menerapkan prosedur keamanan pada rumah anda semisal memasang kawat berduri di tembok belakang, meninggikan tembok belakang, atau bisa juga memasang karmera pengintai.
5. Setiap kejadian secara spiritual pasti ada hikmahnya. Dalam konteks agama kewajiban untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah selalu anda lakukan. Hanya Tuhan yang dapat menjadi pelindung dan juru keselamatan bagi kita semua.
6. Terakhir jangan lupa untuk membayar zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal.

sekian.

Society investment untuk KRL-Ek

Posted September 11, 2009 by wignyokarsono4
Categories: realitas sosial

Apa asosiasi anda mengenai KRL ekonomi? Jawabannya mungkin lekat dengan kata-kata sumpek, padat, copet, kumuh dsb.. kata-kata nggak enak lainnya. Lantas jika konotasi negatif itu msaih melekat apakah lantas membuat anda berhenti naik KRL? Jawabannya tentu tidak.

Sudah 3 minggu ini mulai 24 Agustus lalu hingga 14 September saya coba lagi naik KRL bukan pada jam sibuk. KRL ekonomi (KRL-Ek) menjadi pilihan karena faktor fleksibilitas. Faktor inilah yang tidak dimiliki moda transportasi lainnya/ Saya hanya menggunakan KRL-Ek hanya pada perjalanan pulang dari Kalibata menuju Pondok Cina pada sore sebelum jam empat. Di luar itu saya terus terang tidak berani memakainya. Walaupun tetap saja berdesak-desakan, namun alhamdulillan masih sampai di tempat tujuan.

Suasana negatif berdesak-desakan di atas KRL terus terjadi, ini membuat saya bertanya. “Apakah ini disengaja, apakah telah terjadi pembiasaan yang menuju pembinasaan. Jika menilik harkat dan martabat manusia, sepertinya pemiliki KRL-Ek belum sampai sejauh itu. Manusia pengguna KRL-Ek baru sebatas penumpang (bukan tamu dalam istilah di taksi) dan operator sebagai penyedia. Hubungan antara penyedia dan penumpang hanya sebatas pemanfaatan KRL-Ek sebagai transportasi, tidak lebih dari itu. Dari konteks budaya, hubungan seperti itu hanya terbatas dalam intensitas dan kualitas hubungan yang rendah

Apa sebenarnya yang salah. Menurut saya tidak tepat jika kita membiarkan kondisi ini terus terjadi. Jika membuat kajian baik dan buruknya sesuatu tentu saja ada penyebabnya. Sudah tentu, penyebabnya harus orang. Jangan berlindung dari kondisi suplai dan demand yang tidak seimbang. Kalau itu penyebabnya solusinya hanya satu, tambah jumlah dan frekuensi… selesai masalah.

Persoalan yang harus dijawab adalah budaya. Budaya dalam arti cara berfikir penyedia dan pengguna KRL-EK ini. Situasi berebutan dan berdesak-desakan terus menerus seperti ini apakah akan terus dipertahankan? Jika tidak maka kita harus mencari solusinya. Saya membayangkan para pengguna dengan sadar patungan (mungkin dengan cara donasi di atas harga tiket) untuk membeli gerbong baru. Gampangnya, sebut saja sebagai society investment. Masyarakat pengguna sebagai investor (pemiliki) kereta, dengan ini maka mereka akan memilki rasa memiliki dan berupaya melindungi dan menjaga aset tersebut dengan baik. Tujuannya hanya satu yaitu membuat KRL-EK lebih berbudaya.

Entitas A yang Bingung

Posted September 7, 2009 by wignyokarsono4
Categories: Sekedar Review

Bingung adalah representasi dari ketidakmengertian mengenai suatu situasi. Situasi dapat berupa rencana dapat pula masalah yang sedang dihadapi. Bagaimana jika semua orang dalam suatu entitas bingung dan tidak mengerti akan berbuat apa?

Syahdan, suatu entitas A dirundung kebingungan untuk melakukan mengeksekusi pekerjaannya. Seperti entitas lainnya, entitas A sudah memiliki perencanaan yang sangat matang. Rencana tersebut sudah termaktub dalam kitab suci yang disebut sebagai RKAP. Kitab inilah yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan pekerjaan beserta batasan pagu anggaran yang tidak boleh dilanggar. Sebagai suatu rencana, RKAP tersebut terhitung sebagai suatu yang ideal karena berupa rencana aksi secara korporasi / umum yang selanjutnya diterjemahkan dalam RKAP lanjutan yang bersifat khusus.

