Bismillaahirrohmaan irrohiim

Assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

Alhamdulillaahi wahdah

Washsholaatu wassalaamu ‘alaa man laa nabiyya ba’dah

Amma ba’du!

Saya ingin menandaskan dari awal:

Jangan ada yang merasa tersinggung dengan kata-kata saya dalam tulisan ini, karena saya tidak berniat menyinggung siapa-siapa. Kalau tersinggung juga, yaa berarti tidak mau mengabulkan permohonan saya. Jadi saya mohon maaf. Guyonan-guyonan yang ada TIDAK DIMAKSUDKAN UNTUK MENYENTIL SESEORANG, tetapi sekedar usaha mencairkan suasana. Itulah sebagian dari gaya Muhammad Arsyad berguyon. Saya siap berhujjah di hadapan ALLAAH bahwa saya betul-betul bermaksud seperti yang saya katakan di atas.

Saya merasa kaget dan bingung karena ternyata apa yang saya sampaikan dalam khutbah Jum’at lalu berbuntut panjang. Dan yang membuat buntutnya panjang adalah saudara-saudara saya orang-orang Indonesia . Saya berfikir, orang Indonesia memang luar biasa: kritis dan perduli dengan isu-isu yang terkait dengan pengamalan agamanya. Alhamdulillaah!

Yang pertama-tama ingin saya ajak jamaah semua renungkan adalah hikmah kisah kambing dan anjing itu. Kisah itu saya ambil untuk mengawali pembicaraan bahwa apa yang berada di luar diri kita berupa ide dan perlakuan orang kepada kita bisa menimbulkan bekas di dalam hati, sebagaimana usaha kita sendiri juga bisa mengubah keyakinan kita akan hakikat kehidupan. Sebagaimana saya sampaikan dalam khotbah itu, sadar atau tidak sadar, kita terkadang mendapati diri kita manggut-manggut dengan suatu penjelasan yang terkadang tidak mampu kita bantah karena keterbatasan pengetahuan kita terhadap sesuatu.

Kembali kepada kisah kambing dan anjing. Si pemilik kambing tidak berani bersikukuh mengatakan “Ini kambing, sampai mati juga, ini kambing, apapun kata orang!”.

Entah karena ingin fikiran tenang tidak terganggu oleh intimidasi macam-macam, entah karena takut berbeda pendapat, si pemilik kambing mengiyakan pada akhirnya bahwa kambingnya adalah anjing. Kasus yang sama sering terjadi pada diri kita. Sering kita terbawa kepada pendapat di luar sana dan tidak berani bersikukuh dengan pendapat sendiri. Satu contoh adalah ketika permasalahan “jihad “ diperdebatkan. Berbagai penafsiran tentang jihad dikemukakan. Jihad itu perang melawan nafsu, benar! Jihad itu bekerja sungguh-sungguh untuk meraih tujuan, benar! Jihad itu bekerja keras untuk kemajuan keluarga, bangsa dan negara, benar! Jihad itu BERPERANG MEMBELA AGAMA, BENAR!!! Jihad itu BERPERANG MEMBELA KEBENARAN, BENAR!!! Jihad itu memang banyak maksudnya, tergantung konteks, benar juga! Tetapi MENAFIKAN SAMA SEKALI bahwa salah satu makna jihad adalah PERANG, itu TIDAK BENAR! Terkadang karena kita takut dianggap teroris, fundamentalis, kita takut memaknakan jihad dengan PERANG! Apa lagi makna ayat dalam Al Qur’an ketika orang-orang beriman disuruh berjihad dengan harta dan diri? Di zaman Nabi ketika sahabat diajak ke Tabuk, ya PERANG! Kalau kemudian ayat itu kita pakai di zaman ini untuk mengajak bersungguh-sungguh, bekerja keras memajukan negara dan bangsa, itu persoalan lain! Tentara Amerika yang dilibatkan menggempur Afghanistan dan Baghdad , menurut kacamata Amerika juga bisa dikatakan jihad, membela kebenaran versi Amerika! Sah-sah saja! Kalau orang Amerika berani berkata ketika menggempur Afghanistan dan Irak, “Kami sedang berjihad!”, mengapa pula kita takut berkata kalau orang Palestina yang melakukan tindakan meledakkan bom bunuh diri di tengah orang Israel adalah JIHAD?! Persoalan jihadnya itu kemudian dianggap tidak islami, ya itu persoalan lain. Wong orang mati syahid saja bisa masuk neraka (H.R. Muslim dari Abu Hurairah RA tentang syahid, alim dan orang dermawan yang masuk neraka.)! The point I want to make is: kalau sekedar untuk memuaskan pemaksa “kebenaran” dengan standar ganda, kita sampai rela mengorbankan KEBENARAN sejati, yo opo, kita ini sedang menghalau kambing kita karena dikatakan anjing. Wallaahu a’lam!

