Today is 14 of May 2007. This is just my first time writing on this blog. It has been a couple of months, since Denny Darmawan (my best mate here in Brisbane, si psicaholic atawa fisikawan ) told me about how wonderful it was to write in wordpress. Sitti Maesuri (UQISA President) also urged me to write, however due to many a bulk of assignment, quizz, and exams, I alway delay-and delay until I found this day. This day is the starting point to begin the virtual journey.

Pertama yang akan saya tulis adalah belajar hukum di Australia. Sejak kenal pertama kali dengan course ini (Legal and corporate law) tidak langsung jatuh cinta malahan kesaan pertama “tidak suka”. Betapa tidak ketika datang di ruang kuliah untuk pertama kali, saya langsung dihujani dengan jargon-jargon law yang asing di telinga, seperti misalnya ratio decidedi, ejusdem generis, noscitur a sociis, magistrate, etc. Kata-kata istu begitu susah diucapkan, apalagi dimengerti, tidak seperti pisang goreng yang mudah ditelan. Ini kayaknya malahan tersangkut di tenggorokan.

Untuk mata kuliah legal (Legal Environment of Business) ada 3 kelas paralel dalam satu minggu yang dibawakan oleh dua lecturer. Keduanya berasal dari India, Mr Balu Rao (koordinator dan Dr Suppiah Murugesen. Keduanya sangat piawai dalam membawakan materi. Seperti kebanyakan orang India, mereka tidak memiliki masalah sedikitpun dalam bahasa Inggris. Ini sangat berbeda dengan lecturer dari China daratan atau dari Indonesia.

Setelah mengikuti kuliah mereka dalam beberapa kesempatan, masih saja ada hal-hal yang mengganggu. Misalnya: Pak Balu ketika menerangkan materi nggak pernah pakai slide, nggak pernah nulis di papan tulis. Kata-kata beliau juga sangat kental nuansa hukumnya sehingga agak susah dipahami oleh orang awam yang baru pertama kali belajar hukum. Pak Balu juga kadang-kadang bertanya ke mahasiswa yang kadang-kadang susah dijawab, ini dia yang paling Bejo takutkan, kalau kuliah nggak prior reading wah bisa runyam jadinya. Komunikasi dengan mahasiswa juga terkesan ala kadarnya karena Pak Balu jarang mengirim mahasiswanya emai, kalaupun ditanya lewat email, jawabannya sangat singkat. Tetepi beliau ini sungguh sangat brilian, tercermin dari kalimat beliau yang tertata dengan rapi dan sangat bermutu. Sayang si Bejo merasa masih lemah dalam memahami kata-kata beliau.

Lain ceritanya dengan pak Murugesen, beliau ini typenya agak santai, namun penjelasannya sangat enak. Ibarat seperti menggigit kerupuk dan langsung menelannya. Cuman sayangnya pak Murugesen tidak berkomunikasi secara intens dengan pak Balu yang menjadi koordinator.

Tetapi suka-tidak suka ya harus suka. Konsekuensi dari membenci mata kuliah ini akan membawa efek yang negatif bagi perkembangan studi. Bejo jadi ingat pepatah “The power of mind lies on motivation”. Artinya walaupun nggak enak harus dimakan, kalau tidak dimakan akan mati.

Tulisan ini mencerminkan si “Bejo dari kampung” alias orang awam yang mulai belajar hukumnya orang bule. Bagaimana tidak, hukum negeri sendiri aja nggak tahu kok ini malah belajar hukum negara orang. tapi ya nggak apa-apa, yang namanya belajar khan tidak ada batasnya. Kita juga nggak tahu, kalau ternyata apa yang kita anggap sepela dan tidak berguna menjadi berguna suatu saat di masa depan. Dulu sewaktu di kampung, si Bejo sering ditangkap polisi bukan karena nakal atau urakan namun memang karena buta hukum. Sudah beberapa kali ditilang sampai-sampai pak polisi bosan sama wajahnya. Mulai dari tidak bawa helm, tidak bawa STNK, tidak bawa SIM, melanggar rambu dsb. Itu semua karena Bejo tak tahu hukum.

Baiklah kita mulai saja, Bejo mulai mencari apa sih manfaatnya belajar legal environment of business. Ini dia kata Pak Balu,

This course is very important for those who are dealing with business, why? As a manager of business enterprise, to know legal and law means to understand that the life of business ,apart from its financial and operational performance, is determined by legal aspect. Company can instantly go bankrupt because it fails to fulfill the law requirement. That is why we should know corporation law, common law, environmental protection law, copyright law, trade practices act and so on.

Artinya: kurang lebih begini: belajar hukum itu perlu biar nanti kalau Bejo sudah menjadi manajer tahu kerjanya para lawyer yang bekerja untuk perusahaan. Dengan melek hukum si Bejo dapat mengurangi risiko kepailitan akibat tidak comply dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Pendek kata bermain safe……….. Suatu ketika Bejo yang sudah gendut karena sudah menjadi manajer tidak akan tahu nasibnya kelak. Menjadi tetap kaya atau jatuh miskin akibat dari aktivitas bisnisnya. Legal atau tidak, semata-mata ditentukan oleh hukum positif yang berlaku di negara kita, bukan karena keadilan moral yang mengenal belas kasih.

Belajar Legal environment tidak akan membuat Bejo dari kampung menjadi lawyer atau solicitor yang handal. Tujuan utamanya terletak pada konsep berfikir si Bejo yang buta hukum untuk menjadi taktis dalam memahami legal issue, mengidentifikasi fakta-fakta yang ada, mencari kaidah hukum yang relevan, dan terakhir berdasarkan itu semua si Bejo bisa mencari judgment apakah tindakannya legal atau tidak.

Mata kuliah ini diperuntukkan bagi mahasiswa business seperti Bejo dari kampung yang tidak punya latar belakang hukum, sehingga tujuan di atas sangatlah relevan dengan silabus yang dibawakan.

Buku yang dipakai adalah: The Legal Environment of Business (Paul O’ Shea), Commercial Law in Principle (Andy Gibson), Business Law (Andrew Gibson, Douglas Fraser), Business Law of Australia (Vermeesch and Lindgreen), Australian Commercial Law (Clive Turner.

Adapun yang Bejo pelajari antara lain: Courts structure and Litigation, Statutory Interpretation, Law of Contract, Torts, Restrictive trade practices, Consumer protection, Insurance law dan terakhir Business Ethics.