Entitas A bingung untuk merealisasikan RKAP yang dimiliki karena beberapa faktor:

1. SDM ternyata tidak mendukung. Bayangkan jika kita akan melakukan suatu proyek yang sangat besar yang membutuhkan keahlian dan kompetensi khusus di bidang yang sangat rumit. Sudah barang tentu entitas A harus memiliki profesinal yang mumpuni yang meliputi keahlian lintas sektoral. Namun apa daya ternyata entitas A tidak memilikinya. Entitas A hanya didukung oleh beberapa profesional yang masih jauh dikatakan sebagai prefesional. Dalam bekerja pun banyak yang tidak mentaati standar yang ada.

2. Terjemahan dari RKAP tersebut ternyata rumit. Jika RKAP dulu disusun dengan metode bottom up niscaya semua orang pasti tahu mengenai apa dan bagaimana RKAP itu. Ekses dari keadaan ini adalah timbulnya perdebatan yang panjang mengenai konsep untuk menuju ke RKAP. RKAP dengan ini menjadi bahan wacana yang gampang diperdebatkan bukannya sebagai suatu konsep yang matang yang gampang dieksekusi. Perdebatan para thinker dalam entitas A seperti tiada berujung malahan menimbulkan ide untuk lari dari RKAP.

3. Perangkat pendukung tidak disiapkan dengan baik. Bayangkan jika tentara yang akan menuju medan perang dipersenjatai dengan senapan angin yang rusak. Pilihannya hanya ada dua yaitu mati dengan konyol di medan perang atau tidak berangkat perang sama sekali. Perangkat kerja berupa manual dan SOP belum siap sehingga kalau mencoba untuk merealisasikan RKAP maka pelaksana di entitas A tidak memiliki guidance yang jelas. Betapa susuh untuk mengukur kriteria keberhasilan pekerjaan sementara perangkat untuk melakukan pekerjaan tidak tersedia dan standar pelaporan yang menjadi muara suatu pekerjaan tidak tergambar dengan baik.

4. Sistem yang berlaku dalam induk entitas tidak memungkinkan entitas A untuk bergerak dengan dinamis. Coba saja jika kita memiliki keleluasaan untuk menentukan prioritas dan struktur kerja yang loose (tidak terlalu ketat) saya yakin setiap pekerja akan dapat mengembangkan kreatifitisnya dengan baik.

5. Masing-masing pekerja bekerja dengan tidak terarah. Konsep keterarahan kerja pada dasarnya adalah konsep yang sangat sederhana. Agar pekerjaan terarah maka manajemen entitas A perlu melakukan pengendalian terutama dari sisi waktu. Jika manajemen sendiri tidak dapat dicontoh dalam hal tenggat waktu menyelesaikan pekerjaan maka bagaimana dengan para pekerja di entitas itu. Dalam entitas A tidak ada standar bahwa perkerjaan “A” harus diselesaikan beberapa satuan waktu. Kenyataan yang ada adalah perkerjaan banyak yang molor bahkan berulang tahun (sampai akhir tahun blm selesai shg harus diselesaikan tahun berikutnya).

Demikian kondisi entitas A yang sedang bingung. Jika anda adalah komponen atau bagian dari entitas A maka hal yang paling baik yang anda lakukan adalah melompat ke entitas lain yang lebih jelas.

Jam Kerja dan Profesionalisme

Posted September 5, 2009 by wignyokarsono4
Categories: Sekedar Review

Syahdan di suatu kantor, demi untuk mencapai cita-cita luhur reformasi birokrasi maka jam kerja karyawan kemudian ditambah. Jika dulu pegawai di kantor itu datang pada jam 8 trus pulang jam empat maka sekarang jam datang menjadi jam 7:30 pulang jam 5.00. Reformasi birokrasi memang membawa berkah berupa naiknya tunjangan namun si karyawan harus lebih disiplin dalam bekerja minimal untuk absen di mesin cap jari pagi dan sore.

