Apa arti dari kata-kata :menghargai diri sendiri? makna dari kalimat tersebut jika kita telusuri dengan lebih dalam ternyata berdampak pada beribu-ribu pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Maknanya juga berkaitan dengan image kita sebagai bangsa.

Image kita adalah kehormatan diri kita. Jika kita tidak ingin orang atau bangsa lain berupa negatif terhadap kita maka perbaiki dulu diri kita sendiri. Bangsa lain tidak akan menyebut negara kita negara yang penuh kriminalitas jika tingkat kriminalitas negara kita rendah. Bangsa kita nggak akan disebut bangsa yang bodoh jika kita mengalokasikan dana yang lebih banyak untuk pendidikan. Bangsa kita nggak akan disebut bangsa maling, jika kita dapat menekan korupsi.

Dalam konteks pribadi skala mikro Pepatah jawa bilang “ajining diri dumunung aneng Lathi, ajining raga ana ing busana” artinya kehormatan diri ada di perkataan dan kehormatan fisik tertampil di busana yang kita pakai. Pepatah itu secara literal sangat sederhana, tetapi jika ditarik ke garis besar dalam skala bangsa; perkataan dan fisik dapat diartikan sebagai Image bangsa dilihat dari perilaku umum masyakaraknya dan tampilan fisik yang dapat dilihat representasinya dapat dilihat di bersih dan rapinya wilayah kita (kota maupun pedesaan).

Kehormatan diri yang tampil dalam pepatah tersebut mengajak kita untuk berperilaku baik yang tercermin dari kata-kata dan perbuatan yang kita lakukan. Ini adalah cerminan budaya yang luhur yang mengajak kita untuk menghargai orang lain yang refleksinya juga berarti menghargai diri sendiri.

Perbuatan yang tidak baik ke orang lain pasti akan terpantul pada diri kita Ini seperti sebuah cermin yang yang memperlihatkan bagaimana kita menghargai orang lain. Secara makro apa saja gambaran riil masyarakat di sekitar kita yang bisa menggambarkan budaya kita? Hal-hal sederhana berikut ini menggambarkan keadaan menyedihkan bangsa kita:

1. Tidak ada sopan santun dalam berlalu lintas. Sudah rahasia umum jika berkemudi di Jakarta (Jakarta sebagi cerminan keadaan masyakarat kita) , mengalah berarti tergilas. Oleh karena itu orang-orang nggak ada yang mau mengalah dan memberikan jalan ke mobil lain, akhirnya….. bisa ditebak dampaknya “kontraproduktif”, jika satu lampu merah nggak berfungsi maka berkilo-kilo meter macet di jalan raya karena semua kendaraan akan beradu bemper di perempatan lampu merah.

2. Tidak memiliki budaya antri, lihat saja antrian dimana-mana, kalau nggak ada yang mengawasi, orang akan berebut untuk berada di depan. Contohnya, lihat saja di antrian pembelian tiket, antrian sembako dan lain-lain.

3. Buang sampah sembarangan, coba lihat di bus, kereta, dan di jalan jalan umum, orang buang sampah sembarangan saja serasa tidak merasa bersalah. Juga kita akan melihat orang yang kencing di sembarang tempat dan juga orang meludah dan membuang puntung rokok di sembarang tempat. Lihat Jakarta yang telah menjadi kota sampah. Jika kita lewat di beberapa titik tertentu, pasar, terminal dan trotoar jalan misalnya, kita akan menemui sampah yang berceceran di mana-mana dan bau menyengat dari sampah yang menggunung sudah biasa tercium seolah-olah itu sudah menjadi hal yang biasa.

4. Tidak menghargai disiplin, instead lebih toleran terhadap pelanggaran hukum. Contohnya: pasar pasar tiban yang sudah diperkirakan mengambil bahu jalan akan memacetkan lalu lintas, tetapi kenapa hal ini dibiarkan terjadi begitu saja….nggak ada kedisiplinan masyarakat kita

5. Point di atas juga merupakan bagian dari tidak menghargai hukum dan peraturan “Low power of law enforcement“. Tumbuhnya gubuk-gubuk liar di jalur hijau dan taman-taman kota, bertebarannya para preman dan orang-orang tidak jelas di kota-kota besar adalah ekses dari poor law enforcement. Terkadang di abad modern ini, masih ada hukum rimba yang berlaku di beberapa titik rawan, sebut saja di kawasan yang tempat para pedagang kaki lima berjualan.

6. Bangsa kita kelihatan telah kehilangan cara untuk memuliakan bangsa kita sendiri. Ini diakibatkan dari sikap pragmatis dan mau menang sendiri. Lihat saja bagaimana kondisi para penumpang di bus-bus umum di perkotaan dan juga di kereta ekonomi. Para penumpang ditumpuk persis seperti hewan yang diangkut truk. Cara-cara seperti ini sama persis dengan memperlakukan manusia seperti hewan.