Persoalan berikutnya adalah perkataan KAFIR. Kafir itu ada KAFIR I’TIQADI dan KAFIR ‘AMALI. Kafir I’tiqadi itu orang yang menyang! kal, menafikan, deny, covering the truth about ALLAAH and other pillars of iman. Orang yang tidak beriman kepada ALLAAH sesuai dengan apa yang dibawakan oleh MUHAMMAD SAW adalah KAFIR!

Orang-orang Quraisy dulu percaya kepada Allaah, sehingga kalau mereka ditanya, “Yang menjadikan langit dan bumi, siapa?” Pasti mereka menjawab “ALLAAH!” (e.g. Q.S. Al ‘Ankabuut: 61). Tetapi ketika mereka diajak meyakini tentang Allaah sebagaimana yang dibawakan dan diajarkan Muhammad SAW, mereka menolak, maka Allaah mencap mereka KAFIR! Ini cap dari Allaah! Kalau Allaah sudah bilang begitu, apa kita mau bilang, “Nggak, ya Allaah, mereka itu orang baik-baik, mereka kasih makan dan minum jamaah haji, mereka juga menghormati bulan-bulan haram dan kesucian tanah haram!” Kowe iki sopo to, Le? ALLAAH dilawan! Yeee, pede banget lu ye! Lu tau pede ntu ape? Paling Dungu! Nah loh!

Kemudian KAFIR ‘AMALI adalah cap kafir yang Allaah berikan karena melakukan perbuatan orang-orang yang mengingkari adanya Allaah. Kafir begini bisa saja orang yang beriman. Sebagai contoh, Allaah katakan dalam surah Al A’raaf: 50-51): Orang kafir itu adalah orang yang menjadikan agamanya senda gurau dan permainan. Tentu yang dimaksud dalam ayat ini orang yang beragama, dan agama yang dimaksud adalah agama Islam. Jadi ini menyinggung orang Islam yang memperbuat kelakuan orang kafir, mempermainkan agama. Contoh lain, kata Nabi, orang nggak shalat itu KAFIR! Ya, Nabi itu sudah dapat legitimasi dari Allaah untuk mencap sesuatu itu sebagai laku kafir. Walau kemudian kadar kekafiran seperti itu tidak sampai membuat seorang muslim keluar dari lingkaran IMAN, itu persoalan lain.

Sebagai pribadi muslim, kita di! tuntut untuk TIDAK MERASA DIRI LEBIH BAIK, walau dari seorang kafir sekalipun! Kita tidak tahu, kita yang ngecap diri lebih baik mungkin mati kafir betulan (Na’uudzu billaah!), sementara si kafir yang kita kata-katain ‘kafir”, justeru mati beriman, maka sungguh dia itu lebih baik dari kita. Kita mati beriman, dia mati beriman, tapi mungkin derajatnya lebih tinggi. Yang pantas menghakimi seseorang itu lebih baik dari yang lain HANYA ALLAAH! Tetapi KEBERATAN mendengar orang kafir dikatakan kafir, itu SIKAP YANG TIDAK BENAR! Allaah berfirman, “Sungguh telah kafir orang yang berkata “ALLAAH adalah Tuhan ketiga dari tiga oknum Tuhan” (Q.S. Al Maa-idah: 63). Allaah katakan mereka kafir, apa kita mau protes? Silakan saja! Allaah tidak akan lengser karena protesan kita, tidak akan berubah status sebagai TUHAN.