Kalau dihitung-hitung, jam kerja karyawan sekarang menjadi 9 jam kerja setelah dikurang istirahat 1/2 jam. nah bandingkan dengan UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa jam kerja adalah 8 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 (satu) minggu. Kalau jam kerja normal waktunya melebihi jam kerja di UU bukannya berarti jam kerja di kantor tersebut melanggar UU. Ataukah tambahan tunjangan dapat dianalogikan sebagai lembur? Wah guawat dech kalau tiap hari harus lembur…..

Bukan hanya jam kerja yang melebihi waktu yang ditentukan di UU, aturan baru di kantor itu juga sangat ketat dalam memotong penghasilan pegawai. Nggak masuk seharian (kecuali opname di RS) dipotong 3%, nggak ikut upacara bendera dipotong 5%, terlambat dipotong 1%, pulang sebelum waktunya dipotong 1% juga. Nah kalau nggak mau dipotong pegawai di kantor tersebut harus sangat “militan’ menjaga absen jangan sampai kena tanda “silang”. Efeknya adalah si pegawai harus berangkat pagi buta, pulang larut malam (hanya karena takut dipotong).

Keadaan ini menimbulkan kondisi keluarga pegawai menjadi kurang sehat. Bayangkan para pagawai wanita yang punya anak kecil akan berkuranglah waktu kumpul dengan anak-anak mereka. Jam kerja 9 jam sehari akan merampas waktu berinteraksi yang berharga antara ibu dan anak. Selain itu hal itu menimbulkan moral hazard pegawai, mangapa? Kantor tersebut bukanlah kantor pelayanan melainkan kantor yang lebih mementingkan proses intelektual dan berfikir. Waktu yang panjang tidak selalu koheren dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan dari proses intelektual. So jika ada penugasan di luar yang notabene pegawai tersebut diberikan tambahan uang saku, maka sebagian akan memanfaatkan jam kerja yang longgar di waktu dinas keluar sebagai kompensasi jam kerja yang ketat di waktu normal. Dinas luar dengan demikian menjadi lahan bagai pegawai untuk membolos karena membolos pada waktu dinas luar tidak terkena potongan. Efeknya adalah pekerjaan yang sesungguhnya butuh effort yang lebih malah berkurang kualitasnya.

Dengan ini maka profesionalisme menjadi taruhannya. Jam kerja yang panjang tidak lantas membuat mutu pekerjaan menjadi meningkat. Waktu yang lama saya fikir tidak memberikan kontribusi yang sinifikan dari profesionalisme pegawai yang dituntut dalam cita-cita reformasi birokrasi. Yang lebih penting daripada jam kerja adalah insentif factor yang dapat menginduksi pegawai meningkatkan kualitas pekerjaannya secara tepat waktu dan kualitas yang tinggi.

Pendek kata sudah saatnya kantor itu menerapkan pola reward yang berbeda dengan keadaan yang ada. Jika tidak ada yang bisa didapatkan dari effort dan kualitas yang lebih tinggi maka pegawai akan bekerja apa adanya. Toh ada anekdot PGPS – Pintar Goblok Pendapatan Sama. Kondisi yang sepertinya menjadi lingkaran setan, dimana tidak ada reward yang lebih atas prestasi kerja pegawai dibanding dengan pegawai yang substandar bahkan mungkin bisa disebut offspec.

Menciptakan Budaya Organisasi

Posted August 19, 2009 by wignyokarsono4
Categories: Sekedar Review

Budaya suatu organisasi pada dasarnya dibentuk oleh suatu sistem. Sistem adalah abadi sementara figur bisa berulangkali berganti. Jika sistem telah tertanam dalam alam fikiran anggota organisasi tersebut maka budaya organisasi akan muncul.

Mengidentifikasi kultur organisasi sangatlah mudah. Tengok saja perusahaan angkutan Blue Bird. Perusahaan ini mampu menciptakan image aman dan nyaman untuk siapa saja yang menggunakan jasa perusahaan ini. Sapaan selamat siang, pagi, sore, apa khabar serta hendak kemana (tentunya dengan bahasa yang sopan dan ramah) telah menjadi budaya para pengemudi Blue Bird. kemanapun kita pergi blue bird selalu siap mengantar. Faktor inilah yang tidak dimiliki oleh perusahaan taksi yang lain.

