Sekarang semua kakek dan neneknya Bejo sudah meninggal. Dari pihak bapak kakeknya bernama Mbah Kromo dan Mbah Suli, Dari pihak simboknya Mbah Sutaruno dan Mbah Kasinah.

Menurut cerita bapak Bejo, keduanya yaitu kakek Kromo dan kakek Sutaruno itu tetanggaan. Trus mereka setuju menikahkan anak-anak mereka yaitu bapak di Bejo dan simbok-nya Bejo.

Mereka (kakek nenek Bejo) adalah para petani desa yang belum mengenal sekolah. Hidupnya sangat sederhana, tetapi memiliki sawah yang lumayan luas. Zaman dulu panen dari sawah cukup untuk makan selama saatu tahun. Kalau dulu sebelum ada padi varietas unggul, padinya hanya bisa dipanen satu tahun sekali, sisanya ditanami jagung, kedelai atau kacang.

Padi hasil panen dimasukkan ke tempat yang namanya grobog. Itu untuk persediaan selama satu tahun. kalau padi habis masih ada cadangan makanan yaitu gaplek dan jagung. Sayuran cukup dari kebun sendiri, ada bayam, kacaang panjang, lombok, jepan, gambas, daun kates (pepaya) , kenikir. Trus untuk rempah-rempahnya di kebun para simbah juga nanam laos, jahe kunir, daun salam dll. Pokoke akeh tenan. Hasil dari kebun bisa untuk makan sehari-hari.