The worst jobs in History (WJH), sebuah acara dari Channel 4 dan juga disiarkan BBC di UK mencoba untuk mengajak kita melihat bagaimana keras dan susahnya hidup tanpa teknologi. Kisah mengenai berbagai pekerjaan di abad lampau di UK mungkin masih dilakukan orang- orang di negara kita. Sementara mereka sudah meninggalkan cara-cara itu ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Melihat bangsa Inggris sekarang dengan derivasinya di Australia, New Zealand, Afrika Selatan, Canada, dan USA siapa mengira bahwa nenek moyang mereka dahulu keadaannya jauh terbelakang juga. Mulai dari nol, dijajah bangsa lain, berada dalam kegelapan sampai akhirnya melakukan penjelajahan untuk menemukan dunia baru sampai pada revolusi teknologi yang merubah bangsa mereka menjadi salah satu bangsa termaju di dunia.

Trus apa manfaatnya melihat acara ini? setelah melihat acara ini kita pasti akan ngeh… betapa tidak majunya dan betapa kalahnya kita dari bangsa-bangsa lain dalam penguasaan teknologi. Dengan melihat acara ini kita akan diajarkan nilai-nilai kerja keras nenek moyang bangsa Inggris jaman lampau yang selalu bergerak maju dan selalu berinovasi. Bandingkan dengan karekater bangsa kita yang suka akan “stagnansi”. Cepat puas terhadap apa yang sudah dicapai dan rendah daya inovasinya. Stagnansi adalah suatu istilah untuk menggambarkan perkembangan masyarakat yang sangat lambat dari segi pemanfaatan teknologi bahkan mungkin di beberapa sisi mengalami setback / kemunduran.

Kita juga sering menghadapi masalah yang tidak bisa diatasi. Bencana akibat ulah dan kelalaian manusia yang berulang-ulang yang seolah-olah tidak ada jalan keluarnya. Ini menunjukkan betapa bodohnya kita….. tidak bisa berfikir secara makro, dan lupa bahwa yang perlu dilakukan hanyalah “just think beyonds the box”. Satu lagi karena catatan sejarah kita yang lemah, dan karakter bangsa kita yang mudah lupa maka menjadikan kejadian-kejadian memalukan dan konyol terus berulang. Padahal mereka yang ada lingkaran pembuat “public Policy bisa saja berfikir jangka panjang, dengan melihat analisis kebijakan yang dibuat dampak yang ditimbulkan dari segi possitif dan negatifnya.

Back to (WJH), di acara ini kita akan diajak untuk menyelami sejarah bangsa Inggris selama 2000 tahun terutama mengenai cara-cara mereka melakukan pekerjaannya. Suatu hal yang dianggap berat (bila diukur dari segi fisik) meskipun pada zaman tersebut merupakan hal yang biasa. Presenter acara ini adalah Tony Robinson.

Secara kronologis acara ini dibagi menjadi 6 periode yaitu Roman/ Anglo-Saxon, Medieval, Tudor, Stuart, Georgian dan terakir Victorian.

Roman/Anglo Saxon

coenwulf_anglo_saxon_gold_coin.jpg

Sebelum menuju zaman Anglo Saxon, ada baiknya kita menuju ke sejarah bangsa Inggris pada zaman abad pertama Masehi. Dalam tulisan yang saya kutip dari BBC History, pada awalnya ada sekitar 27 suku yang mendiami tanah Inggris. Satu-satunya sumber mengenai hal ini berasal dari penulis Romawi yang pernah megunjungi Inggris (Britain). Tulisan ini dibuat pada saat Britain dikuasai oleh Romawi pada abad pertama masehi. Salah satu tulisan mengenai hal ini dibuat oleh Tacitus dam Ptolomy yang mencatat daftar suku-suku di Inggris.

