Kenaikan Harga Minyak dan Dampaknya

Kenaikan harga energi

Baru-baru ini kita banyak mendapatkan informasi mengenai kenaikan drastis harga minyak. Siapa sebenarnya yang diuntungkan dari kenaikan harga berbagai jenis minyak mentah baik minyak mentah dari jenis brent, US Light crude dan Arabian Light crude. Jika harga-harga terus bergerak seiring dengan ramalan dari goldman sachs maka yang paling diuntungkan tentunya para produsen (negara penghasil, dan perusahaan minyak internasional). Di sisi lain menimbulkan dampak suram bagi pertumbuhan ekonomi global terutama bagi negara-negara yang miskin sumber daya minyak.

Harga minyak sangat sensitif terhadap faktor kondisi geopolitik internasional apalagi jika terjadi di negara-negara Timur Tengah. Berbagai faktor itulah yang nanti digunakan oleh pemain industri ini untuk meraup keuntungan. Dan kita patut tanggap dan waspada ada apa dibalik prediksi goldman sachs itu. Dengan tema sentral kelangkaan minyak padahal mungkin bisa saja karena spekulasi harga. Dan tiada satu pihak pun yang dapat menahannya karena inilah mekanisme pasar.

Kapitalis industri minyak bergerak tanpa mengenal demokrasi, sosialisme dan isme-isme lain selain mengejar profit. Dan selanjutnya pasar akan merespon dengan panik seolah-olah komoditas itu telah langka, andaikata harga minyak mentah naik sampai di atas 100 dolar per barrel maka itu berarti tambahan devisa dalam jutaan dollar akan dihabiskan untuk membelinya. Siapa yang tahan dengan harga minyak yang melambung tinggi melampaui daya beli. Penjadwalan mesin-mesin produksi mungkin menjadi prolog dari suatu epilog resesi. Karena berapapun nilai produksi maka akan habis untuk membeli minyak.

Harga energi memberikan pengaruh penting pada hampir semua aspek kinerja makroekonomi utama, karena energi digunakan langsung maupun tidak langsung dalam produksi barang dan jasa. Model teoritis maupun analisis empiris pertumbuhan ekonomi menyatakan bahwa penurunan tingkat pertumbuhan ketersediaan energi akan memberikan dampak yang sangat serius. (Smulders, S. & de Nooij, M. The impact of energy conservation on technology and economic growth.Resource Energy Econ. 25, 59–79 (2003).) Sebagai contoh, resesi di Amerika setelah perang dunia II diawali oleh naiknya harga minyak, dan kelihatannya ada korelasi negatif antara perubahan harga minyak dengan harga dan return dari saham. (Sadorsky, P. Oil price shocks and stock market activity. Energy Econ. 21, 449–469 (1999)). Di suatu negara yang murni pengimpor minyak dan gas. Harga energi juga menjadi pemicu utama inflasi dan pengangguran.

Di dunia ini tidak ada satu negarapun yang dapat hidup tanpa energi. Dan tiadapula negara yang serta merta dapat menurunkan konsumsi energinya jikala harganya naik. Karena energi adalah sumber utama penggerak pertumbuhan ekonomi maka berapapun harganya akan dibeli. Dan sayangnya sebagian besar energi itu didapatkan dari BBM. Jika itu terjadi ke depan mesin-mesin produksi mungkin saja terpaksa digilir bahkan mungkin mati untuk selamanya, dan akhirnya muncul golongan baru (unemployment) sebagai side effect dari kenaikan harga BBM.

Rentetatan secara kronologis tampaknya dimulai dari krisis minyak dan berakhir pada resesi ekonomi global. Energi berupa BBM dewasa ini tidak hanya difungsikan sebagai pembangkit mesin tapi sudah merambah jauh ke seluruh sendi peradapan dunia melalui by product BBM yang menjadi bahan dasar bagi banyak industri kimia. Dari bahan inilah industri lainnya mendapatkan bahan baku.

Masa lampau

Di era abad 20-an energi berbasis minyak bumi menjadi sumber energi utama pertumbuhan industri di hampir seluruh negara. Sehingga hampir semua industri menggunakan minyak sebagai sumber energinya, terlepas langsung maupun tidak langsung. Dan minyak telah menggantikan basis energi batu bara pada era abad ke-19.

Periode antara tahun 1980 dan 1998 produksi minyak mentah dunia naik 11,2%, yaitu dari 59,6 menjadi 66,9 juta bph. Tingkat produksi dunia sekarang adalah 25 Gb (Milyar Barel) per tahun. Jika tingkat konsumsi diasumsikan konstan maka cadangan minyak mentah dunia yang diperkirakan sebesar 1 trilyun barel akan habis pada tahun 2040.

(Oil and Gas Journal, the Energy Information Agency dan European Agency for International Information, 2001)

Di masa lalu krisis minyak tahun 1970an terjadi ketika OPEC mengekang produksinya. Hal itu memicu resesi ekonomi global. Waktu itu di satu sisi Indonesia “ketiban pulung” windfall dari naiknya harga minyak. Selanjutnya krisis itu terjadi lagi di tahun 1980 dan 1991. Jika tidak sumber alternatif energi baru, krisis minyak di masa depan mungkin akan lebih buruk. Krisis tahun 1970-an tidak berlangsung lama karena faktor utama yang mendominasi adalah faktor peperangan dan kekacauan politik di timur tengah. Dan krisis berangsur pulih dengan minyak dan gas baru untuk digelontorkan ke pasar. Sementara pada saat ini tidak lagi ditemukan cekungan minyak besar yang dapat diandalkan untuk mengantisipasi kebutuhan.(www.wtrg.com)

