Apa relasi antara budaya dengan hukum positif. Menurut saya pribadi hukum yang berlaku untuk mengatur ketertiban masyarakat adalah visualisasi dari suatu kebudayaan.

Namun masalah timbul ketika hukum tidak mencerminkan kebudayaan dari masyarakat yang diatur oleh hukum tersebut. Dengan demikian hukum selanjutnya mencerminkan visualisasi semu dari budaya masyarakat tersebut.

Inilah yang terjadi di masyarakat kita. Kita masih melihat masyarakat kita dan mungkin kita sendiri yang cenderung tidak tertib dan suka melanggar hukum. Jika kita melihat realitas masyarakat yang sangat jauh dari cita-cita hukum itu, pasti ada yang salah dari budaya kita.

Dalam bahasa awam, budaya itu adalah pandangan filosofis mengenai apa yang dipercayai dan diyakini sebagai sesuatu yang baik dan harus dijaga. Jika kita selama ini mendapati type kebudayaan yang penuh dengan kepura-puraan, kebudayaan yang tidak menghormati hukum, kebudayaan yang selalu ingin untung dan berorientasi kepada materi maka harus kita akui kebudayaan kita tidak baik.

Perlu memang kita melakukan reorientasi budaya ini dengan merubah paradigma (cara berfikir kita). Dan ada baiknya jika kita mencoba untuk berorientasi kepada hukum dan prosedur yang telah ada.

Khan …. hukum tidak diciptakan untuk dilanggar. Hukum diciptakan manusia untuk memperbaiki kualitas hidup manusia sebagai makhluk sosial (karena mungkin, hukum tidak perlu ada jika manusia di dunia ini hanya satu).

Berorietasi kepada peraturan ibaratnya menata ulang lagi sirkuit robot yang mengatur proses berfikirnya. Ini hanya gambaran yang ekstrem karena robot itu gampang sekali diprogram, hingga dia akan selalu taat pada prosedur yang berlaku bagi dia.

Manusia tentu bukan robot, karena manusia memiliki kreatifitas dan diskresi yang lebih luas dalam menentukan jalan hidupnya. Dan memang perlu waktu yang panjang untuk mengubah budaya masyarakat kita, karena budaya itu telah lama berada dalam sirkuit otak manusia.

Sekelumit point yang mungkin perlu untuk membangun budaya hukum atau membuat hukum lebih bertenaga (empowerment hukum) di masyarakat antara lain:
1. Melihat hukum sebagai causa (penyebab) dengan ini maka hukum diciptakan untuk mengubah masyarakat untuk menjadi lebih baik. Dengan demikian hukum akan dilihat sebagai suatu mekanisme untuk melakukan perubahan.

2. Melihat hukum positif dalam perpektif agama sebagai sesuatu yang baik dan harus ditaati. Dengan ini kita tidak menganggap hukum yang berlaku di masyarakat semata-mata ciptaan manusia yang selalu salah, namun melihat bahwa hukum itu adalah subordinasi dari hukum Tuhan yang diciptakan sebagai perpanjangan hukum Tuhan yang saling terkait.

3. Menganggap bahwa jika kita mencederai hukum maka kita mencederai manusia lain, jika kita mencederai manusia lain maka kita juga mencederai Tuhan. (kita khan diciptakan untuk saling tolong menolong dan berbaik hati khan kepada sesama manusia?

4. Melihat diri kita pribadi sebagai cermin dari aparat hukum (bukan berarti dengan demikian lalu main hakim sendiri) tetapi dengan berfikir cara-cara aparat kita akan selalu berusaha untuk menjadi contoh keteladanan. Sebagai aparat hukum tentunya kita akan aware bahwa kita harus selalu berperilaku dalam koridor ketentuan hukum.