Dua kali aku mengalami gagal submit di kuizz online. Dua kali pula aku tertolong oleh dosen yang ternyata responnya sangat luar biasa dalam memberikan pertolongan.

Kegagalan submit dikarenakan faktor teknologi adalah hal yang biasa, tetapi kesediaan dosen mencurahkan waktu “mungkin mereka sudah memiliki ekspektasi bahwa pastia da mahasiswa yang menghadapi masalh” adalah suatu hal yang patut dihargai.

Kuis on line sebagai salah satu bentuk asessment salah satu mata kuliah yang aku ambil di semester 2 ini. Mungkin aku memang type mahasiswa yang agak malas berebut komputer di kampus, aku mengerjakan kuis ini di rumah dengan laptop yang terhubung di internet. Meskipun memang ada note dari dosen bahwa mengerjakan kuis jenis ini sebaiknya dari kampus, mengingat banyak mahasiswa sebelumnya yang dapat masalah jika mengerjakan dari komputer rumah, lagi-lagi karena faktor koneksi internet yang kadang memang down.

Dan peristiwa itu aku alami, dua kali aku mengikuti kuis ini, dua kali koneksi internet terputus dan akhirnya aku gagal submit. Untung saja aku mengerjakannya sebelum jam deadline, karena pada jam tersebut kuis ditutup dan tidak bisa dibuka lagi. Kuis ini terbilang unik karena sekali kita membukanya maka dalam durasi waktu yang ditentukan kita arus selesai dan mensubmit. Jika tidak maka kita nggak akan dapat nilai.

Begitu aku gagal submit karena koneksi terputus maka durasi waktu yang ditentukan sudah lewat, ketika aku coba lagi membukanya dan ternyata nggak bisa karena aku sudah dianggap mengerjakan kuis ini. Segera aku telpon Pak Dosen (Ross Kirkwood) dan ternyata dia ada dan akhirnya kuis itu dibuka lagi untukku akan tetapi dengan soal yang berbeda. Kuis on line kedua juga dapat masalah, akibat komputerku yang hang aku juga gagal submit, walaupun dia nggak ada waktu ditelpon tetapi melalui email aku dapat jawaban langsung bahwa kuis dapat dibuka kembali.

Bukan faktor teknologi yang sedang aku bahas kali ini tetapi faktor responsivitas dosen dalam mengahdapi masalah yang menimpa mahasiswanya dapat kita acungi jempol. Apakah dosen di Indonesia juga sudah seperti itu ya….?