SD lengking 2, di sekolah itu Bejo menghabiskan waktu selama 4 tahun lamanya. Sejak TK (TK Dharma Wanita) sampai kelas dua Bejo bersekolah di SD Kristen bersubsidi di Makale. Setelah itu, menginjak kelas 3 Bejo mantap untuk bersekolah di SD Lengking 2. Waktu itu sekitar tahun 1985…. lupa-lupa ingat.

Bapak dan Simbok sampai heran mengapa Bejo memutuskan untuk sekolah di kampung padahal mereka masih lanjut merantau di Celebes. Waktu itu Bejo nggak berfikir apa-apa, yang bikin Bejo senang karena di kampung Bejo dapat banyak teman baru, dan anak-anak di kampung nggak terlalu nakal, beda dengan anak kampung di Makale yang sering “ngejahilin” Bejo. Waktu itu simbok bertanya “Le yen kowe sekolah neng kene apa mengko ora kangen karo mbokmu ?” Bejo mantap dengan jawaban”ora”.

Dengan diantarkan oleh Pak De Harso, Bejo dititipkan ke Bu Ani. Guru TK yang telah berpindah tempat mengajar di SD. Suasana di kampung menurut Bejo lebih baik daripada di makale. Walaupun nantinya ia ditinggal merantau, toh masih ada kakak perempuannya yang bisa merawat Bejo. Juga dengan demikian Bapak dan Simbok nggak akan repot lagi ngurusin Bejo yang kadang-kadang nakal banget.

Pernah simbok bercerita, pas Bejo masih kecil bawaannya nangis melulu dan nggak bisa ditinggal. Sambil jualan simboknya Bejo menggendong Bejo yang nakal. Kalau ditaruh sebentar Bejo marah lalu “gulung koming”. Sampai sekarang pun para pelanggan warung masih ingat dengan Bejo, yang kata mereka dulu nakalnya minta ampun….

Mungkin keputusan si Bejo kecil ini yang paling baik buat orang tua, agar bisa konsentrasi dalam bekerja. Walaupun berat juga perasaan simbok harus meninggalkan Bejo yang masih kecil. Simbok dan bapak menjanjikan akan membelikan oleh-oleh kalau nanti mereka pulang “bakdo” di tahun mendatang.

Untuk menyenengkan Bejo, Bapak membelikan sepeda mini warna merah dari pasar Tawangsari (masih ada nggak ya di kampung). Saat itu di saat banyak teman-teman Bejo yang jalan kaki ke sekolah, Bejo dengan santai mengayuh pedal sepeda dari kampung kadutan ke Lengking. Teman-teman Bejo juga banyak yang masih “nyeker” bertelanjang kaki ke sekolah. Bejo sedikit lebih baik karena dia mulai memaka sepatu. Kalau di sekolah, daripada memakai sandal lebih baik bertelanjang kaki, begitu kata para guru.

Ada dua jalur menuju sekolah. Jalur pertama lewat jalan ramai, hanya ada dua belokan sampai ke sekolah. Sedangkan jalur kedua lewat jalur “kalimati’ yang rimbun oleh pepohonan dan lebih sepi. Mengapa disebut “Kalimati” karena kata orang-orang tua dulu tempat itu merupakan bekas sungai yang kini telah menjadi daratan. Kadang takut juga lewat jalur ini, habis sepi banget rimbun pepohonan membuat Bejo ngeri. Apalagi kalau habis mendengar cerita anak yang diculik “wewe”.

Lokasi SD Lengking 2 berada di pinggir lapangan sepakbola Lengking. SD satu dan SD dua bersisihan. Kalau pas lagi ada turnamen, pasti ada beberapa genteng sekolah yang bocor terkena bola liar. Di area sebelah kiri sekolah perkebunan tebu. Ada hal yang lucu juga kadang pas ada turnamen bola nyungsep di kebun tebu dan butuh beberapa menit untuk mencarinya, dan alhasil  pertandingan untuk sementara berhenti.

Ada satu sumur yang dipakai dua SD tersebut. Kamar mandi dan WC di sekolah itu sudah rusak parah. Semula juga hanya ada satu SD karena dulu anak-anak kecilnya banyak maka SD satu diperluas kelasnya menjadi kelas 1a,1b dan ada juga kelas 2a, 2b dst….. terus masuknya juga giliran karena ruang kelasnya terbatas. Oleh karea itulah maka dibangunlah SD inpres 2, hasil pengembangan dari SD satu. Seiring dengan berjalannya waktu ternyata malah SD dua ini anak-anaknya lebih “tokcer”daripada SD satu.

Beberapa Guru yang pernah mengajar Bejo: Bu Ani kelas 3, Pak Kristanto kelas 4 (sudah meninggal) , Pak Ngadi (Kelas 5), pak Hardi (kelas 6). Beberapa guru lain yang Bejo kenal adalah Bu Tarmi (kepala sekolah) dan bu Ratmi guru yang mengajar kelas 2 SD.