Ketika masih tinggal di desa yang betul-betul “kluthuk” atau remote, Bejo mempunyai teman-teman pemuda ndeso. Salah satu teman Bejo di kampung yang menarik untuk Bejo ceritakan adalah si Jito. Seperti halnya para pemuda desa, si Jito ini punya sifat yang sederhana apa adanya tapi kadang-kadang juga suka “guyonan”. Sementara Bejo sudah melanglang buana, namun teman-temannya masih tertahan dan terpaku di desanya.

Jito ini anak saudara sepupu Bapak Bejo, jadinya dia masih termasuk saudara jauh si Bejo. Jito nggak tamat SMA, sekolah terakhirnya hanya SMP, maklum orang tuanya nggak kuat membiayai dia sampai lulus. Seperti pemuda kampung kebanyakan, Jito hanya mengikuti arus saja. Tidak ada panutan yang dapat dia ikuti jalannya. Waktu itu, sekitar pertengahan tahun 90-an di kampung-kampung sedang marak pertunjukan musik dangdut. banyak orang hajatan yang mengundang para seniman dangdut untuk menghibur tamu. Di setiap acara besar seperti hari raya atau peringatan kemerdekaan, musik dangdut tak lupa hadir untuk memeriahkan acara. Hal inilah yang membuat Jito ingin menjadi pemusik dangdut yang sukses.

Kebetulan si Jito ini hobinya memang main musik dan Kebetulan pula dangdut adalah musik yang paling ia gemari. Mulai saat itulah dia belajar bermain musik. Alat musik yang paling bisa dia mainkan adalah gitar. Bejo tak tahu darimana Jito mendapatkan keterampilan bermain musik, yang jelas tahu-tahu dia sudah bisa bermain musik.

Jito bercita-cita ingin menjadi pemain musik yang terkenal. Dia mulai merintis karir musik dengan menjadi pemain musik lepas di beberapa pementasan dangdut dan campur sari di kampung. Bayarannya lumayan kadang-kadang dia bisa mendapatkan 20 – 30 ribu per pentas. Untuk jaman tahun 90-an, uang segitu ya cukup lumayan, sayangnya pentas-nya sifatnya musiman. Kadang-kadang lebih banyak lowongnya.

Mungkin sudah menjadi nasibnya orang ndeso yang nggak punya akses sama sekali dengan yang namanya profesionalisme. Jito tak tahu harus kemana dia harus mengembangkan bakatnya. Dia nggak punya akses dan koneksi, nggak punya juga teknologi dan faktor finansial yang bisa menjadi modal dan batu loncatan untuk menjadi sukses.

Selepas pentas yang memang frekuensinya jarang, Jito nganggur berat. Dia lalu berniat untuk mengikuti jejak teman-temannya yang pergi merantau ke kota lain, pengin rasanya bisa memegang uang ratusan ribu sepert i teman-teman yang lain yang merantau ke kota jualan buah dingin, namun simboknya nggak mengijinkan. Simbok Jito takut kalau anaknya nanti kebawa arus pergaulan kota dan akhirnya nggak pulang ke rumah. Kalau merantunya ke kota-kota yang dekat, simboknya mengizinkan. Pernah dia coba marantu ke Jogja, membantu saudara untuk jualan nasi pecel, tapi itupun nggak bertahan lama, hanya sekitar 3 bulan lamanya. Pernah juga dia coba untuk pergi kota Solo, namun tampaknya di sana juga tidaak banyak peluang kerja. Akhirnya dia tinggal di rumah saja bersama Bapak dan Adik perempuannya.

Bapak si Jito sudah tidak bekerja lagi, bertahun-tahun dia merantau ke Jakarta tapi nggak sukses, akhirnya dia memilih tinggal di rumah. Akhirnya Simbok Jito yang harus pergi merantau sendirian ke kota Solo. Simbok Jito berjualan jamu keliling di sana.