Tetapi memang, terminology KAFIR itu juga memang harus dipakai pada konteksnya. Dalam konteks hukum, misalnya. Orang kafir tidak dapat warisan dari orang Islam, begitu juga orang Islam tidak berhak atas warisan sanak keluarganya yang kafir. Tetapi kalau dia mendapat wasiat untuk menerima harta dari orang kafir, boleh-boleh saja, sebagaiman juga orang Islam boleh berwasiat untuk memberikan hartanya kepada orang kafir. Omong si fulan kafir, si anu kafir tanpa maksud syar’i (maksud yang dibenarkan syari’ah) memang omongan sia-sia, orang yang keislamannya baik akan menghindari omongan sia-sia, sebagaimana sabda Rasulullaah SAW, “Min husni islaamil mar’i, tarkuhu maa laa ya’niihi– Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ditinggalkannya apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.” (dalam Kitab Arbain yang kita biasa kaji). Lebih-lebih kalau ucapan “kamu kafir” atau “si fulan kafir” itu ditujukan kepada orang Islam, maka salah satu dari kedua orang itu, yang menuduh atau yang dituduh adalah KAFIR (bisa I’tiqodi bisa ‘amali)! Yang berhak memfatwakan KAFIR di zaman kita sekarang ini adalah seorang HAKIM dalam konteks peradilan untuk memutuskan perkara yang ada kaitannya dengan kafir. Seorang hakim yang demikian juga tentu tidak sembarang memvonis, dia harus memiliki pengeathuan yang memadai untuk memvonis, karena vonisnya harus dia pertanggungjawabkan di hadapan Allaah nantinya. Walaahu a’lam!

Kemudian persoalan makanan halal-makanan haram. Halal itu jelas, haram itu jelas, di antara keduanya ada wilayah abu-abu yang yang kebanyakan manusia tidak mengetahui hakikatnya. Satu persoalan syubhat bagi dua orang bisa jadi beda. A halal, B haram, C syubhat. Imam Syafi’I berpendapat, C itu halal sebelum ada indikasi keharamannya, sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat C itu haram sebelum ditemukan dalil yang menghalalkannya. Dalil-dalil suatu syubhat itu jadi halal atau haram harus ditanyakan kepada ulama, jangan ikut pikiran sendiri. Ulama itu pewaris Nabi, pikiran sendiri itu berpeluang dibimbing syaithan. ALI RA berkata, “Orang yang belajar agama tanpa guru, maka gurunya adalah syaithan”! Orang yang belajar agama dari seorang guru, tetapi gurunya tidak berguru kepada guru yang ilmunya muttashil dan mutawatir, ya tetap jadi murid syaithan, menurut katanya ALI RA! Rasulullah SAW bersabda tentang beliau, Kalau aku ini kotanya ilmu, maka Ali adalah gerbangnya.

Sebagai orang awam, langkah terbaik kita bagaimana menyikapi masalah halal-haram- syubhat itu? Yang HALAL itu AMBIL, yang HARAM itu JAUHI, yang SYUBHAT itu TINGGALKAN! Da’ maa yuriibuka ilaa maa laa yariibuka (au yuriibuka): Tinggalkan apa yang membuatmu ragu kepada yang kamu tidak ragukan (yang tidak membuatmu ragu) ( Ada juga dalam Kitab Arba’in, kalau tidak khilaf). Daging di Ismail atau halal outlets kamu yakini halal, beli. Daging di Coles kamu ragukan kehalalannya, jangan beli. Daging di Coles kamu tidak ragukan kehalalannya, beli! Resiko tanggung sendiri! Sudah! Kenapa kita mesti bertengkar? Kalau Bang Nadir memilih beli daging di Coles nanti ditanya di hadapan ALLAAH, “Kenapa kamu beli daging di Coles?” Bang Nadir bisa menjawab,”Ya Allah, aku baca di Qur’an begini, dari hadits Nabi-MU begini, mengingat penjelasan ulama ini dan itu, begini. Jadi aku berkesimpulan daging itu halal, ya Allaah!” Ini hujjah orang yang berilmu. Tetapi kalau kita yang awam beli daging di Coles tanpa dasar pemahaman yang memadai nanti ditanya, “Kenapa kamu beli daging di Coles?” Kalau kita menjawab, “Ya ALLAAH, saya mah ikut Bang Nadir. Sumpah ya Allaah! Masa Bang Nadir mau memperdayakan saya?” ALLAAH tidak mau tahu jawaban yang begitu. BERAMAL ya harus MEMADAI ILMUNYA. Kalau tidak memadai, kenapa tidak mengambil yang aman saja, yang jelas halalnya di Ismail atau di halal outlets. Kalau di Ismail ternyata menurut pengetahuan Allaah TIDAK HALAL, ya itu urusan Ismail. Masa kita tanya Isma’il, “Apa kamu membaca Basmalah ketika menyembelih, apa kamu menerapkan cara penyembelihan halal?” Dia itu butcher Islam, butcher halal, asumsinya ya harus pakai cara yang halal. Kalau dia ternyata menipu, itu urusan dia, kita tidak akan ditanya tentang ketidaktahuan kita bahwa kita telah ditipu. Tetapi daging di Coles, siapa yang menyembelih, apakah dengan cara penyembelihan halal, kita tidak tahu, mungkin halal, mungkin tidak. Sekali lagi kalau tidak memiliki dasar ilmu yang memadai untuk berhujjah di hadapan Allaah, ya nggak usah ambil resiko!

