Rumah Bejo sangat dekat dengan sungai Bengawan Solo (BS). Bengawan artinya Sungai sedangkan Solo berasal dari nickname Surakarta, sehingga secara lugas kalau menyebut sungai Bengawan Solo maka terjadi redundancy karena bengawan sendiri itu artinya sungai.

BS adalah sungai yang terpanjang di pulau Jawa (kurang lebih panjangnya 540 km). BS berhulu di lereng Gunung Lawu (3,265 m) di perbatasan Jawa Tengah- Jawa Timur lalu mengalir ke arah pegunungan Sewu (perbukitan kapur) di Wonogiri lalu ke arah karesidenan Surakarta ke arah timur laut lalu bermuara di laut jawa, tepatnya di selat madura.

Pada zaman dulu, BS merupakan sarana transportasi utama, namun sayangnya sekarang sungainya telah dangkal dan tidak bisa dilalui perahu ukuran sedang. Yang ada sekarang adalah perahu kecil penyeberangan (perahu tambang) di titik-titik penghubung yang belum dibuatkan jembatan.

BS memiliki makna yang tidak ternilai bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Mulai dari fungsinya sebagai sumber irigasi lahan seluas 16.000 km2 di lahan dataran rendah di kabupaten Sukoharjo, karanganyar dan Sragen sampai pada tempat untuk buang hajat. Di daerah hulu, tepatnya di kabupaten Wonogiri, BS dibuatkan dam yang disebut Waduk Gadjah Mungkur. Proyek bendungan tersebut dahulu diresmikan penggunaannnya oleh Bapak mantan Presiden Soeharto di era tahun 70-an (Bejo kurang tahu pasti kapan). Dam tersebut berfungsi serbaguna sebagai sumber pembangkit listrik, irigasi, pengendali banjir, perikanan dan juga sebagai arena rekreasi.

Waduk gadjah mungkur sekarang menghadapi masalah besarnya sedimentasi lumpur. Luas genangan air waduk itu – yang menenggelamkan 51 desa di tujuh wilayah kecamatan – adalah 88 kilometer persegi. Waduk dilengkapi kantong lumpur di level elevasi +16 M (dasar waduk) sampai elevasi +127 M, dan memiliki volume tampungan lumpur 120 juta M3.

Tetapi, berdasarkan penelitian Perum Jasa Tirta, ketebalan lumpur telah melampaui ambang toleransi, dikarenakan adanya percepatan laju sedimentasi (endapan). Berdasarkan penyelidikan TMA, diketahui sedimentasi telah mencapai ketebalan 14 meter, atau lebih tinggi sekitar tiga meter berdasarkan perhitungan teknisnya.Itu berarti, lumpur di waduk tersebut telah mencapai 138 juta meter kubik.

Back to BS, saat Bejo dulu masih kecil, aliran BS pada musim kemarau sangat minim. Dasar sungai waktu itu tertutup pasir dengan ketebalan sekitar satu sampai 2 meter. Ketika kemarau tiba, maka muncul lapangan pasir di kanan kiri sungai. Para warga memanfaatkan lahan berpasir itu untuk menanam jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Sementara anak-anak kecil memanfaatkan lahan tersebut untuk bermain bola, bola voli dan bola kasti (kalau di Australia mirip permainan kriket). Di sore hari puluhan sapi beserta pemiliknya menceburkan diri ke sungai. Telah menjadi kebiasaan para peternak untuk memandikan hewan piaraannya setiap sore hari. Istilah memandikan sapi dalam bahasa jawa adalah ngguyang sapi, maka tidak heran dusun yang memliki banyak populasi sapi disebut Guyangan.

Hamparan pasir di sungai sekarang tiada lagi karena sekitar tahun 1992-1993 ada proyek dari pemerintah untuk mengeruk sungai. Berton-ton pasir dari sungai disedot hingga akhirnya tinggallah dasar sungai yang licin dari tanah liat. penambangan liar pasir juga masih terus terjadi hingga membuat kanan kiri sungai mudah longsor.

Aliran BS pada zaman sebelum ada bendungan sangat tidak bisa diduga. Karena daerah yang dilalui sungai adalah dataran aluvial yang gembur (tida berbatu-batu) maka aliran sungai menjadi tidak terkendali. Arah alirannya bisa berubah karena besarnya tekanan dari hulu sungai. Menurut cerita Bapak Bejo, dusun tempat Bejo tinggal semula sangat luas tetapi karena kena terjangan aliran sungai banyak warga yang eksodus ke daerah lain, akhirnya dusun kadutan tempat keluarga Bejo tinggal, seakarang menjadi dusun kecil.

Dimanapun Bejo berada, Bejo selalu memimpikan selalu berada di sungai tersebut. Mulai dari mimpi naik perahu dari daerah tambangan di dusun jarak Tanjung sampai ke arah hulu. Juga Bejo pernah bermimpi berenang menyeberangi sungai itu.

Mengingat sungai dulu dan melihat kenyataan sungai sekarang membuat hati jadi sedih. Dulu varietas ikan bermacam-macam, ada udang, penyu, ikan lele, ikan bader, ikan sepat dll sekarang populasi ikan berkurang drastis akibat perburuan dengan racun ikan. Para warga juga masih belum sadar karena masih membuang sampah sembarangan ke sungai, bahkan tradisi buang hajat di sungi juga masih saja dilakukan.

Air sungai juga selalu kotor kadang-kadang berwarna cokelat akdang juga berwarna hijau. Bahkan air sungai pernah terkena polusi dari pabrik tapioka membuat ribuan ikan mati dan kalau terkena kulit menjadi gatal-gatal.

Yang aku inginkan dari BS adalah sungai yang bersih dan menjadi sumber air untuk minum dan juga irigasi. Kalau para warga ingin sungai tetap lestari menjadi area untuk ikan berkembang biak, alangkah bijaksana apabila mereka tidak menggunakan racun untuk menangkap ikan.

Bisa tidak ya membuat BS menjadi seindah Brisbane River….

Brisbane River ini memang sangat indah. Di kanan kanan kiri sungai berdiri bangunan gedung yang mewah. Rumah-rumah megah juga berdiri di sepanjang jalur sungai. Di sepanjang sungai juga ada trek untuk joging dan taman-taman yang indah. Kapal-kapal cepat berseliweran dengan cepat, ada juga yang main ski, kayak dan beraneka olahraga air lainnya.

sumber:

http://buletinsolo.blog.com/2007/3/

www.suaramerdeka.com/

http://www.wonogiri.go.id/index.php?action=potensi&menu=13