Apakah budaya seperti blue bird tadi ada dengan sendirinya? tentu saja tidak. Budaya yang berorientasi image tersebut pasti diciptakan dan dijaga oleh sistem. Sistem dapat mendrive orang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kaidah sistem yang berlaku di organisasi tersebut. Beberapa contoh yang mudah dilakukan adalah:

1. Pemberian reward dan punishment untuk siapa yang berprestasi dan yang tidak berprestasi. Reward dan punishment harus tegas dan tidak mengenal batas waktu.
2. Konsistensi sikap dari leader dari organisasi tersebut. Konsistensi ini membuat aturan menjadi lebih jelas dan bawahan memiliki petunjuk untuk bertindak.
3. Whistle blowing atau para “penggonggong” ini sangat berperan untuk menjaga jangan sampai ada anggota organisasi yang menyimpang dari kaidah etika dan sistem yang telah disepakati bersama. Jika ada whistle Blower secara internal maka tidak akan ada yang berani berbuat di luar batas toleransi.
4. Rules jelas dan telah diketahui oleh semua orang dalam organisasi. Kejelasan ini penting karena jika tidak maka semua orang akan mencari-cari sendiri dengan cara-cara mereka sendiri. Contoh, jika tidak ada standarisasi yang jelas mengenai penilaian kualitas pekerja dalam organisasi maka orang akan melakukan cara-cara yang tidak etis untuk naik posisi.
5. Kriteria tentang prestasi harus dirumuskan dengan jelas. Prestasi juga harus terukur dan bisa dinilai secara vertikal maupun horizontal.
6. Harus ada history yang selalu mengingatkan akan apa yang pernah terjadi sehingga setiap orang akan selalu dalam alam kesadaran. History atau catatan sangat mutlak diperlukan agar permisifisme dapat ditekan dan orang akan selalu ingat supaya tidak mengulang lagi kesalahan yang telah dilakukan.

Demikian, mudah-mudahan kultur organisasi yang baik dan etis dapat dijalankan oleh setiap pekerja maupun anggota dalam organisasi kita.

Bunga di tumpukan sampah

Posted August 18, 2009 by wignyokarsono4
Categories: Uncategorized

Sampah dan bunga adalah suatu hal yang berbeda. Pada umumnya orang akan mengasosiasikan sesuatu yang tidak berguna, buruk, dan bau sebagai sampah. Namun, bunga memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan sampah. Bunga adalah simbol keindahan, simbol kesegaran dan simbol masa depan. Pendeknya sesuatu yang baik dapat dikaitkan dengan bunga.

Jika dua hal tersebut sangat berbeda maka pertanyaannya adalah: Apakah bunga dapat tumbuh di tumpukan sampah? jawabnya tentu beragam namun saya memilih jawaban “iya”.

Tumpukan sampah, seburuk-buruknya pada dasarnnya adalah nutrisi bagi perkembangan segala jenis tetumbuhan. Tumpukan sampah sangat kaya akan nutrisi. Namun demikian tentu saja Tumbuhan tersebut harus pandai memilah-milah zat nutrisi, jika tidak maka racun yang akan terserap oleh tumbuhan tersebut.

Nah di lingkungan kerjapun keadaannyaa dapat dianalogikan sama.  Pada setiap lingkungan kerja tentu saja ada faktor impurities seperti yang dicontohkan sebagai sampah tadi.  Lingkungan kerja yang yang sangat buruk dapat diibaratkan sebagai tumpukan sampah tadi. Sadar atau tidak, lingkungan yang buruk akan berpengaruh terhadap cara kita bekerja. Lingkungan kerja membuat kita bisa menjadi hebat bisa pula menjadikan kita seperti sampah.

Menjadi bunga adalah suatu pilihan. Walaupun hidup dari tumpukan sampah, jika sejatinya kita ingin menjadi bunga yang mekar harum bersemi tentu saja bisa.  Faktor penting yang harus dijaga adalah ” selektif”.  Selektif dalam mengambil nutrisi dan membuang faktor-faktor yang menjadi racun. Menjadi selektif tentu saja harus diikuti dengan “memilih”.  Memilih hal yang baik, meninggalkan hal yang buruk.

Dengan melakukan hal di atas maka seandainya kita bunga, maka kita akan berwarna merah menyala di tumpukan sampah.

