Di kampung sana di dekat sungai bengawan solo, Bejo kecil tinggal di rumah hanya bersama kakak perempuan saja, waktu itu si Bejo masih sekolah di SD kampung berlabel Lengking 2. Nenek si Bejo satu satunya adalah Mbah Nuno, yang lain semuanya telah meninggal jauh sebelum si Bejo lahir.

Kalau di jawa nama panggilan untuk nenek-nenek biasanya  ngikut ke kakek. Karena Mbah kakung namanya mbah Nuno maka mbah putri juga dipanggil mbah nuno putri. Mbah Nuno kakung sudah meninggal puluhan tahun lampau. Mbah Nuno  putri atau sebut saja Mbah Nuno tinggal sendiri di rumah “gedhek” miliknya sendiri. Rumah Bejo tidak jauh dari rumah mbah Nuno. Masa kecil bejo tidak dapat dipisahkan dari peranan mbah Nuno. Karen sejak ditinggal merantau sama ortunya, yang berperan mengawasi si Bejo yaitu Mbah Nuno.

Bercerita tentang mbah Nuno, seperti kebanyakan layaknya nenek-nenek di kampung yang sangat tegar dan kuat di masa tuanya. Walaupun tinggal sendirian saja beliau tidak mau diam, tetap mandiri dan memiliki semangat kerja. Beliau berperan dalam memelihara cucu-cucunya yang kebanyakan ditinggal merantau orang tuanya. Termasuk si Bejo yang ditinggal simbok dan bapaknya merantau ke celebes.

Rumah beliau:

Rumah mbah Nuno ada dua, semuanya terbuat dari gedhek (anyaman bambu) tidak dicat, bertiang bambu dan nggak punya kamar. Tidak ada sekat di rumah itu, dapur , ruangan tengah dan ruangan tempat tidur menjadi satu. Ada ruang belakang yang disebut sentong, untuk menyimpan gabah dan beras. Lantai dari tanah, tempat tidur satu.

Tidak ada jendela di rumah, yang ada hanyalah pintu depan yang disebut “gebyok”. Walaupun jelek tetapi terbuat dari kayu jati. Cahaya matahari masuk menerangi rumah melalui genting beberapa genting kaca. Tiapa tahun mbah Nuno selalu mempekerjakan orang untuk mengganti gedhek rumahnya yang selalu dimakan rayap.

Rumah Mbah Nuno menghadap ke selatan, kata orang Jawa ya begitu harus menghadap ke segara kidul, entah apa maknanya si Bejo tidaak tahu. Di Depan rumah sangat gelap oleh rerimbunan pohon bambu. Halaman di depan rumah juga selalu kotor oleh daun bambu dan selalu becek kalau hujan. Tidak jauh dari rumah ada sumur yang memakai timba dari bambu. bentuknya seperti pompa angguk pertamina. Di bagian dinding dalam sumur ditumbuhi keladi yang semakin lama semakin rimbun.

Peralatan rumah sangat sederhana. maklum namanya wong ndeso yang belum kenal teknologi, mbah Nuno hidup sederhana apa adanya. hanya ada satu tempat tidur dan beberapa klasa (tikar) serta barang-barang jualan beliau seperti kelapa dan daun pisang.

Alat masak Mbah Nuno dari tungku kayu bakar, kendil untuk masak sayur dan nasi, gentong besar berisi air dan pragen untuk wadah bumbu-bumbu. Ulegan pasti ada di pragen.

Lampu teplok yang berisi minyak tanah yang ada semprongnya hanya satu, sisanya lampu “thonthor”lampu minyak dari sumbu. Kalau malam yang hidup tinggal satu thonthor saja. TV dan radio nggak ada.

Rumah belakang sudah kosong karena ditinggalkan oleh penghuninya, anak ragil mbah Nuno……

Sedih rasanya mengingat ketika mbah Nuno tinggal di rumah itu.