Ini adalah coretan dalam diariku, jauh sebelum aku ngenal blog. Catatan-catatan itu aku pindah dari buku, aku ketik di laptop lamaku (IBM) lalu aku masukin ke blog ini…… Isinya biasa-biasa aja, cuman catatan perjalanan selama berada di Brisbane….

January 8, 2006

Berangkat ke Brisbane dari bandara Soekarno Hatta pukul 8.45 pm dengan pesawat Qantas nomor penerbangan QF 42

Diantar keluarga kampung dan juga keluarga di Ciledug, ada Simbok, Mas Intoyo sekeluarga, keluarga Puri, tante Ita, Ririn dan Fardhah dan Pak De Adang

January 9, 2006

Tiba di Sydney airport pukul 8.30 am. Waktu setempat. Sewaktu di pesawat kebetulan duduk dengan orang Indo namanya Vian (mahasiswa juga yang kuliah di Sydney, lumayanlah ada teman ngobrol)

Terjadi antrian yang sangat panjang karena ada beberapa penerbangan yang tiba pada saat yang sama. Berdiri di antrian menuju custom selama hampir 2 jam. Lalu ambil bagasi lalu antri lagi di bagian declare.

Transit di Sydney lalu ambil penerbangan domestik, menuju arah kiri lalu mengikuti tanda domestic transit menuju lorong untuk check in, ambil bording pass lalu pemerikasaan x ray barang-barang, ambil penerbangan QF 530 (Sydney-Brisbane) tadinya semula sesuai jadwal kita haris naik GF615 berangkat pukul 01.45 tiba pukul 03.00 pm.

Diantar petugas/driver dari UQ sampai di 3/74 Highland Tce, QLD 4067 Unitnya pak Sulistyo. Di sini aku sementara menginap.

Sore, pertemuan UQISA (penyambutan oleh pengurus UQISA) di 27 Upland road, St Lucia dekat kampus.

January 10, 2006

Have Breakfast.

Sholat idul adha di West end, dikoordinsi oleh Uqisa dan MSA UQ, aku masih ingat waktu itu ketemu sama ketua MSA Brother Takuddin Ahmad Kendong, dari Malaysia.

Ke Laura Anderson ambil modul getting started lalu menuju ANZ bank untuk mengaktifkan rekening.

Tour keliling kampus diantar sama Pak Wayan, Bapak ini ngambil program Doktor di UQ dari namanya orang sudah pasti tahu bahwa beliau berasal dari Bali, however bapak satu ini ngajarnya di Universitas Mataram.

Sore jam 4, menuju Carmody Road untuk inspeksi permanent accommodation. Di sana ketemu dengan si pemiliki rumah namanya Pak John Liew dari Malaysia. Temen-temen lain menuju city.

January 11, 2006

Ke kampus untuk mengikuti acara getting started dan accommodation section

Ikut mencari accommodation di area St Lucia. Mengunjungi Accommodation di Carmody road lagi.

Eat.

Went to honorary consulate by city cat (riverside) get the passport stamped with the current address in Australia.

We also went to the city and to the china town again.

January 12, Thursday

Collected the passport , went to the honorary consulate again by city cat. We were walking around the city and going to china town again.

January 13, 2006, Friday

Campus tour and Library tour

January 14, 2006, Saturday

Breakfast with sosis, played tennis ketemu sama teman-teman baru yang tergabung di club “tennis dong”

January 15, 2006 Sunday, twice e

Breakfast with fried eggs plus a light dinner.

I drove bicycle going to carmody house to put some of my stuffs there.

I washed my clothes for the first time.

I went to the city with Wukir and Faisal. I made inefficient spending by having the single way ticket, I should buy the daily ticket…… whatta fool I was. I purchased the bus ticket three times costs 2.5 each. As I tried to reckon my expenditure I was overly spending money around A$6. I withdrawed money from ANZ ATM by A$400.

The journey was continued to Brunswick Street (Chinatown) there I did shopping at Yuen Shop. I bought instant noodle, rice, salt etc.

I also went to Toowong Shooping centre, bought lamp, hat and iron.

I started to move from 3/74 Highland to 251 Carmody road.

Finally I paid my rental accommodation for 2 weeks plus 3 weeks bond.

This was the day when I pay much-much bigger than my previous expenditure.

January 16, 2006

At this point, I as the new student at UQ, I have to be able to communicate with students from other countries. IAP began at that date. I met some people from different countries such as Vietnam, Laos, papua New Guinea, Zambia,and so on. We were meeting with international student adviser who helped us in any matters dealing with the study at UQ. The scheduled program was held on Abel Smith building (23 building).

