Menjalankan suatu organisasi apalagi di luar negeri adalah suatu tantangan yang cukup lumayan menyita energi. Kalau bukan dari panggilan hati dan rasa ikhlas dan hobby niscaya kita tak akan dapat menjalankan semuanya ini.

Sebagai pelajar dan juga punya orientasi lain yang mirip-mirip dengan students yang lain yaitu mengumpulkan dollar, aku meluangkan waktu untuk berbakti pada organisasi (UQISA).

Kalau aku hitung-hitung berapa jam aku korbankan dan berapa dollar yang aku belanjakan semuanya tidak aku hitung demi kemajuan organisasi. Dan juga demi kepusan diri karena bisa menyelenggarakan event yang bermutu yang berguna dan menyenangkan banyak orang.

Yang namanya berbakti tentunya kita seratus persen tidak akan mengharapkan return berupa finansial. Apa yang aku tuju adalah belajar berempati, belajar bagaimana susahnya orang-orang yang bekerja sebagai pelaksana dan menjadi orang yang berguna bagi orang lain, masyarakat dan sosial.

Dengan menjadi multi event coordinator dan terjun langsung di berbagai kegiatan organisasi kita akan dapat merasakan tekanan-tekanan psikis, mental bahkan fisik….. karena apa? mulai dari ide, drafting, preparation, meeting-meeting, reporting sampai menjawab pertanyaan shareholder yang kadang-kadang berupa ktitik memang sangat menguras energi tenaga dan waktu. So aku selalu menampillan slogan Mari jadikan UQISA sebagai lahan untuk belajar dan mengabdi.

Saya masih teringat kata-kata Ibu Presiden UQISA (Sitti Maesuri) yang kurang lebih maknanya adalah bahwa mengikuti leadership skill course tidak akan sebagus ketika kita berada di UQISA. Di UQISA kita belajar dan langsung praktik. Kita mengetahui medan laga secara langsung, kita tahu realitas massa yang kita harus kelola, kita juga akan mengerti bagaimana mengantisipasi segala efek positif maupun negatif policy yang sebelumnya rencanakan.

Kita juga menjadi tahu aspek psikologis dari teman-teman teman yang duduk dalam kepanitiaan event-evant tertentu dan juga suara shareholder yaitu grassroot UQISA (member UQISA).Pendek kata leadership tanpa pengalaman pribadi adalah nol besar.

Menjadi pengurus organisasi adalah belajar melayani. Sebagaimana kultur kepemimpinan yang sekarang ini masih menjadi wacana yaitu bagaimana menjadi birokrat yang melayani kepentingan shareholdernya/rakyatnya. Ketika kita berada dalam tatanan praktis maka pola berfikir pelayanan (Prime service) tentunya harus kita utamakan. Di jaman baheula kita masih terngiang-ngiang slogan pegawai negeri adalah pelayan masyarakat, tetapi di realita kehidupan sehari-hari bukti masih jauh dari harapan itu.

Jalannya organisasi bukan hanya menggantungkan pada berapa banyak dana yang kita miliki. Walaupun misalnya ada-ada saja yang menghambat apalagi dana , itu bukan menjadi hambatan. Asalkan ada niat, kemauan dan ketrempilan dalam berkomunikasi niscaya dana kan kita dapatkan. Pengalaman selama menjadi pengurus UQISA bersama Ibu Sitti, pendekatan (approach ke Union- International Students officer, waktu itu dijabat oleh Ariel Radzinsky , ternyata dia Yahudi dari Israel lho) membuahkan hasil, mereka memberi 300 dollar (lumayan khan).

Trus proposal yang kami susun yang diajukan ke International Education Directorate UQ berhasil membuahkan 3000 dollar melalui 3 projek yaitu induction program, newsletter dan website. Sayang website belum diapprove mungkin karena kami mengajukan dana terlalu besar. Pencapaian ini sungguh –saya pribadi menilai—- sangat luar biasa dari effort seorang presiden UQISA (Ibu Sitti) Bagaimanapun saya belajar banyak dari gaya kepemimpinan beliau.

Tetepi perlu juga diingat bahwa perjuangan untuk mendapatkan dana juga tidak dengan mudah. Proses penyusunan prosal sampai bagaimana berkomunikasi dengan David Bunyan (Officer di International Education directorate) membutuhkan berfikir secara ekstra.

Dimulai dari penyusunan proposal yang makan waktu juga karena kita harus mengumpulkan para calon pelaksana projek yang terdiri dari saya sendiri, Denny , Tari Mokui dan Riza. Kita harus mengetahu ide apa yang ada di benak kita semua. Dituangkan dulu dalam bentuk draft kita diskusikan lalu kita bahas bersama-sama. Tidak ketinggalan pula budget.

Setelah ide-ide tertampung semua dalam bentuk tulisan, lalu timbul lagi pertanyaan bagaimana menungkan dalam bentuk proposal yang bagus yang menunjukkan keseriusan kita terhadap kegiatan ini. Akhirnya kita undang pakarnya… (Pak Marcel) untuk menjadi adviser kita mengenai layout proposal, bagaimana menjadikan proposal ini menjadi sesuatu yang benilai bagi UQ dan yang paling penting adalah bagaiman proposal ini mendapatkan dana. Setelah itu reviu proposal ke Shannon (Lecturer di UQ) untuk mendapatkan bagamana comment- dari native speaker.

Itu dulu yaa……

SW