irwc.jpg

Getty Images 

Rugby, Olahraga yang baru aku tahu setelah berada di Australia. Pertama kali aku meihat acara ini di channel 9 yang menyiarkan liga rugby profesional yang disebut NRL (National Rugby League). Setelah itu aku melihat jenis rugby lain yang cara mainnya berbeda dengan Rugby di NRL. Waktu itu aku melihat pertandingan antara ALL Black (Tim nasional New Zealand) bertanding melawan The Wallabies (Tim nasional Australia). Setelah beberapa kali melihat akhirnya aku tahu bahwa kedua rugby ini memang berbeda.

Rugby yang terakhir aku sebut berasosiasi dengan World Rugby Union dengan aturan standar internasional. Sedangkan Rugby di NRLtidak ada asosiasinya secara internasional dan aturannya bersifat lokal dan spesifik hanya di Australia. Sebelumnya aku tidak terlalu tertarik melihat pertandingan rugby, tetapi lama kelamaan karena tidak ada tontontan soccer di TV maka Rugby pun menjadi aternatif. Saya menggemari keduanya baik rugby union maupun NRL.

Hari minggu lalu (21 Oktober 07) pagi dini hari jam 4 waktu Brisbane, pertandingan final Worldcup Rugby union berlangsung antara Inggris melawan “bekas anak” Afrika Selatan (RSA) yang lebih keren disebut dengan nickname Spring Box. Pertandingan itu akhirnya dimenangkan oleh RSA dengan skor tipis 16 – 9. Pertandingan ini mengulangi pertandingan di penyisihan grup yang waktu itu Inggris kalah telak 36 – 0.

Penyelenggaraan Rugby Worldcup berlangsung dari tanggal 7 September – 21 Oktober 2007 di dua negara yaitu Perancis dan Inggris. Dibandingkan dengan piala dunia soccer, Rugby relatif masih muda karena piala dunia pertama dimulai pada tahun 1987. Dan Rugby tahun 2007 ini merupakan piala dunia ke-enam. Daftar negara yang pernah menjadi juara adalah Inggris 1 kali tahun 2003, Australia 2 kali di tahun 1991 dan 1999, Afrika Selatan 2 kali di tahun 1995 dan 2007, dan New Zealand sekali juara di tahun 1987.

Rugby Worldcup 2007 itu diikuti 20 negara. Jepang merupakan satu-satunya wakil Asia. Prestasi terbaik mereka adalah menahan seri Canada 16 -16. Selebihnya kalah telak dari tim-tim lain. Kekalahannya hanya sederhana, yaitu kalah kuat secara fisik….. maklum orang Asia tidak bisa sebesar orang keturunan Eropa…

Namun ada juga tim dari belahan pasifik yang mungkin nama negaranya agak asing di telinga yang ikut di pentas piala dunia rugby. Tim-tim tersebut adalah Tonga, Samoa dan Fiji.  Tonga dan Samoa negara yang kecil banget… jumlah penduduknya pun hanya ratusan ribu, tetapi penampilan mereka cukup lumayan. Prestasi mereka lebih baik daripada Jepang.

Sayang sekali, saya nggak bisa menonton full semua pertandingan yang disiarkan oleh channel 10 karena pas waktu itu lagi puasa dan mainnya dimulai jam 11 malam dan jam 4 pagi. Jam-jam yang mengharuskan kita untuk tidur. Lagian juga waktu  pagi-pagi harus berangkat kerja…… apda waktu  pertandingan final juga nggak bisa selesai menonton karena harus nganter junkmail…. hua hua….

Apa yang menarik dari pertandingan ini. Secara pribadi kalau menonton pertandingan ini pasti akan mendorong kita pergi ke Gym. Bayangkan para pemain rugby yang besar-besar dan berotot serta harus bertarung di lapangan saling banting dan dorong mirip martial art di lapangan. Pasti jadi pengin punya otot kayak mereka. Sportifitas juga sangat dijaga karena kalau bertindak tidak fair maka tendangan penalty untuk lawan yang berarti skor lawan tambah 3 biji.

Berat rata-rata pemain lebih dari 100 kilo dan sudah pasti tinggi pula….. kalau mereka mengadakan “Scrum” adu bahu untuk memperebutkan bola, maka akan kelihatan mana-mana tim yang fisiknya lebih lemah. Yang kalah pasti terdorong ke belakang. Namun demikian beberapa pemain juga harus bisa berlari cepat untuk melakukan “try” atau menaruh bola di belakang garis gawang lawan. Pemain yang bertubuh lebih langsing biasanya lebih diberikan peran untuk melakukan try karena merek lebih lincah menghindari sergapan lawan dan berlari dengan kencang. Salah satu pemain yang luar biasa cepat dalam hal ini adalah Bryan Habana dari Afrika Selatan. Dia adalah pemain salah satu pemain kulit hitam dari bermain di tim Afrika Selatan.

Yang membuat aku agak heran, walaupun terkena tackle, terbanting, terhempaskan, bahkan mungkin bisa secara tidak sengaja terpukul namun para pemain masih dapat menahan emosi. Para rakasasa tersebut masih bisa kalem dalam berbicara. Lihat saja misalnya ketika melihat kapten Australia “Stirling Mortlock” yang sangat kalem, tubuh besar tidak membuat mereka berangasan. Aku nggak tahu ya kalau permainan ini diimpor ke Indonesia kayak apa ya jadinya?? Mungkin yang akan terjadi adalah tawuran di lapangan.

http://en.wikipedia.org/wiki/Rugby_World_Cup

http://www.foxsports.com.au/rugby/worldcup

http://www.rugbyworldcup.com/