Sekarang Jito nganggur. Seperti halnya kebanyakan profil angkatan kerja di Indonesia yang mencapai jutaan, pengangguran telah menjadi momok di negeri yang kita cintai ini. Tak tahu apa yang dilakukan selain menerima pangggilan untuk bermain musik yang datangnya kadang-kadang hanya sekali dalam satu bulan. Kata Jito, “mana cukup untuk makan”. sampai usia yang menginjak lebih dari 25 tahun dia masih bergantung pada simboknya yang berjualan jamu. Menurut Bejo “rugi betul ya”, namun apa daya kadang-kadang sebagai pemuda kampung yang tak tahu harus kemana.

Sambil mengisi waktu dia mencoba untuk beternak bebek dan ternak kambing. Baginya cukup lumayan, minimal Jito tak perlu lagi beli telur, malahan kalau ada sisa dia bisa menjualnya ke pasar. Tapi hasilnya tidak cukup untuk membeli baju atau beli alat musik, untuk makaan saja pas-pasan.

Kalau melihat rumah Jito, tidak tampak perubahan yang besar selama hampir 20 tahun. Bentuk rumahnya ya seperti itu-itu saja. Satu rumah limasan dan satu rumah dapur. (Di pedesaan jawa biasanya memiliki satu rumah sendiri yang diperuntukkan untuk dapur “Gandok”). Lantai rumah belum lama ditutup pakai semen dan dindingnya juga belum lama dirubah menjadi tembok. yang lain masih seperti biasanya,bahkan dapurnya juga masih terbuat dari gedek (dinding bambu). Jangan membayangkan koneksi internet, atau telepon atau parabola, tv saja tidak punya. Alat elektronik yang dimiliki Jito adalah radio dan Interkom yang sudah tidak musim lagi.

Jito juga tak punya sumur, alhasil kalau mau mandi ya harus ke sungai atau ke sumur tetangga sebelah. Dari dulu memang dia nggak punya sumur.

Kehidupan Jito juga minim, untuk usia 20 an seharusnya dia juga telah bersiap untuk nikah atau untuk cari pacar, namun ya itulah dia nggak berani faktor terbesar adalah finansial. Jangankan untuk membelikan bunga atau baju bagus untuk wnita pujaan hatinya, untuk dirinya sendiri saja dia tidakmempu beli.

Melihat kondisi ini, trenyuh rasanya. Pertanyaan besar yang perlu dapat jawaban adalah bagaimana merubah nasib orang-orang desa menjadi sukses tanpa harus merantau ke kota. Kalau saja seandainya Jito anak orang yang punya duit, tentu saja dia bisa beli gitar yang bagus atau alat musik yang lain. Dia bisa belajar musik ke sekolah formal, berkenalan dengan para produser musik menciptakan lagu, dan punya koneksi dengan orang-orang yang bergerak di industri musik.

Sayang-seribu-sayang teknologi informasi belum merambah ke desa. Pulau Jawa atau lebih khusus Jawa Tengah itu kalau dibandingkan dengan wilayah Queensland tak ada apa-apanya. Idealnya untuk wilayah seluas Jawa tengah, pemerintah tidak akan kesulitan membangun infrasturktur telekomunikasi yang modern. Namun itu perlu komitmen yang sangat kuat. Sayang komitmen itu belum ada sama sama sekali. Untuk menjadi desa yang modern sebenarnya listrik sudah masuk, tinggal perlu ditambahkan jaringan telpon dan internet saja.

Kembali ke Jito yang bingung, kalau mau cerita lagi sebenarnya masih banyak lagi pemuda ndeso lain yang mengalami nasib yang kurang lebih serupa dengan Jito. Banyak yang bingung harus mulai dari mana, dan jalan apa yang harus dilakukan untuk merubah nasib. Semua jalan untuk menuju sukses terasa gelap karena tidak ada lampu yang menerangi. Mudah-mudahan keadaan bisa menjadi lebih baik. Itulah harapan Bejo untuk teman-temannya yang ndeso.