Apa yang ada di fikiran para arsitek yang merancang desain halte busway di Jakarta? Inspirasi macam apa yang ada di benak mereka? Apakah mereka melihat Kota Jakarta dari kacamata warga yang takut akan tingginya angka kriminalitas sehingga desain halte mirip jeruji penjara.
Kalau sobat mau mencermati desain halte busway, lihat besi-besi yang banyak banget, tak ubahnya mirip jeruji penjara. Besi-besi silinder dengan berbagai ukuran itu juga mengingatkan kita bentuk jembatan penyeberangan tempo doeloe hanya dengan sedikit modifikasi.
Kritik saya mengenai halte busway Jakarta berkenaan dengan:
1. masalah estetika: bentuk halte yang didominasi besi-besi kolom memberi kesan padat dan memberi kesan jalan yang tertutup oleh halte tersebut. Desain ini merusak pemandangan kota. Lihat saja perbandingan halte busway dengan gedung-gedung kaca di kanan kiri jalan protokol, sebut saja misalnya jalan sudirman-thamrin, pendeknya bentuk halte ini tidak selaras dengan indahnya gedung-gedung kaca di kanan kirinya.. (Nggak matching…)
2. Penggunaan ruang: Koridor jalan kaki menuju busway juga sangat panjang dan bebelit-belit, memang sih desain koridor yang panjang itu tangga mengurangi beban naik turun tangga, tetapi apakah mereka pernah berfikir kalau desain seperti itu juga boros ruangan.
3. Image: desain semacam itu jauh dari kesan modern. Trend arsitektur modern sekarang ini bercorak minimalis, dengan meninggalkan kesan berat dan besar tanpa mengurangi kekuatan konstruksi. Desain halte ini tak ubahnya desain tempo doeloe.
4. kenyamanan: desain seperti itu memberi kesan kurang nyaman di mata pengguna busway. memang sih kalau dibanding halte angkutan umum biasa, halte busway Jakarta pastinya lebih baik, namun jika kita mencoba menengok halte bus di kota lain, semisal di Brisbane, jelas kalah jauh. Satu hal lagi mengenai atap kanopi yang bentuknya seolah-olah ala kadarnya, juga lantai halte yang mirip lantai bus metromini kurang apik.
Sebagai perbandingan antara halte busway di Brisbane dan di Jakarta coba lihat pics di berikut ini:
Halte busway di Brisbane, halte ini khusus untuk busway, di beberapa koridor misalnya di east Brisbane dan yang ke arah Mater Hospital, jalur busway tidak menyatu dengan jalan umum, setiap halte diolengkapi dengan peta dan jalur dan jadwal pemberangkatan bis. Bus datang tepat waktu dan yang enaknya lagi, tiket bus terintegrasi dengan angkutan umum yang lain.:Pics by Dale.N at flickr

koridor jembatan penyeberangan busway di Brisbane, fasilitas seperti ini sangat nyaman, lampu penerangannya cukup bagus, dan di kanan kirinya tertutup kaca. petunjuknya juga jelas dan bisa dibaca dengan mudah. pics by:Dalziel_86 at flickr
Lift jembatan penyeberangan Busway Brisbane ini membantu sekali, kalau sedang lelah setelah jalan, lift membantu kita naik ke atas jembatan penyeberangan. Fasilitas ini juga nyaman bagi para disable. pics by:Trent_Thomson at Flickr
Halte busway Jakarta mirip sangkar besi, kolom-kolom besi sangat mendominasi, lihat jug lantainya dari plat besi yang mirip lantai metromini :pics by Basibangetat flickr
Halte bus jakarta, besi-besi kolom itu menutup ruangan dan memberi kesan ramai dan sempit: by Greenboxhouse at flickr




Jan 07, 2008 @ 12:51:01
Numpang comment bos…
Soal arsitektur halte mungkin memang belum sempurna. Tapi saya pikir argumen anda kurang tepat. Apalagi jika membandingkan dg kota brisbane. Selain ada beda budaya juga soal duit boss… Design yg ada skrg spertinya ingin menekan biaya (ato biar sisanya banyak buat dibagi-bagi???)
Daripada bikin halte yg bagus (ato mewah) mending buat nambah jumlah armada yg masih keteteran. Lagipula jangan-jangan biaya tambahan bakal dibebankan ke penumpang. Skarang aja tarifnya udah keliwat tinggi buat the poor.