In that ocassion we were taught on the process of making enrollment. Laura told us that this step was intended for having our student card printed so that later on we can have the concession rate if we travel by bus, city cat and train. Postgraduate students coursework have the faster access to find this step in comparison with research students.

I also started to learn the strategy on how to be successful in every subjects we take.

This was the day when I didn’t spend money at all. I also helped Setyawan (Setyawan Wijaya, Dosen UnPar) to move his stuffs from his previous temporary accommodation (landon House) to 251 carmody road.

January 17, 2006

I was pleased to introduce some of the academic advisers who are very talented and highly competent. They were Lislie, Mandy Symon, and David Rowland. They have taught us very well, treated the students with patient and ocassionaly made a lot of joke, so that we never felt boring. Being in class D allows me to know some fellow students from Vietnam (the largest population in class), Laos, Bhutan, and Papua New Guinea.

I was nervous at the first time because I seemed that their English speaking skills were very good. I was ashamed of myself as did not possess the good English skills like them. One aspect that made surprised was about viatnemese names that totally strange to me….(Na , Nyhat, Hang, Hanh, Zuup,)

January 21, 2006 Saturday

Went to rush some old edition books in SouthBank Brisbane Exhibition Hall. Although the books I purchased were not really relevant to my field of study, I guess it was better than did not get any single book at all. The book’s price were so cheap, the average price for the text books were only A$2 each, cheap weren’t they??

I went again to Southbank on Monday 23 Jan 2006.

 

Thursday, 26 January, 2006

Brisbane

Hampir tiga minggu aku berada di Brisbane, rasa rindu hawa Jakarta, malam di sekitar Blok M, dan macetnya Jakarta di pagi dan sore membuat aku menghayal seolah-olah aku berada di kota Jakarta. Sepertinya sudah berbulan-bulan aku berada di sini padahal aku belum genap tiga minggu di sini. Aku rindu Jakarta, Aku di sini kesepian…. Yang dapat aku lakukan untuk mengusir rindu hanyalah mendengar lagu-lagu nya Peterpan dan Cilapop.

Sepi sekali di sini, jauh dari keramaian, jauh dari toko, cari makan susah, kalaupun ada mahal sekali (untuk ukuran kanting orang Indonesia. So ya harus masak sendiri, belanja akhir pekan untuk keperluan seminggu lalu tiap hari masak sendiri, enak gak enak kayaknya harus dinikmati…..

Ketika aku lihat halaman belakang rumah tempat aku tinggal, serasa mimpiku yang dulu aku alami terjadi. Seperti kata Ninoe fenomena yang aku alami ini adalah dejavu…. Kejadian yang kita alami sama persis seperti apa yang kita impikan. Halaman belakang rumah itu penuh dengan pepohonan lebatnya, yang saking lebatnya kita hampir gak bisa melihat rumah yang berada di belakang. Pemandangan ini persis ketika aku mimpi mengunjungi suatu tempat yang memiliki pepohonan yang rindang sepi dan gak ada suara-suara manusia kecuali angin yang semilir.

Siang hari aku ke warren street tempat Mas Wukir (pegawai Depkeu) dan Perdinan (dosen IPB) , Sore sekitar jam 3 kami berangkat menuju Southbank naik city cat. Sesampai kami di SouthBank, sudah banyak orang di sana rupanya mereka sama-sama merayakan Australian Day yang diselenggarakan tepat tanggal 26 Januari. Dari dermaga City cat kami cepat-cepat menuju Brisbane Exhibition Hall untuk melihat-lihat dan kalau tertarik membeli di Book Fest di hal 3 dan 4. Pada hari itu buku-buku yang ada di bagian unpriced section didiskon menjadi satu bag plastik berharga 5 dollar (cukup murah bukan). Namun aku gak menemukan banyak buku yang menarik di sana, akhirnya aku menuju high quality setion, untungnya di High quality section harganya didiskon menjadi setengah harga. Saya membeli dua buku yaitu history of the future dan the story of human evolution.

