Gunung nDhini sebenarnya bukanlah sebuah ataupun serupa gunung. Dia hanyalah sebuah bukit kecil di kampung Bejo yang dikelilingi oleh sawah yang menghijau. Letaknya tidak terlalu jauh dari sawah milik bapak Bejo (peninggalan dari eyang kakung).

Mengapa disebut Gunung nDhini? Pertama karena orang kampung nggak kenal istilah bukit, yang mereka tahu setiap gundukan batu ataupun tanah yang cukup tinggi (mungkin kira-kira yang lebih tinggi dari rumah) disebut gunung. Kedua karena letaknya di samping dusun yang bernama Ndini. Orang-orang ndeso biasanya menambahkan huruf n atau m di depan kata-kata tertentu, seperti bandung menjadi Mbandung atau Bali menjadi Mbali, Dari menjadi Ndari dan Dhini menjadi nDhini.

Konon menurut orang tua zaman dulu, gunung nDhini adalah tempat munculnya ular besar dari pantai selatan. Lubang di samping gunung sudah ditutup oleh orang sakti pada zaman dulu kala. Kalau mau melongok ke dekat jalan menuju gunung, kita akan melihat ada batu besar yang bentuknya mirip pintu penambal gua bear. Kalau mau membuktikan cerita ini, mungkin kita harus membuka batu itu (sebenarnya ada nggak sih gua di balik batu itu??). Konon pula khabarnya pernah ada orang yang membuat sumur di dekat gunung, tetapi yang keluar bukan air tetapi darah merah (hii ngeri!! ). Ada yang bilang darah merah itu berasal dari luka di tubuh ular yang terkena cangkul penggali sumur (wallahu Alam).

Di bawah gunung ada sendang (semacam sumber air) tetapi airnya sudah mati. Dhasar wong ndeso, tempat itu juga dikeramatkan. Sering Bejo melihat banyak telor dan kembang ditaruh di tempat itu. Anak-anak kecil tidak berani mengambil takut dikutuk sama danyang yang tinggal di situ. (Danyang itu semacam jin atau makhluk halus).

Di puncak gunung nDhini ada kuburan bangsawan Majapahit yang melarikan diri jauh dari wilayah Majapahit, nggak tahu ya siapa yang mengejar? Bejo belum dapat info mengenai hal ini. Kuburan itu dikasih cungkup dan rumah-rumahan tempat beberapa orang “edan” bersemadi untuk cari wangsit. Katanya kalau bersemadi di tempat itu kadang-kadang bisa dapat nomor buntut (itu cerita orang dulu).

Yang membuat agak seram, karena di samping kuburan itu ada pohon beringin yang cukup besar dan rindang. Orang-orang ndeso sering membuat sesaji di samping pohon beringin itu. Nggak tahu ya kenapa? Dulu pada saat Bejo masih sekolah kelas dua SD ada orang bunuh diri pakai baygon di kuburan itu. Waktu itu keadaan kampung sangat gelap kalau malam (malum belum ada listrik) jadinya seram sekali. Itulah pertama kali Bejo melihat orang meninggal. Mulut orang tersebut mengeluarkan busa, badannya terlentang dengan baju yang sudah luuh. Kelihatannya dia mengalami sakit yang luar biasa pada saat sakaratul maut pokoknya ngeri banget dech. Kata pak polisi yang ada di situ dan juga dokter Joko, orang itu bunuh diri karena permasalahan rumah tangga. Di pojok-rumah-rumahan di kuburan itu ada botol baygon dan sebotol sprite.

Beberapa malam Bejo tidak berani keluar rumah karena takut. Pikirannya terus dihantui bayang-bayang orang yang meninggal tersebut.

Di luar berbagai mitos tentang betapa seramnya tempat itu, gunung nDhini menjadi tempat faforit untuk piknik selepas hari raya idul fitri. Setelah melalangsungkan sholat Ied, banyak warga dari ndeso dan beberapa kampung sekitar mengunjungi Gunung nDhini. Pengunjungnya sebagian besaar anak-anak kecil yang mau membeli mainan dan beraneka ragam makanan seperti bakso, pecel gendar, minuman cao, es dan sebagainya. Tempat itu juga bagus untuk foto-foto karena kita bisa melihat pemandangan nun jauh di bawah sawah yang menghijau dan juga perkampungan penduduk di antara hamparan sawah. Bejo juga bisa melihat sawah milik bapaknya dari atas gunung dini. Selain itu kita juga bisa melihat pabrik Sritex yang konon khabarnya merupakan pabrik textil terbesar di Asia Tenggara.

Dulu pas masih kecil, Bejo bersama teman-teman, selepas sholat idul fitri ramai-ramai ke sana naik sepeda jengki. Sepeda dititipkan di titipan sepeda (harus bayar 100 untuk saatu kali titip). Setelah itu lalu naik ke atas bukit, naiknya agak susah karena tidak ada tangga. Mudah-mudahan sekarang sudah dibuatkan tanggal biar orang yang mau naik gunung tidak terlalu susah.