Mengkaji kenaikan harga minyak dunia akan sangat menarik karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Apalagi di negara Indonesia dimana minyak masih merupakan sumber energi utama. Semua orang membutuhkan minyak mulai sebagai energi untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak, untuk transportasi, untuk membangkitkan listrik dan juga untuk menjalankan mesin-mesin pabrik. Ditambah lagi kekurang siapan kita dalam memanfaatkan sumber energi alternatif membuat negara kita yang semula menjadi produsen minyak sekarang menjadi importir karena kebutuhan kita melampaui jumlah yang dapat kita produksi. Kalau di era tahun 70-an sampai 80-an kenaikan harga minyak menjadi berkah, di zaman sekarang kenaikan harga minyak berubah menjadi bencana.

Secara global, kita akan mudah maklum mengapa minyak naik terus dan mengapa itu selalu saja terjadi. Pertama dilihat dari analisis sederhana antara supply and demand kita akan mudah memahami bahwa ketika demand meningkat sementara supply konstan atau turun maka yang akan terjadi adalah kelangkaan. Kelangkaan minyak di pasaran membuat harga terkerek terus.

Secara global kebutuhan minyak dunia dipengaruhi oleh konsumsi. Data terakhir per Oktober 2007 dari nationmaster menyebutkan bahwa konsumsi total 82,234,918 bbl/day dari 206 negara yang disurvai. Lima besar negara yang paling haus akan minyak adalah USA, China, Japan, Germany, Russia, kemudian India di posisi keenam. Di masa mendatang diperkirakan India dan China konsumsinya akan meningkat terus seiring dengan pertumbuhan ekonomi mereka yang sangat dahsyat. Keenam negara tersebut mengkonsumsi sebanyak 49.17% dimana Amerika sendiri mengkonsumsi 25.2% dari konsumsi dunia. Negara kita berada di posisi ke 17 dari daftar itu.

Sementara berapa total produksi minyak dunia? Data dari sumber yang sama menyebutkan angka produksi sebesar 80,247,128.09 bbl/day , terus kalau konsumsinya lebih besar daripada produksi artinya harga akan terus menerus naik. Demand di sini lebih tinggi daripada supply. Lima besar negara produsen minyak adalah Arab Saudi, Rusia, USA, Iran dan China. Dua negara yaitu USA dan China mengalami defisit minyak karena produksi mereka lebih kecil daripada konsumsinya.

Faktor kedua adalah peran dari kartel minyak yaitu OPEC (produsen 40% minyak dunia), yang dalam situasi tertentu tidak mau menaikkan produksinya. Dari Wall Street Journal yang ditulis oleh Neil King, 26 Oktober 2007, menurut keterangan dari Sekretaris Jenderal OPEC Abdalla Salem El-Badri, harga $90 per barrel tidak akan terus naik sepanjang kondisi ekonomi global membaik, pernyataan itu mengindikasikan OPEC tidak akan melakukan penyesuaian produksi minyak. Padahal trend kenaikan minyak sudah pasti terjadi di tahun 2007 ini dimana harga pembuka di bulan Januari sebesar $60 per barrel hingga Oktober yang kini menyemtuh angka $90 per barrel. Akhirnya pasar menunggu-nunggu keputusan yang akan dibuat OPEC sampai bulan Desember 2007 utamanya Arab Saudi yeng merupakan produsen minyak terbesar di dunia.

Keempat keadaan geopolitik Timur Tengah dan masih ada kaitannya dengan OPEC, dimana di dalamnya Iran menjadi anggota. Iran sebagai produsen minyak keempat terbesar dunia dan sebagai pengekspor ketiga terbesar dunia dalam keadaan bergejolak setelah adanya rumor adanya ancaman Amerika untuk menjatuhkan sanksi ekonomi kerena program nuklir Iran. Keadaan ini erat pula kaitannya dengan rencana Turki untuk menyerang Irak untuk memberangus pemberontak Kurdi.

Kelima adalah reaksi pasar mengenai turunnya cadangan minyak di U.S. yang pasti akan mendorong kenaikan harga minyak berikutnya. Turunnya cadangan minyak juga terjadi di Eropa dimana cadangan turun 33 juta barrel atau 360 per hari antara Juli dan September.

Keenam, pergerakan ekonomi negara besar seperti Amerika juga mempengaruhi harga minyak. Turunnya nilai dollar terhadap Euro dan juga ke mata uang lainnya mendorong para pembeli di Amerika ramai-ramai membeli minyak karena dalam kurs dollar harga menjadi lebih murah. Nah, naiknya pembelian ini tentu saja akan mengkoreksi harga. Pertumbuhan ekonomi China dan India sebagai negara dengan ekonomi yang mulai membesar tentu saja akan mendorong naiknya harga. Berapapun produksi minyak yang dihasilkan, kedua negara ini akan dengan senang hati menyerapnya.

Ketujuh, karena belum maksimalnya penggunaan energi alternatif selain minyak. Sebagai contoh Lihat saja Amerika yang masih mengunakan 71.4% pembangkit listrik menggunakan minyak. Itu belum lagi minyak untuk transportasi. Jepang yang memiliki ratusan reaktor nuklir untuk pembangkit listrik ternyata juga masih menggunkan minyak sebesar 60% untuk membangkitkan listriknya. China apalagi, negara itu menggunakan proporsi 80% minyak untuk membangkitkan listriknya. Keadaan saat ini dari negara-negara Industri terkemuka di dunia, mereka belum maksimal dalam upaya pemanfaatan energi alternatif seperti Surya, Angin dan Biodiesel. Bahkan menurut Oilprice.net, negara – negara Eropa yang mulai mengembangkan biodiesel, walaupun belum mengalami kenaikan harga bahan makanan akibat sebagian dikonversi menjadi minyak namun sekarang mengalami kelangkaan minyak goreng (vegetable oil) akibat konversi vegetable oil menjadi sumber energi.

Masih menurut oilprice.net. Akankah China dan India akan mengikuti jejak Eropa dalam mengkonversi makanan menjadi energi, Kalau itu terjadi maka yang terjadi bukan lagi kelangkaan minyak namun kelangkaan bahan makanan. Beberapa ahli lingkungan memprediksi bahwa konversi energi alternatif akan terjadi pada tahun 2050, namun itu juga tidak realistik mengingat minyak juga merupakan bahan dasar untuk membuat obat, plastik, bahan kimia dan tekstil

Source:

http://www.nationmaster.com/graph/ene_oil_con-energy-oil-consumption

http://online.wsj.com/article/SB119335553706972227.html?mod=googlenews_wsj

http://www.oil-price.net/

http://www.iht.com/articles/2007/10/26/business/oil.php