Tidak ada kata sampah

Posted July 6, 2009 by wignyokarsono4
Categories: Sekedar Review

Kata-kata yang kita ucapkan maupun yang kita  tuliskan pada hakekatnya bukanlah sampah. Mengapa bukan sampah? karena kata-kata itu akan selalu berguna, walau tidak untuk sekarang dapat juga didaur ulang untuk masa yang akan datang. Setiap kata yang terucap akan terekam dalam memori kita maupun memori orang lain yang mendengarnya. Setiap kata dalam tulisan kita akan selalu diingat oleh siapa yang membacanya.  

Jika tidak ada kata yang sampah maka mari kita coba untuk mendokumensikannya ke dalam tulisan. Jika kata-kata yang terucap akan mudah dilupakan maka jika ditampilkan dalam tulisan akan selalu dapat diulang. Kata-kata yang dituliskan pada hakekatnya memiliki beberapa manfaat antara lain:

1. Sebagai alat yang dapat membuat kita konsisten. Tulisan adalah cerminan konsep berfikir kita. Apappun yang kita tuliskan walaupun beberapa berupa kutipan ataupun bersumber dari tulisan orang lain pada hakekatnya adalah padangan kita tentang suatu hal. Jika dikaitkan dengan relevansi sekarang maka kita akan dapat menarik garis ke belakang tentang konsep yang kita yakini benar.

2. Melatih diri untuk berfikir secara konstruktif.  Banyak orang yang bisa berucap tentang banyak hal. namun sedikit yang dapat menyampaikannya dengan terstruktur. Tulisan adalah media yang dapat mengajak untuk berfikir secara konstruktif  dengan kaidah-kaidah tertentu yang teratur (pola EYD, deduktif, daftar pustaka, kalimat efektif dsb).

3. Melatih diri untuk menjadi analis. Analis adalah orang yang bisa menghubungkan suatu hal dengan fakta lain yang bisa sama yang akhirnya menjadi analogi dan bisa juga berbeda yang dapat dijadikans ebagai suatu perbandingan. Analisa dapat juga dikaitkan dengan perbandingan antar masa dengan melihat fakta sekarang dengan apa yang sebelumnya pernah dinyatakan seseorang atau pernah terjadi.

4. Mengungkapkan melalui media tulisan membuat orang dapat berfikir secara trategis. Pola strategis ini berguna untuk berdialog dan merencanakan sesuatu. Berfikir strategis akan lebih mudah dilakukan  jika kita membuat peta kondisi dan fakta lalu menguraikannya untuk dicarikan jalan pemecahannya.

Karena manfaatnya banyak maka pendek kata tulisan akan lebih berdaya guna untuk membuat kita menjadi lebih berdaya guna. Satu hal yang perlu menjadi point kita adalah membuat diri kita menjadi lebih berkualitas dalam cara berfikir sehcara logis dan ilmiah.

Pak EL yang lucu

Posted July 6, 2009 by wignyokarsono4
Categories: realitas sosial

Pak El, sosok yang cukup dikenal di lingkungan tempat aku bekerja, khususnya di antara rekan-rekan satu jemputan. Tingkah polahnya lucu banget dech….. maksud hati beliau sie tidak melucu namun di mata aku dan rekan-rekan yang lain tingkahnya itu membuat aku selalu minimal tersenyum.

Pak El adalah salah satu pegawai yang cukup senior di tempatku bekerja. Orang-orang sangat hormat kepada beliau karena beliau ini termasuk pegawai yang cukup bagus kinerjanya. Sampai suatu ketika penyakit datang membuat penampilannya kini berbeda jauh dengan sebelumnya. Dulu penampilan Pak El cukup berwibawa. Setelan jas yang rapi selalu dikenakan beliau jikala bekerja. Sekarang penampilan Pak El mirip Einstein dengan rambutnya yang agak berombak acak acakan dan dahi yang lumayan lebar. Siapapun yang bersua dengan beliau pasti tahu bahwa beliau ini termasuk pegawai yang cukup pintar.

Walaupun sudah terbilang senior, dibanding pegawai yang masih muda, beliau sangat antusias untuk datang lebih pagi.  Pak El selalu on time untuk menunggu bus jemputan pada pagi hari.  On time naik bus jemputan kantor artinya on time pula datang di kantor. Nah kegiatan pagi seperti ini yang susah untuk ditiru, termasuk diriku. Bukan hanya di pagi hari, sore hari selepas bubaran kantor Pak El juga selalu on time naik bus jemputan.