Soal bentuk yg memanjang saya kira untuk mengakomodir para lansia shingga ga terlalu tajam menanjak dan turunnya. Juga masih memungkinkan kursi roda menaikinya. Soalnya kalo mesti pasang lif saya pikir sulit banget. Biaya pengadaan dan perawatan jelas ga sedikit. Orang kita kan dikenal bisa bikin ga bisa merawat…tul gak.
Sep 16, 2008 @ 04:29:50
sebelum nulis smua kritik diatas apakah anda sudah memikirkan semua aspek?
anda tau seberapa besar tingkat education masyarakat jakarta pada umumnya?…khususnya pengguna fasilitas busway…dan anda sudah menghitung betapa destructive dan mental maling masyarakat indo?
pembatas jalan saja digergaji pagi2 subuh buat di jual per kg… dan anda tau betapa susahnya mendidik mereka buat menyebrang di zebra cross atau fasilitas yg disediakan…jangan2 anda juga pernah nyebrang sembarangan..
Jan 15, 2009 @ 09:25:47
he he trims ya atas comment-nya
mm sie kalo mental kita semua masih kayak gitu nggak akan pernah ada fasilitas umum yang awet….
Feb 04, 2009 @ 07:17:42
http://igorpanggabean.files.wordpress.com/2007/06/lbuslaunch2wy.jpg
alesan kenapa jalur penumpangnya dibuat panjang. kalo lagi jam pulang kantor bisa gila-gilaan tuuuuh….
Feb 26, 2009 @ 01:52:31
saya malah salut dengan desain halteu busway. rancangan dan material malah benar2 mencerminkan minimalisme.. atau anda mungkin memang tidak tahu konsep minimalis..??
Mar 17, 2009 @ 01:19:38
mas nek meh kritik bangunan ki sinau arsitektur sek…
kritikmu ki elek bgt…
arsitektur modern ki ora mung minimalis!!
sianu sik kana lagi kritik!!
Mar 28, 2011 @ 03:30:16
kalo saya malah bingung. fotonya kan jembatan, eh… keterangan fotonya kok halte busway (foto ke dua dari bawah, dan foto terakhir). halte kok jembatan, sih?
eh, saya salah, ding, mestinya saya tulis halte bus TransJakarta. Busway mah nama jalurnya.
Untung, saya nggak ninjau dari masalah mental bangsa, atau arsitektur. saya cuma ngeliat kesalahan kecil yang tampak bodoh dalam penulisan.
Apr 06, 2011 @ 00:53:07
Wah kommen rekan-rekan saya tunggu lagi, kalao ada yang agak negatif monggo silahken he he he
Konsep minimalis yang diterapkan di halte Trans Jakarta (Busway for short) memang betul betul minimalis, minimalis dari sisi desain, kualitas material dan perawatan. So lengkap sudah. Mengenai foto yang ditampilkan berupa jembatan bukannya halte iya memang khilaf dari saya, alasannya karena jembatan dan halte merupakan satu kesatuan desain yang tidak dipisahkan. Konsep itu yang saya lihat di beberapa kota di Australia yang pernah saya kunjungi (Melbourne Sydney dan Perth)
Secara konsep kita perlu jujur bahwa apa yang kita miliki perlu ditingkatkan agar setara dengan yang dimiliki bangsa lainnya. Kita belum bicara mengenai kualitas service, yang kita bicarakan baru sebatas kualitas bangunan aja…..
Dec 07, 2011 @ 13:45:46
Krakter manusia hanya bisa mengkritik.
Penulis nampaknya lebih jago dari arsitek halte transJakarta…
“Jadilah Warga Negara (INDONESIA) yang baik” saja sudah cukup membantu.
Kalau memang Kurang Nyaman/ bahkan Gak trima sama hasil karya arsitektur halte TransJakarta,, buat & konsep sendiri…
) atau bahkan jangan hanya ngunjungi Australia dll. Tinggal saja disana (fasilitas sesuai harapan Anda)..
Jan 23, 2012 @ 12:42:50
Bukannya begitu mas or mbak intanzsahid. Untuk menjadi lebih baik sudah sepantasnya membuat benchmarking, kalo nggak maka upaya kita untuk membuat Jakarta menjadi kota yang attraktif dan menjadi magnet buat tourism akan menjadi sekadar mimpi.