Ini adalah sekelumit cerita mengenai kisah para students di UQ yang mengisi waktu senggang-nya dengan bekerja mengumpulkan dollar. Cerita ini diungkapkan dengan gaya bahasa monolog, cerita berupa refleksi ini juga ditampilkan di UQISA NEWS:

Balada ParaPengais Dollar

Apakah benar pameo hujan dollar itu ya? begitulah pertanyaanku dalam hati sewaktu masih berada di padang gembala dekat kampungku. Kudengar juga cerita bekas penggembala yang telah sukses mendulang uang Real di Arab Saudi, Ringgit di Malaysia, Dollar, Yen atau entah mata uang lain di negeri orang. Berangan-angan sambil merenung di padang ilalang menggembalakan kerbau, aku bertanya kembali akankah aku bisa seperti mereka.

Kali pertama menjejakkan kaki di tanah Australia yang gersang ini, aku belum sempat berpikir untuk menjadi pengais dollar. Tujuanku adalah untuk menuntut ilmu, dan tekatku untuk membawanya. Akan kukatakan pada orang di tanah air ada sesuatu yang baru dan marilah ikut caraku.

Waktu berlalu sudah, suka dan duka datang silih berganti, sampai akhirnya tiba kuputuskan untuk menjalani kehidupan lain dari seorang pelajar tulen menjadi seorang pelajar dan pekerja. Berawalah kehidupanku sebagai pasukan pembersih (cleaning service) di Brisbane. Ketika malam menjelang, ketika mata orang-orang sudah mulai layu digelayuti oleh rasa kantuk, aku sudah siap berangkat kerja sambil menyusuri jalan lapang dan menghirup udara dingin tak berpolusi. Kupakai baju kebesaranku, memang benar kebesaran karena ukurannya untuk orang bule. Sampai di tempat, dengan penuh semangat kusambar segera mesin vacuum cleaning dan peralatan pembersih WC. Kadang aku menghela nafas sambil berkata “Hi-hi kotor sekali tempat ini.” Tak tega rasanya melakukan ini semua, tetapi semua menjadi sirna karena demi istri dan anak di rumah.

Hanya suara deru vakum serta celoteh sesama pekerja yang aku dengar. Sayup-sayup kudengar kata-kata supervisor yang sampai sekarang masih tidak aku mengerti jelas. Ucapannya hanya terdengar seperti orang berguman. Ketika rasa kantuk datang kuhitung kembali beberapa meter lantai yang sudah kubersihkan dan beberapa ruangan yang telah ku rambah. Sekejap kunikmati sejuknya air mineral dan hangatnya roti panggang bekalku, wuih serasa nikmat sekali di kerongkongan. Selesai dengan pekerjaan kulepaskan penat di kasur sebelum memulai lagi untuk membuka buku pelajaranku di pagi hari. Aku hanya menunggu beberapa pagi lagi untuk dapat menimang gemilar dollar dalam rekeningku.

Menjadi pengantar brosur iklan (junkmailer) juga menjadi bagian ceritaku. Di sore hari, di sela-sela sesi belajar yang padat, kulipat lembar demi lembar katalog. Kuhitung sen demi sen dollar yang akan aku dapat. Walau telah berpeluh lelah, kuhitung kembali berapa lagi yang harus aku lipat. Setiap tetes keringat musim panas berharga dua sen. Memang sangat kecil tetapi setelah sekian menit akan berubah menjadi koin emas berangka 2, dan angka-angka itu terus bertambah dengan deretan nol di belakangnya seiring perjalanan waktu.


Sore hari berikutnya, menjelang anak-anak bercanda riang, kususuri jalan dan kumasukkan satu demi satu lipatan katalog ke kotak pos tanpa tulisan “no junkmail.’. Tidak mudah menjadi junkmailer, kadang aku harus berlari karena ada gonggongan anjing.
Kadang aku gemas mendengar kata “No Thank You” dan berderet-deret rumah bertuliskan no junk mail. Kadang pula aku harus berebut kotak pos dengan anak dari broker lain. Tetapi ada hal yang selalu aku rindukan, setiap dua pekan si broker berambut keriting akan mengirim dollar untukku, asyik.

Menjadi pelayan toko juga kulakukan. Sering aku harus berucap“How are You” dan “How are you going mate” di barisan depan toko yang lumayan besar. Senyum harus dipasang ramah dan rambut harus tersisir rapih. Kata-kata lain yang terucap dari bibirku Thank you” ketika para pembeli berlalu di hadapanku. Mesin dengan layar yang dominan dengan angka dan scan dengan cahaya biru selalu menjadi teman hari-hariku.

Dan terakhir tibalah perjalananku untuk menjadi sang pengais dolar di sebuah restoran. Berpanas-panas dengan kompor dan bergelut dengan waktu yang seakan sangat cepat berlalu. Mengiris lembaran hijau sayuran, menggoreng bahan-bahan mentah adalah salah satu rutinitas pekerjaan. Sementara itu di barisan depan, sang penyalur menu mulai beraksi mempersilakan tamu untuk menikmati hasil karya kita di barisan belakang yang kadang bercampur peluh.

Demikian kisah pengais dollar di Brisbane. Di sela-sela buku-buku pelajaran masih tersimpan waktu yang berharga untuk menjemput dollar di negeri orang, meskipun kadang berpeluh ria.