Ada banyak sisi menarik dari menjalani puasa di Australia. Ketika waktu adzan shubuh dikumandangkan tanda puasa dimulai, semua kegiatan makan dan minum harus dihentikan. Mulutpun juga harus bersih dari makanan karena “who knows that” dari sisa nanti akan mengalir ke perut he he he. So biar puasanya lebih afdol dan kita terbebebas dari keragu-raguan maka sudah selayaknya kita harus sikat gigi setelah waktu dimulainya puasa.

Secara umum, di negeri yang mayoritas penduduknya non muslim, menjalankan ibadah puasa saya rasakan tantangannya lebih berat. Mulai dari faktor lingkungan, studi sampai pada kegiatan kerja yang kurang lebih telah menjadi bagian yang lekat dari kehidupan.

Dari faktor lingkungan, kita tidak menjumpai ada hal yang berubah. Para perempuan bule, menyambut musim summer malahan akan lebih terbuka lagi. Kalau pada waktu musim dingin, mereka masih berpakaian agak tertutup, puasa sekarang yang jatuhnya bulan September – Oktober (masa peralihan ke musim summer) keadaan mulai berubah. Tank top di mana-mana, rok mini juga, so bagain paha dan dada juga semakin terbuka saja. menyikapi hal ini mungkin yang bisa dilakukan hanya cuek dan anggap saja mereka bukan bagian dari segmen kita. Ini untuk menghindari godaan iman.

Mengenai toko-toko makanan yang tetap buka sepanjang waktu, hal itu tak menjadi soal karena kita sudah terbiasa tidak ke sana, dan juga toh makanannya banyak yang halal.

Faktor yang agak menguras tenaga adalah studi dan bekerja. Bayangkan saja kalau kita harus begadang mengerjakan assignment atau harus belajar untuk mempersiapkan kuis dan ujian sedangkan pagi menjelang siang harus bekerja dan juga puasa. Ini baru tantangannya……Al hasil selama bulan ramadhan 2007, saya jadinya tidak bisa berkonsentrasi penuh untuk menjalankan semua sunnah dan kewajiban lain di bulan ramadhan.

Dalam keadaan perut lapar, otomatis konsentrasi berfikir juga menurun, oleh karena itu kegiatan belajar dan berfikir banyak dilakukan di malam hari. satu kata kunci adalah penjadwalan diri. Karena dengan belajar di malam hari maka waktu tidur menjadi berkurang, sehingga harus digantikan di siang hari. Penjadwalan ini menjadi penting karena pada saat siang hari kita juga harus dituntut untuk mengerjakan aktivitas lain seperti kuliah dan kegiatan yang lainnya.

Yang kedua adalah bekerja, ketika waktu sahur berlalu, pagi-pagi sekitar jam 5 saya sudah ahrus berangkat kerja sampai menjelang siang (sekitar jam 9). Untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan ketahanan fisik ini , dehidrasi pasti terjadi karena kita tidak mendapatkan asupan air dan ini menjadi masalah. Oleh karena itu waktu istirahat menjadi harus direschedule lagi karena fisik membutuhkan waktu untuk recovery, apalagi kalau akan dipakai untuk kuliah atau mengerjakan assignment atau kuis. Karena hal inilah saya resign dari pekerjaan wee-day.

Akhir pekan, kita tidak tahu workload kerjaan week-end ini karena kuantitas yang dikerjakan fluktuatif. Nah pas puasa kemarin, ternyata junkmail-nya makin banyak aja. Otomatis waktu untuk melipat dan mengantar harus lebih diperbanyak. Alhasil pada beberapa week-end kemarin delivery junkmail untuk satu daerah bisa lebih dari 3 jam, kalau ini dikerjakan pagi maka siang hari rasanya capeueek banget.

Mengenai pola makan, sahur dan buka, untung saja ada musholla. Minimal untuk buka puasa saya nggak harus masak. Cukup untuk masak buat sahur dengan menu yang sederhana saja. Saya terpaksa masak karena katering langganan mendadak berhenti pas puasa ini, dan akan lanjut setelah lebaran.

Kesimpulannya, yang penting adalah manajemen waktu dan berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan, waktu dan ibadah. Mudah-mudahan saja ramadhan tahun depan keadaan bisa lebih baik daripada sekarang.