Nenek moyang bangsa Inggris berasal dari dataran Eropa Utara di wilayah yang sekarang disebut Jerman dan Denmark. Kedatangan mereka berangsur-angsur mengisi peradaban, walaupun masih rendah dan terbelakang. Suku-suku dari Eropa Utara ini disebut Viking, yang memang gemar menjelajah ke mana-mana. Bangsa Viking juga merupakan nenek moyang bangsa Eropa Utara seperti Denmark, Swedia dan Norwegia.

Awal mula Inggris secara tradisional ditandai dengan arus invasi. Walaupun demikian dari bukti sejarah, peradaban Inggris didukung oleh paling tidak sejumlah 10,000 orang yang masuk dan keluar dari Inggris dalam populasi yang substansial. Diantara suku-suku yang telah berada di Inggris, mereka juga saling berperang, persis sama dengan beberapa perang suku yang terjadi di Indonesia di abad 20 ini, sebut saja di Kalimantan dan Papua.

Sebelum kedatangan Bangsa Romawi, Inggris hanyalah entitas geografi yang tidak memiliki arti secara poolitik dan tidak memiliki satu karakter identitas budaya. Sampai pada suatu saat di tahun 1707 dimana persatuan antara England, Wales dan Scotland melahirkan istilah British. Sejak saat itulah mereka yang tinggal di Britain menyebut diri mereka British.

Invasi Romawi di tahun 43 setelah Masehi, menandai permulaan masuknya kebudayaan Romawi dan juga membawa teknologi yang telah mereka kuasai. Walaupun demikian, daerah Scotland masih belum tersentuh sama sekali orang pasukan Romawi. Mulailah peradaban Romawi dimulai, menjelang tahun 300 setelah Masehi, walaupun penduduk asli masih menggunakan bahasa dengan dialek Celtic mereka menyebut dirinya sebagai bangsa Romawi. Intrusi kebudayaan Romawi ini tidak disertai dengan arus migrasi dari Romawi sehingga sangat berdampak positif.

Dari Wikipedia kata Anglo Saxon merupakan istilah untuk mendeskripsikan orang-orang yang secara etnik dan budaya yang hidup di selatan dan timur pulau yang sekarang disebut Great Britain masa itu dari sejak abad 5 masehi sampai penakhlukan oleh Norman di tahun 1066. mereka berbicara dengan dialek bahasa suku-suku di Jerman sehingga mereka diidentifikasi memiliki kesamaan keturunan dengan bangsa Jerman. Suku-suku itu adalah Angles dan Saxons dari Jerman Utara dan Jutes dari Denmark.

Ada 4 Pekerjaan yang akan saya iraikan di zaman Anglo saxon:

1. Pengumpul telur Guillemot

Bagi yang takut ketinggian pekerjaan ini pastilah sangat menakutkan. Gullemot adalah burung laut uang meletakkan sarangnya di tebing yang tinggi di tepi pantai. Burung-burung ini meletakkan telurnya di sarang mereka di tebing itu untuk menghindari predator..

Dengan seutas tali dan ember dari kayu, para pengumpul telur ini menuruni tebing dengan bantuan beberapa orang di atas yang memegangi tali. Pada saat telurnya diambil burung-burung ini secara terus menerus menyerang, kebayang nggak susahnya mengambil telur sambil mengahalu burung-burung yang terus menerus menyerang kita. Burung-burung itu tidak rela telurnya diambil. Resiko yang dihadapi yaitu jika tali putus maka nyawa melayang. Memanjat dengan peralatan modern saja membuat kita takut apalagi kalau cuman berpegangan dengan satu tali.

Bayangkan dengan para pengumpul sarang burung walet yang memanjat tebing dengan telanjang (tanpa tali dan tanpa tali), juga para pekerja bangunan yang bekerja di gedung-gedung tinggi di Jakarta yang kerap terjatuh dan tewas karena tidak memakai pengaman sama sekali.

