harjuna_pandu.JPG

Rumah di kampung kadutan adalah rumah yang sangat bersejarah. Di sinilah peradaban keluarga dibangun dan cerita mengenai silih berganti kehidupan mewarnai perjalanan rumah itu.

Awal mulanya aku tak tahu karena tidak ada buku sejarah yang menceritakannya. Hanya kata-kata dari orang tuaku yang masih aku ingat bahwa rumah itu dibangun semenjak mereka dulu menikah.

Awalnya berupa rumah dengan dinding “gedhek” yang tiap tahun harus diperbaiki karena dimakan rayap. Lantai-nya dulu belum diplester pakai semen. Waktu itu juga belum dipondasi, masih sangat sederhana dan bersahaja seperti layaknya wajah pedesaan tempatku berasal.

Wajah rumah “limasan” in lambat laun berubah seiring dengan perbaikan ekonomi keluarga. Buat kebanyakan warga desa, perbaikan rumah yang paling urgent adalah memperkuat pondasi. Setelah itu membuat dinding tembok. Setelah itu mengganti soko guru lalu mengganti bahan rumah yang asalnya dari kayu batang pohon kelapa dan kayu “trembesi” atau munggur ke kayu jati.

Satu bagian rumah limasan ukurannya sekitar100 – 120 m persegi. Untuk ukuran desa, itu hal yang wajar karena rata-rata memangberukuran seperti itu.

Ingat rumah ingat pepatah yang berbunyi seperti ini:
Nak… jadilah dirimu sekuat soko guru jati yang menopang rumah ini. Buatlah dirimu tangguh dan tiada lekang oleh jama. Hiasilah dinding dan atap tumahmau agar selalu indah dipandang dan bisa mengayomimu sepanjang hari…..

Rumah Limasan yang dibangun Ibu dan bapakku adalah rumah tradisional jawa. Rumah itu ada tiga bagian, Depan yang disebut pendapa, rumah “mburi” yang ada di bagian belakang dan “gandok” atau dapur. Selebihnya ada bagian kecil untuk tungku dan kamar mandi.

Bentuknya, sama dengan sebagian besar rumah di kampung yang disebut limasan. Itulah mengapa aku sebut limasan. Rumah “pendapa” ditopang oleh 8 tiang. Atapnya ditopang oleh usuk kayu jati, dindingnya dari gebyok dari jati juga. Rumah “mburi” kurang lebih sama dengan rumah pendapa, bedanya di bagian belakang rumah mburi ada bagian yang disebut singgetan dan sentong yang sekarang menjadi kamar. Di bagian belakang juga dibatasi dinding tembok. “Pendapa” dan “mburi” dibatasi oleh “gebyok” jati dengan kombinasi kaca kembang berwarna hijau, kuning dan merah.

Di rumah “mburi”, antara bagian tengah dan sentong dibatasi oleh dinding kayu partisi berukir yang disebut “Petangaring” hasil karya Pak Sapari, seniman ukir dari tetangga desa. Bentuknya sangat bagus dan indah, dulu saudara sepupuku (Heri- Buang) yang memplitur petangaring itu hingga kelihatan mengkilat dan tahan dari ngengat.

Ukiran di “petangaring” melambangkan tokoh-tokoh pewayangan yang memiliki sikap kesatriya dan berbudi luhur. Di sisi barat ada Arjuna dan Pandu, kemudian Bratasena, Di bagian tengah ada “Gunungan”, lalu Kresna, lalu Arjuna kembali yang berpasangan dengan Puntadewa.

Sampai sekarang lantai di “pendapa” masih dari batu bata belum ditutup dengan keramik, karena Ibuku bilang lantainya masih dipakai untuk menjemur gabah hasil panen dari sawah……..

Rumahku, tempat yang tidak bisa aku tinggalkan dan selalu hadir dalam mimpi-mimpiku…….