kereta_m.jpg

Courtesy: Pedje at Flickr.com

Mudik di lebaran tahun 2000 adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Waktu itu aku sengaja berangkat dari Jakarta pas hari H lebaran dengan harapan para pemudik sudah pulang duluan dan gerbong kereta menjadi sepi. Mbah Penji Putri, juga bilang seperti itu katanya… “lik pulangnya habis lebaran aja, nunggu kereta sepi”.

Dengan pengharapan seperti itu aku berangkat ke Stasiun Manggarai. Ternyata penumpang di stasiun ini sudah terlalu banyak dan membludag. Para penumpang dan keluarganya banyak yang duduk-duduk di lantai peron. Begitu aku dengar pengumuman kereta menuju solo ada di jalur sekian (aku lupa…. jalur berapa) langsung saja aku naiki kereta ekonomi itu..

Aku tak kebagian tiket karena untuk kereta ekonomi ini tiket sudah habis. Daripada nggak pulang kampung tak apalah aku naik, toh nanti juga bisa bayar di “atas” langsung ke kondektur.

Waktu itu aku nggak dapat tempat sama sekali, aku hanya kebagian duduk di jendela. Inilah awal penderitaanku. Dari Manggarai kereta api sudah penuh ketika tiba di stasiun Jatinegara wuaahhh penumpang pada “kesetanan’ merangsek ke dalam. Hampir tidak ada tempat yang tersisa di kereta itu. Jangankan untuk duduk untuk berdiri saja susahnya minta ampun.

Aku pikir untung juga aku bisa duduk di jendela, walaupun kaki di dalam terjepit oleh kaki-kaki yang lain. Tetapi ternyata susah juga karena resiko terjatuh dari kereta juga sangat besar. Bagaimana tidak, kalau harus melawan kantuk dan juga tangan harus memegang bagian atas jendela untuk menjaga agar tubuh tidak jatuh dari kereta.

Selama perjalanan kereta yang “sarat penumpang itu” semalaman aku tidak tidur sama sekali, tidur berarti nyawa melayang. Angin malam menerpa tubuhku dengan keras, kepala pusing dan mulai melayang karena lelah.

Waktu istirahat benar-benar aku manfaatkan. Hal yang sangat biasa jika kereta ekonomi sering berhenti, memberikan jalan ke kereta eksekutif. Lama berhenti kereta ekonomi ini bisa sampai seperempat jam. Para penumpang yang “nggandhul” termasuk diriku memanfaatkan waktu “kres” ini untuk kencing dan juga merebahkan diri di pelataran peron barang sejenak.

Lumayanlah daripada tidak sama sekali, untuk sekedar mengurangi rasa capek. Aku belum pernah aku rasakan capek yang luar biasa seperti ini. Tetapi karena terlanjur basah naik kereta”setan” ini, apa boleh buat. Masak harus berhenti trus sambung naik bis, nggak lucu sama sekali. Kalau seperti itu bisa-bisa dua hari baru bisa sampai di kampung.

Aku berfikir, yaah nggak apa-apalah merasakan penderitaan sebagai orang miskin. Ternyata menjadi orang yang miskin nggak enak juga….

Hampir saja aku menyerah ketika sampai di Purwokerto karena penumpang tidak kunjung berkurang. Rasa lelah sudah sampai ke ubun-ubun, kaki kram, kepala pusing dan leher kaku. Dan yang parah rupanya mereka kebanyakan turun di stasiun Jogja dan Solo.

Dengan tenaga yang tersisa aku bertahan sampai di Jogja. Dan akhirnya … hmmmm dari Jogja ke Solo kereta mulai sepi karena penumpangnya banyak yang turun di stasiun Lempuyangan Jogja. Aku menarik nafas lega. Aku rebahkan diriku di bangku kereta yang kosong, lalu kututup mukaku dengan koran. Aku tak ingat lagi, sampai akhirnya aku tiba di stasiun Solo.