2. Pekerja tambang emas di Zaman Romawi

Posisi para pekerja tambang berada dalam kondisi yang menyedihkan, di kegelapan bawah tanah di kedalaman 25 meter tanpa peralatan apaupun selain kampak dan wadah untuk membawa batuan- yang diperkirakan berisi emas. Emas diekstrak dari lapisan di bawah lapisan bumi menggunakan beliung/kampak yang menghasilkan percikan-percikan kecil yang bisa membuat buta jika mengenai mata. Api dihidupkan untuk mempercepat ekstraksi emas, resiko terbakar dan terkena percikan api sangat besar, juga resiko ledakan besar sekali jika air terpercik ke lapisan batu yang panas.

Ini mengingatkan saya pada saat mengunjungi Gold Mine di Sovereign Hill di Ballarat, Victoria, bulan Januari 2007 lalu. Kondisi tambang emas jauh di dalam tanah, sangat gelap dan pengap. Bagian kanan, kiri dan atas ditopang dengan kayu, jika saja kayu penahan patah maka penambang pasti terkubur hidup-hidup. Tambang di Sovereign hill pasti sudah lebih modern dibandingkan dengan zaman Saxon, so kita pasti ngeri membayangkan betapa ngerinya berada di terowongan tambang itu….

Setelah mendapatkan batuan yang mengandung emas, pekerja tambang membawanya di punggung dengan wadah melewati jalur-jalur sempit menuju permukaan tanah. Penambang dapat setiap saat tertimpa batuan. Beratnya pekerjaan ini menjadikan hanya budak dan narapidana yang melakukan pekerjaan ini .

Deskripsi dari Peter L Bernstein, pengarang buku The Power of Gold: The history of an obsession,:

Deskripsi yang paling nyata mengenai pengalaman menakutkan para pekerja tambang diceritakan oleh Diodorus, orang Yunani yang mengunjungi Mesir pada saat Julius Cesar menguasai Romawi. Udara di dalam terowongan sangat tipis, dan semakin menipis jika lilin kecil dinyalakan. Udara panas semakin menyengat, rengkahan dari batuan terkadang mengeluarkan asap arsenik yang bisa membunuh orang yang menghirupnya. Para budak yang menjalankan pekerjaan ini, di ruang yang sangat sempit, saling bertolak belakang atau berdiri dari bersisihan dan umumnya mereka bekerja sampai mati karena kejatuhan batu jauh sebelum mereka mati lemas karena kelelahan.

3. Tukang Bajak Saxon

Jika anda mencari kehidupan yang sunyi, jauh dari stress karena pekerjaan kantor, pekerjaan ini mungkin sesuai untuk anda. Tetapi, persyaratannya anda harus menjadi petani bebas dengan bebepara acre tanah atas nama anda. Tanah perlu diolah dengan bajak sederhana yang ditarik lembu, paling tidak satu acre per hari. Di bawah ini deskripsi mengenai tukang bajak di rutinitasnya di musim dingin di Aelfric’s Colloquy (c. 1000 Setelah Masehi.

“Saya keluar di kegelapan malam, mengarahkan sapi ke kebun dan memasang bajak di tubuh sapi itu. Tidak ada musim dingin yang keras yang membuat saya harus tinggal di rumah; dengan sapi yang dipasangi bajakd engan mata bajak yang ditancapkan ke dalam tanah, saya harus membajak paling tidak satu acre…”

Sapi pada umumnya berjalan lambat di tanah yang berlumpur apalagi harus menarik beban berat bajak. Untuk mengarahkan sapi maka disediakan tongkat untuk mengalau juga suara keras untuk membentak lembu diperlukan juga. Keberhasilan dalam pekerjaan ini berarti tanah bisa ditanami, dipanen dan dimakan oleh seluruh anggota keluarga, sehingga bisa bertahan hidup. Kegagalan berarti kelaparan dan mati.

Bersambung…………………

Source:

http://en.wikipedia.org/wiki/Anglo-Saxons

http://www.royal.gov.uk/output/Page14.asp

http://www.bbc.co.uk/history/ancient/british_prehistory/iron_01.shtml

http://www.channel4.com/history/microsites/W/worstjobs/roman.html