Berhati-hati dalam masalah halal haram syubhat, bukan sikap yang berlebihan, malah Rasulullaah SAW katakan sebagai orang yang telah melindungi agama dan kehormatannya. Sikap berhati-hati yang berlebihan itu kalau ada orang malam-malam mengetuk pintu, tapi kita tidak berani membuka karena takut, jangan-jangan garong! Ya ini yang berlebihan. Mungkin saja dia orang baik, orang yang kemalaman di jalan dan tidak tahu harus kemana, mengetuk pintu kita mau tanya yang mana jalan menuju Roma Street ! Mungkin dia orang yang baru menyelesaikan suatu bisnis milyaran dolar yang bernazar mau bagi-bagi seribu dolar kepada orang yang mau buka pintunya kalau diketuk. Mungkin dia garong betulan! Kita tidak akan tahu sampai kita bertemu langsung, tetapi tidak mau buka pintu karena takut garong, ini hati-hati yang berlebihan.

Wallaahu a’lam!

Mengenai beasiswa syubhat. Kalau semua-semua mau dikaitkan dengan syubhat, ya Menteri Agama, Ketua MUI, Rektor IAIN semua makan gaji syubhat karena gaji dari negara itu juga datang dari pajak pabrik miras, pajak tempat pelacuran, pajak rokok yang urusan hukumnya dalam Islam masih ramai diperdebatkan. Kalau begitu bisa dihitung dengan jari manusia di muka bumi ini yang tidak makan barang syubhat. Agama tidak menuntut kita mempermasalahkan sampai sedetail itu. Ulama di Indonesia tidak pernah berfatwa bahwa gaji seperti itu syubhat. Anda bekerja keras, menerima imbalan yang layak menurut ketentuan employer anda, agama menganggapnya halal. Anda bersusah payah belajar, meyakinkan pihak interviewer bahwa anda layak mendapatkan beasiswa ADS, tidak menyogok interviewer, tidak mengancam pihak yang berkompeten meluluskan untuk meluluskan. Itu beasiswa halal. Perkara uang itu datang dari bunga bank, pajak tempat dan kegiatan maksiat, itu urusan pemerintah. Bukankah sumber-sumber halal juga ada di situ? Hasil minyak, logam dan barang tambang, pajak perdagangan dan sebagainya. Yang jadi pemerintah nanti akan ditanya tentang urusan itu. Anda tidak perlu susah-susah meneliti menelusuri sumber-sumber keuangan beasiswa itu. Kecuali ada lembaga pemberi beasiswa tertentu yang jelas-jelas mendapatkan dana HANYA dari sumber-sumber haram, ya itu persoalan lain.

Saya ingin mengetengahkan sebuah kisah betulan. Ada seorang pemuda India yang setelah mendapatkan pencerahan keagamaan, menangis dan mengadu kepada seorang mufti (ulama yang berkompeten memberikan fatwa). Katanya, “Selama kegiatan pencerahan ini saya selalu memakan makanan halal, tetapi sampai di rumah nanti, saya akan berhadapan dengan makanan dari hasil usaha haram. Bapak saya kerjanya memberi dan menerima suap, sedangkan Nabi SAW menyatakan “Pemberi dan penerima suap sama-sama di neraka”. Lalu saya harus bagaimana?”