7. Terkadang tidak menghargai substansi suatu permasalahan. Lihat saja inspeksi mendadak pasca lebaran di Jakarta. “Orang kok dinilai hanya pas sehabis lebaran saja.” Konyol betul cara-cara seperti itu. Akan lebih baik jika menilai performa karyawan dari bagaimana cara dia bekerja dalam rentang waktu yang lama, bukannya dengan menginspeksi kehadirannya setelah lebaran usai.

8. Birokrasi yang tidak menghargai masyarakat. Jika ingin mendapatkan pelayanan yang baik maka kita harus bersiap merogoh kocek lebih dalam. Segalanya diukur dari uang. Sangat jarang instansi pemerintah yang responsif terhadap komplain dari masyarakat, terutama mengenai rusaknya prasarana umum. Mungkin harus menunggu berminggu-minggu untuk direalisasikan, itupun juga harus komplain berkali-kali. Juga mengenai perizinan, kualitasnya sangat poor… ditengarai banyak pegawai pemerintah yang mengambil keuntungan dari sini. Pendeknya kualitas layanan nilainya masih dibawah 5.

9. dan lain-lain……………….masih ada seribu satu masalah dalam diri sebagai bangsa

Cerminan yang dilihat dari dua sisi yaitu dari perilaku dan penampilan membuat kita akan sadar untuk bisa menghargai diri sendiri. Dengan berperilaku baik terhadap diri sendiri maka otomastis akan berdampak pada orang lain dan lingkungan di sekitar kita. Jika ditarik garis besarnya sebagai bangsa maka cerminan perilaku pribadi ini akan menggambarkan keadaan diri kita sebagai bangsa. Pernah nggak terbayang jika melakukan hal yang tidak proper, maka orang dari negara lain yang kebetulan melihat kita akan berfikir “oh ternyata bangsa Indonesia kayak gini ya…”

Apa yang bisa kita lakukan, Bukannya berusaha mengimpor nilai-nilai barat namum dalam konteks perilaku, pertama mulai dari ucapan yang sederhana misalnya say sorry, atau bilang yes, you are right, I beg your pardon, thanks, atau sapaan assalamualaikum bagi yang muslim, atau have a good day brother , how are you (apa khabar) paling tidak bisa memberikan nuansa damai di tengah-tengah kita. Secara umum juga bisa menggambarkan image kita yang “ramah”. Yang agak susah untuk dilakukan yaitu memulai berbicara duluan karena penguasaan bahasa asing yang masih pasif, so dengan membiasakan diri bergaul maka seharusnya keadaan ini dapat kita minimalkan.

Kedua adalah sikap terhadap orang lain, Sebagai contoh, menghormati orang tua dan para disabled. Secara praktis yaitu misalnya memberikan tempat duduk ke mereka di bus, atau menuntun orang tua untuk menyeberang di jalan dan lain-lain. Kebiasaan seperti di atas sangat kental saya jumpai di Brisbane. Membentuk sikap mengormati orang lain juga tercermin dari sikap yang kita tunjukkan misalnya bisa bersikap sabar, mengembangkan sikap empathy dan simpathy dan tidak bertindak egois serta mampu menjadi penolong di saat orang lain membutuhkan. Yang terakhir ini betul-betul sangat diperlukan utamanya ketika kita hidup di luar negeri. Karena dengan adanya bantuan dan pertolongan akan membentuk sinergi sesama anggota komunitas.

Ketiga, dari penampilan fisik yang terlihat dari busana yang kita pakai juga mencerminkan kehormatan diri kita dan cara kita menghargai orang lain. Berpakaian yang bersih, rapi dan sopan (tidak harus mahal) adalah salah satu contoh untuk mendongkrak image kita. Tidak juga kita harus meniru orang barat yang suka berpakaian mini di saat musim summer.

Kelima, menjaga komitmen, kalau kita bisa menunjukkan bahwa kita memiliki komitmen yang kuat dalam semua urusan kita, maka orang lain pasti memberikan respek ke kita. Komitmen ini membuat kita untuk berusaha untuk memberikan yang terbaik, bersikap tepat waktu serta dialandasi oleh etos kerja/belajar yang tinggi.

Keenam, membudayakan sikap jujur. Point ini yang memang agak susah untuk dilaksanakan, tetapi kita pasti bisa melakukannya jikamemiliki kemauan. Sikap jujur sifatnya universal dan semua bangsa memiliki interpretasi yang sama mengenai nilai kejujuran. Dengan bersikap jujur kita akan mengurangi prejudice bangsa lain yang telah mendeviasikan value agama yang kita anut dengan apa yang kita lakukan sehari-hari. Kalau kita bisa merepresentasikan diri sebagai realitas nilai agama yang kita anut… wah saya yakin kita nggak akan dicap teroris deh……

To conclude.…. berjuang dengan memperbaiki diri kan membuat image kita menjadi lebih baik, jika masing-masing orang Indonesia berjuang untuk meningkatkan image-nya maka dalam konteks kebangsaan image kita dengan demikian juga akan meningkat…….

Semoga bangsa kita bisa lebih baik di kemudian hari……..

SW.