Berita di Surat Kabar Queensland “The Australian” hari ini 23 Oktober 2007 bertajuk “Garuda captain ignored warnings” cukup membuat kita agak kurang nyaman. Apa pasal? Wartawan The Australian; Stephen Fitzpatrick menulis bahwa berdasarkan temuan investigasi, kapten Garuda yang membawa pesawat jet yang mengalami kecelakaan 7 Maret lalu telah mengabaikan 15 sinyal peringatan dan co pilot berteriak kepadanya untuk tidak mendarat pesawat beberapa detik sebelum kecelakaan.

Pilot senior Marwoto Komar telah mengabaikan permintaan co pilot untuk berputar dulu sebelum pesawat mendarat. Tragisnya dalam laporan dari Komite Keselamatan Transportasi nasional, sang kapten bernyanyi-nyanyi dan terlibat dalam pembicaraan yang tidak perlu selama turun dari ketinggian 10,000 feet ke 4,000 feet, dan dia mendaratkan pesawat dalam kecepatan terlalu tinggi dan sangat panas. Pesawat itu menukik dan terlalu cepat mendarat dengan kecepatan 409km/h, 161km/h lebih cepat daripada yang seharusnya.

Apa yang membuat warga Australia berang dengan kecelakaan ini, pertama unsur kecelakaan disebabkan karena human error dan tuduhan mengarah ke Dirjen Perhubungan Penerbangan sipil yang gagal memonitor standar pelatihan pilot, dan menengarai tidak cukupnya peralatan pemadam kebakaran, suatu hal yang sangat signifikan untuk mengurangi kemungkinan korban dalam kecelakaan pesawat terbang.

Kedua karena ada lima orang Australia ada diantara 21 orang yang tewas dalam kecelakaan itu. Ini menambah daftar orang Australia yang tewas di Indonesia. Masih lekat dalam ingatan orang Australia Bom Bali, 12 Oktober 2002 yang merenggut nyawa 88 warga Australia diantara 202 korban tewas. Tidak itu saja, kecelakaan pesawat terbang di Phuket Thailand 17 September 2007 yang merenggut 88 nyawa dua diantaranya adalah warga australia, pilotnya orang Indonesia.

Berita hari ini, 23 Oktober di Channel 10 Australia menggambarkan, geramnya saudara perempuan korban. Dia berharap ada proses hukum yang bisa menjaring pilot yang menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut. Saya pribadi melihat respon seperti itu sangat wajar.

Berkaitan dengan itu, bagaimana sebenarnya pandangan warga Australia terhadap Indonesia mengenai peristiwa kecelakaan tersebut? Tampilan kecelakaan Garuda di Yogya yang ada di koran The Australian menggambarkan paling tidak opini umum orang Australia terhadap Indonesia. Ketika yang tampil di koran adalah berita negatif maka sentimen ini semakin memperburuk citra kita di luar negeri. Apa yang dikatakan koran mengenai kecelakaan tersebut disebabkan faktor “human Eror” memperburuk citra kita.

Lantas apa yang bisa kita perbuat? Sebagai banga, diplomasi dengan berbagai advertensi untuk memperbaiki image tidak akan bisa berhasil jika kita sendiri tidak bisa memperbaiki kondisi rill bangsa kita. That’s oke jika kecelakaan itu disebabkan oleh faktor alam yang ada di luar kendali manusia, tetapi kalau penyebabnya human error saya jamin pasti mengundang reaksi yang negatif.

Jika melihat dengan binocular jauh ke image kita, sungguh kita  akan sadar diri dan tidak marah jika bangsa lain berucap negatif ke diri kita. Kalau kita nggak berada di lingkaran luar, yang ada hanyala reaksi negatif dan kadang kelihatan tidak proporsional. Padahal kalau kita bisa melihat diri kita sendiri secara lebih netral  maka segera kita akan tersadar akan kelemahan kita. Masih ingat nggak dengan gambaran “seolah-olah kita berada di WC” yang artinya bau di dalam WC menjadi bukan masalah lagi karena kita berada di dalam WC tersebut, coba saja misalnya kita berada di luar WC pasti dech akan tutup hidung.

Contoh apa saja yang menggambarkan Image kita yang buruk di mata bangsa lain? Sebut saja beberapa hal seperti berikut: Apakah kita tidak akan marah jika dibilang “dasar Indon – stereotip orang Indonesia yang kebanyakan bekerja sebagai pekerja kasar di malaysia”. Orang Singapura yang bilang semua orang Indonesia mata duitan dan bisa disogok  Orang Australia ada juga yang bilang pernah kecopetan dan dipalak supir taksi  di Jakarta. Atau juga apakah kita nggak marah jika bangsa lain bilang kita ini tipe bangsa yang tidak sungguh-sungguh, kurang menghargai komitmen (jam karet) dsb….

Tidak hanya itu, cara kita menghargai diri sendiri maupun bangsa lain pun juga kurang baik. Salah satu contoh adalah wajah kita yang nggak pernah dibersihkan (nggak pernah berdandan rapi) acak-acakan. Dan wajah itu tertampil di pintu negara kita di bandara Internasional Soekarno Hatta. Bagaimana nggak acak adut kalau di bandara itu, banyak tukang taksi yang memaksa-maksa penumpang untuk naik, uang perjalanan fiskal luar negeri yang disetor penumpang pun digasak oleh preman bandara, dan yang lebih parah lagi bagaimana para preman menodai kehormatan bangsa sendiri dengan menguras harta benda para pahlawan kita yang baru pulang dari luar negeri (TKI).

Lantas apa yang bisa kita perbuat untuk memperbaiki image kita di mata bangsa lain. Tidak usah yang muluk-muluk dengan sesumbar “Indonesia Smile atau The Beauty of Indonesia “. Yang harus kita lakukan adalah menghargai diri  kita dan juga bangsa kita sendiri siapapun dia, dengan itu maka otomatis image kita kan tampil dengan baik di mata bangsa lain. Sederetan jalan panjang untuk memperbaiki image masih membentang di hadapan kita di era ini…………