gereja-makale.jpg

Gereja di atas bukit di kota makale, source: Armin Mustamin Toputiri at flickr 

Makale adalah kota kecil di Sulewesi Selatan. Makale merupakan nama dari sebuah kecamatan di Kabupaten Tana Toraja, meskipun kota ini lebih kecil dan sepi daripada kota tetangga Rantepao (rante:tanah, pao:limau) tetapi kota ini menjadi ibu kota kabupaten Tana Toraja. Orang Bugis kalau mau ke Toraja biasanya bilang “mau naik”.

Makale terletak di pegunungan, dan letaknya betul-betul diapit oleh bukit-bukit yang sangat tinggi. Dari tengah kota memandang ke segala penjuru yang terlihat adalah gunung-gunung yang tinggi. Udara di Makale sangat sejuk sesejuk udara di Puncak Bogor.
Di tempat inilah Bapak dan simbok Bejo pergi merantau. Sekitar akhir 1978 Bapaknya Bejo pergi meninggalkan kampung menuju tanah harapan.

Di  sana (Sulawesi Selatan) telah ada beberapa warga dari kampungnya Bejo (Kadutan) yang merantau ke sana. Sebut saja misalnya Jiwo dan Slamet yang berada di Cakk’e, dan Hadi Karno di Enrekang. Waktu itu Bapak Bejo pergi ke Makale ditemani oleh Jiwo, tetangga di kampung yang sebelumnya telah merantau duluan di Cakk’e. Istilah orang jawanya “babat alas” karena bapak Bejo merupakan pionir orang Jawa di Makale.

Makale, kota kecil, berada di lembah yang dilalui sungai. Di Makale, tanah yang landai hanya sedikit yang berada di jalur sungai, selebihnya berada di lereng bukit dan gunung. Kalau jalan naik bus dari arah Makassar, dari ketinggian di daerah “mamullu” kita dapat melihat ke bawah kota Makale.

Kehidupan pada waktu  (zaman 1970 – an akhir) itu sangat susah, usaha tenun tradisional milik keluarga baru saja bangkrut. Utang melilit di sana sini. Ketiga kaka Bejo juga sudah mulai masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, pokoknya sangat prihatin. Ketiadaan sumber daya inilah yang mendorong Bapak Bejo untuk merantau, berjualan bakso seperti halnya kebanyakan orang jawa yang merantau pada umumnya.

Setelah kurang lebih dua tahun berada di sana, Bapak lalu mengajak simbok untuk ikut merantau. Bejo pun tidak ketinggalan ikut, maklum  waktu itu Bejo masih kecil banget, nggak bisa ditinggal jauh.

Bapak mengontrak rumah di jalan kampis (kampung pisang) di kelurahan Bombongan. Rumah itu milik mak Bodo’, seorang Ibu asli warga Toraja. Beliau ini nggak bakal lupa sama Bejo….Letak rumah  cukup lumayan strategis karena dekat pasar. Walaupun letaknya tidak berada di lingkungan pasar, namun pada saat hari pasar, para pedagang biasanya sampai tumpah ruah di kampis. Mereka sampi menggelar dagangan mereka di kanan kiri rumah.

Walaupun hari-hari biasa, warung agak sepi tetapi pas hari pasar biasanya ramai banget. Para pedagang dan juga pembeli dari desa-desa sekitar banyak yang mampir untuk makan atau sekedar ke toilet untuk kencing.