Aku baru sadar betapa perhatian beliau terhadap sesama sangatlah besar. Tiap kali pada saat orang-orang tidur terlelap, Pak El selalu mengingatkan untuk bangun saat bus sudah hampir sampai ke tujuan. Pak El juga selalu bertanya “kemana aja?” kalau aku nggak naik bus jemputan.

Walau baik, Pak El ini sering digodain temen-teman. Kalau pas lagi telepon keluarganya teman-teman selalu ketawa buanget…. habis kata-katanya susah dimengerti. Coba aja teman apa maksud dari kata-kata ini %^%$$(*%&()(*&^(*&(*&  nggak tahu khan… he he he begitulah kalau pak El bicara…….. Pernah suatu saat lawan main canda pak El yaitu Pak RP  berlagak tidur sambil ngorok namun saat pak El hendak membangunkannya Pak RP malah ngagetin Pak El… untung saja Pak El nggak jatu terjengkang he he he…

Touching the Land of Jakarta

Posted February 6, 2009 by wignyokarsono4
Categories: realitas sosial

Dec 10, 2007


Berada di ketinggian teluk ke Jakarta , melepaskan pandangan ke jendela pesawat. Yang kutemui kabut tipis yang menggelayuti jakarta. Aku tak tahu apakah itu kabut karena asap polusi ataukah karena asap dari awan yang akan mendatangkan hujan di bulan Desember. Entah aku tak tahu, namun yang aku temui dulu juga keadaannya juga seperti itu. Di waktu-waktu lalu ketika pesawat berada di ketinggian dermaga Tanjung Priok, keadaannya juga seperti itu, Jakarta diselimuti kabut. Gedung-gedung tinggi yang seharusnya dapat dilihat di ketinggian, tidak juga tampak di pandangan mata.


Pagi itu, Pesawat SQ no 952 telah menginjakkan rodanya di landasan. Bunyi berderak dan goncangan saat-saat pesawat mendarat membuatku lega. Ketika aku lepas dari gerbang barata segera udara panas Jakarta menyapa tubuhku yang kelelahan setelah berada di pesawat kurang lebih 9 jam lamanya. Udara kota sama seperti dulu. Panas, lembab dan lengket. Hari itu adalah pagi tanggal 8 Desember 2007. Itu adalah tanggal kedatanganku kembali di kota Jakarta setelah dua tahun lamanya menghabiskan waktu belajar di Brisbane Australia.


Koridor menuju meja imigrasi kelam sekali. Lantai masih seperti dulu, dibalut dengan keramik warna merah tua. Di beberapa bagian terutama di tembok aku lihat warna cat-nya sudah mulai pudar. Dinding –dinding itu sudah tampak usang. Bukannya aku menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun hanya sekedar kegundahan akan pelayanan petugas di bandara. Para petugas berpakaian hijau-hijau itu enak sekali berbincang seolah tidak memperdulikan ketika aku menghampiri mereka untuk meminta form hijau kedatangan. Buatku ini adalah mala petaka pelayanan yang segera menjadi bencana di masa depan.


Bayangkan jika model atau cara melayani mereka seperti ini, siapa yang tidak akan takjub dalam pengertian negatif ketika kedatangan para penumpang dicuekin sama petugas bandara. Tidak ada afeksi dan atentif, kesan yang muncul dari suasana dengan petugas adalah “tidak nyaman”. Aku bertanya dalam hati, apakah tidak ada ya mengajari mereka cara meleyani penumpang (customer) dengan baik.

Kembali ke bagian imigrasi. Segera setelah itu, para penumpang berderet di depan meja imigrasi. Mereka tunjukkan pasport dan beberapa dokumen lain sementara sanak saudara mereka menunggu di balik pagar pengunjung. Meja imigrasi itu sudah mulai usang. Lampu penerangan si koridor menuju meja imigrasi sangat gelap. Tidak tampak keceriaan, sampai akhirnya aku sampai di saalah satu meja, dan kusapa petugas tersebut dengan sapaan apa khabar mas, dan langsung terjalin pembicaraan cukup akrab, karena ternyata petugas tersebut kenal dengan salah satu teman yang bertugas di kantor imigrasi.


Setelah barang aku jemput segera saja terlihat beberapa wajah yang cukup akrab menantikan kedatangaku……..