Sang mufti memberi jalan keluar, “Untuk makananmu sehari-hari, suruhlah ibumu berhutang. Hutang itulah yang kamu pakai membeli makanan. Hutang itu halal, walaupun nanti kamu kembalikan dengan uang haram. Si pemberi hutang tidak ada urusan dengan uang yang kamu bayarkan, tetapi makanan yang masuk ke dalam perutmu adalah makanan halal, sambil kamu terus berusaha dan berdoa supaya bapakmu berhenti melakukan pekerjaan haram itu.” Fatwa ini bisa kita ambil sebagai ‘ibrah. Saya pribadi beranggapan, sesuai dengan kadar pemahaman saya yang terbatas, bahwa beasiswa AusAID itu HALAL! Kalau ada yang menganggapnya SYUBHAT, ya jangan ngelamar! Kalau sudah kadung menerima, sudah menjalani, terus ragu, ya silahkan shalat istikharah, mohon petunjuk kepada Allaah. Jangan patah semangat terus meninggalkan studi karena beranggapan sumber beasiswanya syubhat. Teruskan belajar, berjihad meraih ilmu supaya bisa mengamalkannya nanti di Indonesia sehingga kita bisa menyiapkan beasiswa yang lebih bersih bagi para generasi sesudah kita. Wallaahu a’lam!

Saya ingin mengingatkan diri sendiri dan saudara-saudara saya yang mau mengambil pelajaran:

1. Imam Abu Hanifah (pelopor Madzhab Hanafi) dan Imam Malik bin Anas (pelopor Madzhab Maliki) pernah terlibat diskusi sepanjang malam dari habis ‘Isya sampai menjelang Subuh di musim dingin di Masjid Nabawi di Medinah dengan dimoderatori oleh Imam Laits bin Sa’ad. Ketika selesai, Imam Malik keluar dari ruangan masjid sambil berkata sembari menyeka keringat, “Belum pernah aku berdialog dengan orang sepandai Imam Abu Hanifah”. Imam Abu Hanifah berkata menimpali, “Belum pernah aku berdialog dengan orang yang pengetahuan haditsnya lebih mendalam dari Imam Malik.” You see?! Kalau hujjah teman dialog kita benar, jangan sakit hati, tetapi akuilah kebenarannya. Toh kita berdialog mencari kebenaran! Imam Abu Hanifah terus mengembangkan pola istimbathnya (pola penetapan dan pengambilan hukum) sesuai dengan metode yang diyakininya benar yang kemudian berkembang menjadi Madzhab Hanafi, sedangkan Imam Malik terus menggeluti metodenya sendiri yang membuahkan Madzhab Maliki. Mereka saling menghargai kelebihan masing-masing tanpa harus mengorbankan keyakinannya sendiri.

2. Iblis terusir dari surga karena MERASA DIRI LEBIH BAIK dari Adam AS. Merasa diri diri lebih baik adalah penyakit hati yang harus dijauhi, baik merasa diri lebih baik dari orang kafir maupun, lebih-lebih, merasa diri lebih baik dari sesama Muslim. Ilmu kita bagaimanapun tinggi, luas, dan dalamnya, hanyalah sepersekian milyar tetes dari setetes ilmu Allaah yang diberikan-NYA kepada manusia. Allaah menyatakan: Qul kullun ya’malu ‘alaa syaakilatihi farobbukum a’lamu biman huwa ahdaa sabiilaa Katakanlah setiap orang beramal menurut garisannya, maka Tuhanmu lah Yang Maha Lebih Mengetahui siapa yang paling terbimbing jalannya. (Q. S. Al Isra: 84)

Kita beramal, berbuat, mengkonsumsi makanan sesuai dengan pilihan dan keyakinan kita masing-masing dengan resiko yang kita harus pertanggungjawabkan sendiri, nanti ALLAAH yang akan menghakimi kita. Allaah juga mengingatkan kita: Falaa tuzakkuu anfusakum, HUWA a’lamu bimanittaqoo Maka janganlah kamu men-suci-kan dirimu (menganggap dirimu suci). DIA (ALLAAH) lah Yang Maha Lebih Mengetahui siapa yang (pantas menyandang gelar) taqwa. (Q.S. An-Najm: 32)

Wallaahu a’lamu bishshawaab! In kaana shawaaban faminallaah, wa in kaana khatha-an, faminnii waminasysyaithaan, wallaahu waraosuuluhuu barii-aan!

Dan Allaah Yang Paling Mengetahui apa yang benar! Kalau apa yang saya sampaikan itu benar, maka kebenaran itu datng dari Allaah. Kalau apa yang saya sampaikan itu keliru, maka ia berasal dari diri saya dan dari syaithan. Allaah dan Rasul-NYA tidak ada keterlibatan!

Sekali lagi mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan di hati. Kalau ada yang mau mencaci, saya memang pantas dicaci. Kalau ada yang mau memuji, sesungguhnya HANYA ALLAAH yang layak dipuji.

Wassalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh!

Muhammad Arsyad