Apa pengaruhnya bagi Indonesia? Krisis minyak merupakan berkah bagi negara produsen. Apa yang disebut sebagai windfall di masa lalu terjadi karena kita pada saat itu sebagai eksportir minyak karena konsumsi domestik yang sangat rendah. Dan minyak menjadi komoditas strategis untuk meraup devisa. Pada masa sekarang sekarang hal itu tidak relevan lagi. Justru kita sekarang tumbuh menjadi konsumer yang haus minyak. Ladang minyak kita semakin lama tidak dapat diandalkan lagi. Walaupun demikian kita tidak akan perlu sampai mengalami resesi, karena bagaimanapun kita juga masih punya sumur-sumur miyak domestik. Namun tampaknya mungkin ke depan kedudukan kita sebagai anggota OPEC perlu ditinjau kembali. Dari data www.worldoil.com produksi minyak kita semakin tidak signifikan bahkan terkecil dibanding dengan negara-negara anggota OPEC yang lain.

 

Kita tidak tahu persis berapa cadangan minyak yang kita miliki, tapi dilihat dari kecenderungan produksi yang semakin menurun dan penemuan baru semakin langka. Kisaran 6-9 milyar barrel kira-kira akan habis tidak lama lagi. Dari data di majalah worldoil, Indonesia bukan termasuk negara yang punya potensi untuk meningkatkan produksi.

 

Dan rupanya era swasembada minyak tiada dapat lagi kita capai. Apa dampaknya? Mungkin kita mulai harus berasumsi jika kita menjadi murni importir minyak, dan tidak ada energi alternatif akibatnya devisa lagi-lagi harus dikuras. Kenyataannya kita memang boros. Industri kita juga sangat rapuh dan tidak kompetitif, itu karena pada masa lalu terlena oleh subsidi energi. Bahkan pengurangan subsidi BBM kian tidak berarti jika kita tetap mempertahankan pola pemakaian yang boros sementara cadangan makin menipis. Dengan pengurangan subsidi BBM, APBN mungkin sedikit bisa diselamatkan tapi devisa kita akan habis juga untuk mengimpor minyak. Juru selamat dari timur tengah dengan janji-janji penambahan kuantitas produksi hanya menjadi pelipur lara sementara karena tentunya mereka akan berfikir pragmatis untuk “menikmati kenaikan harga”. Sementara ini kita masih banyak menggantungkan impor minyak mentah dari jenis arabian light dari Timr Tengah.

 

Masa depan dan alternatif solusi

 

Tampaknya minyak di masa depan tidak dapat lagi diandalkan untuk mendulang devisa. Alternatif lain untuk penyediaan energi bagi keperluan domestik akan mengarah pada pemanfaatan gas yang selain lebih efisien juga lebih rendah polusi. Dan tentu saja penyediaan infrastruktur dan kebijakan harga dari pemerintah sangat diperlukan. Selain itu pemanfaatan batu bara cair seperti yang diurencanakan oleh Menteri ESDM akan menjadi alternatif solusi penyediaan energi. Dan upaya ini sungguh memerlukan usaha yang keras karena kegagalan manajemen energi di masa lalu disebabkan antara lain karena menjadikan minyak sebagai single source of energi seperti layaknya beras yang menjadi satu-satunya bahan pangan.

 

Pembenahan sistem transportasi mutlak diperlukan, kemacetan harian di ibu kota mencerminkan pemborosan penggunaan BBM yang luar biasa. Kemacetan membuat kendaraan tidak bergerak sama sekali sementara mesin hidup, itu artinya membakar BBM percuma. Alat transportasi sekarang banyak yang tidak hemat BBM. Sebagai contoh mobil dengan 1800 – 2000cc menggunakan 1 liter per 9 kilometer. Bayangkan jika 1 liter dapat dipakai untuk 25 kilometer. Maka kita dapat menghemat tiga kali lipat penggunaan BBM. Penyediaan Mass Rapid Trasportation di masa depan akan memberi dukungan yang berarti bagi penghematan BBM. Di samping itu dukungan terhadap alat transportasi yang hemat BBM perlu diberikan. Coba bayangkan jika semua kendaran yang berlalu lalang di jalan memakai energi hybrid dan irit BBM. Dan tidak kalah penting adalah keberadaan industri yang dapat memanfaatkan energi dengan efisien.

 

Pesimisme tidak selalu buruk. Pesimisme akan penyediaan energi masa depan yang semakin suram akan senantiasa mendorong kita untuk waspada dan bijaksana dalam penggunaan energi, karena memang BBM tidak terbarukan. Kecerobohan pemanfaatan BBM dengan cara menguras habis cadangannya tanpa mencari energi alternatif menjadi utang kepada generasi masa depan. Sehingga seharusnya pola pemanfaatan energi yang bijaksana sudah seharusnya dapat memberikan landasan yang kuat bagi ekonomi di masa sekarang dan masa depan.

 

Secara singkat beberapa poin pengamanan ketersediaan energi masa depan meliputi: pertama pola penghematan penggunaan, kedua pengembangan sumber energi alternatif, ketiga pengembangan alat transportasi masal dan moda transportsi yang hemat BBM, dan keempat inovasi teknis pencarian sumber daya energi. Akhirnya volatilitas harga minyak di tengah-tengah berkurangnya cadangan minyak mudah-mudahan tidak lagi membawa dampak yang negatif karena substitusinya sudah tersedia secara luas.

Sekian.

7 April 2005

Saptono, Ak.

Tulisan bersifat opini pribadi

Pemerhati masalah ekonomi