Pertama kali menginjakkan kaki di TK kampung sungguh sangat menyenangkan. Si Bejo ketemu dengan teman-teman dari kampung dan juga dari kampung sebelah. Waktu itu si Bejo dihantarkan oleh bapaknya, naik vespa punya kakak. Si vespa lama itu meskipun yang membelikan bapak tapi dia sendiri tidak begitu mahir menggunakannya, jadinya ya jalannya nggak keruan.

Hari itu si Bejo senang alang kepalang. Dia menemui di dalam ruang kelas itu temboknya digambar warna warni, ada beberapa gambar binatang di ruangan kelas itu, ada gajah, jerapah, monyet dan macam. Di kelas itu teman- teman baru Bejo duduk sedakep. Tapi ada yang sedang makan ada pula yang sedang ngedot susu.

Bejo agak “kagok” dengan teman-temannya karena bahasanya agak susah dimengerti. Maklum si Bejo sebelumnya diajak merantau ke Celebes dari umur setahun sampai umur 5 tahun. jadinya ya komunikasinya lewat bahasa “gesture” dan bahasa isyarat lainnya. Yang penting sesama anak-anak kecil saling mengerti. Si Bejo ngerti bahasa jawa tapi waktu itu ngomongnya nggak karuan karena pengaruh bahasa celebes.

TK Dharma wanita dikampung letaknya di balai desa. Ada dua guru yang mengajar yaitu Pak Pur dan Bu Ani. Mereka semua adalah type guru yang sabar. Hanya ada dua dari dulu sampai sekarang. Nggak tahu juga ya status mereka itu apakah pegawai negeri ataukah pegawai kontrak. Namun yang pasti Bu guru dan Pak Guru saangat setia mengajari anak-anak muridnya.

Bapak titip si Bejo untuk sekolah TK untuk sementara selama Bapak dan Simbok berada di kampung selama dua bulan. Titip anakku ya Le’, yen nakal dijewer wae kupinge….Setelah itu si Bejo akan diajak lagi ikut merantu ke celebes.

Bejo masih ingat ketika Pak Pur mengajiranya dengan lagu-lagu anak dan puisi. Lagu balonku dan puisi gajah. Sekolahnya Bejo dari jam 8 sampai jam 10 pagi. Pulang pergi dijemput. Kadang sama Bapak, sama kakak perempuan, kadang sama Ibunya. Uang jajan untuk Bejo waktu itu “satus” atawa seratus, bisa untuk jajan es, gorengan, krupuk rambak sama jenang (bubur). Masing-masing makanan tersebut harganya, es berharga “mangpi” (lima rupiah) jenang 25 rupiah, gorengan 20 rupiah, kadang-kadang Bejo pulang mbawa sisa uang sangu. Uang sisa itu lalu dimasukkan ke celengan dari bambu yang dibolong pakai gergaji.