Dari Exhibiton Hall kami menuju jalan di samping yang mengarah ke city (Queenstreet). Di sana sudah dimulai parade budaya Australia yang menurut cerita mba Pujiastuti (Dosen farmasi UGM) berlangsung dari pukul 4.30 sampai 5.30. Berbagai antraksi diperlihatkan mulai dari budaya kuno zaman kerajan Inggris sampai budaya kontemporer. Tidak kalah pula kontestan dari berbagai negara seperti Malaysia, Taiwan, India, USA dll ikut meramaikan karnaval tersebut. Acara Australian Day ditutup dengan pesta kembang api (Fireworks) di atas sungai Brisbane yang berlangsung mulai pukul 7.30pm sampai 7.40 pm. Betul-betul pesta yang sangat meriah. Kami menyaksikan kembang api yang dinyalakan dari atas dua perahu dari jembatan khusus untuk pejalan kaki dan sepeda. Pesta yang betul-betul meriah.

Jum’at 27 Januari 2006

Wah penyekitku kumat, badan meriang suhu tubuh naik. Di bagian pantat ketika aku pegang ada benjolan kecil. Kalau lagi ngeden atau pindah posisi sakit banget rasanya. Aku tahan aja … pada saat sholat Jum’t di kampus badanku jadi tambah gak enak, pengin rasanya istrirahat merebahkan tubuh barang sejenak, tapi karena udah janjian sama Diah mau ke Indooropily beli printer akhirnya gak dapat kesempatan istirahat.

Habis sholat jum’at aku bergegas ke telpon umum untuk transfer antar rekening BNI dari rekening aku ke rekening milik Simbok atas nama Drs.Siswanto Pasar Mayestik, calling ke phone plus BNI. Karena kelupaan 9 digit nomor phoneplus hilang dech 40 cents., so aku harus call sekali lagi. dan akhirnya berhasil juga. Setelah telpon aku sms mas Intoyo untuk mengecek apakah kirimanku sudah sampai atau belum. Jam 2 lewat 5 menit aku sampai di halte kampus, dalam perjalanan menuju halte aku ketemu Ana (Istanti Hermagustiana – dosen di UnLam) dia bilang “dah ditunggu tuh” oke oke. Akhirnya kami bertiga saya, Diah (pegawai LIPI) dan Mba Helda (ambil program Doktor di bidang Public Health) berangkat ke Indooropilly untuk beli printer.

Aku pikir tokonya di K Mart, setelah aku Tanya perdi ternyata tokonya di Myer. Dari K Mart saya langsung ke Myers , Diah dan Mba Helda menyusul belakangan. Aku coba nanya harga sama pegawai toko, pada awalnya dia gak mau ngasih diskon, tapi ketika aku bilang kami mau beli tiga printer akhirnya dikasih juga.

Malam jum’at aku menuju ke Musholla depan kampus untuk ikut melihat tayangan di video debat antara ahmeed Deedat dan pendeta Amerika (saya lupa namanya) yang diselenggarakan di Univ Louisiana. Pantat rasanya saakiit sekali , pada awalnya aku segan mau ke sana tapi akhirnya aku nekat juga, badan meriang banget. Ke sana aku pakai kaos panjang dan jaket, dingin banget. Aku gak tahan berlama-lama mendengarkan acara tersebut , aku rebahkan diri tidur sejenak sambil menggeser-geser pantat, gak ada posisi yang membuat nyaman… wah tersiksa sekali rasanya. Jam 10.30 kami pulang ke kos, langsung tidur, suhu badan naik lagi tapi aku nekat tidur. bangun-bangun jam 8 pagi.

Sabtu 28 Januari 2006

Rasa sakit di pantat tambah lagi. kalau bergerak dikit saja sakit, kalau dipakai untuk sholat juga sakit banget. Aku sholat dengan pelaan-pelan banget. Dan lagi kalau lagi batuk atau untuk mengejan rasa sakitnya bertambah parah.

Aku coba minum bodrek dan ultraflu tapi gak ada perubahannya.

Acara anak-anak kos yang menyelenggarakan tahun baru cina semakin menyiksa aku, terpaksa harus belibeli ke coles. Jalan plus bawa barang-barang membuat penyakitku tambah sakit.

Aku ceritakan saja sama temen-temen di Landon House tentang penyakitku ini, mereka menyarankan aku ke klinik pada hari senin, banyak makan buah dan minum yang banyak. Pak Wayan bilang mungkin juga penyakit ini dipicu oleh stress karena menemui hal-hal yang betul-betul baru dan butuh penyesuaian.

Imlek dimulai dengan kedatangan temen-temen China dan Vienam untuk merayakan tahun baru bersama-sama. Gong xi Pat Chai begitu kata ucapannya. Sesuai dengan cerita Barbara pesta tersebut dilakukan dengan system BYO, so setiap manusis yang datang harus membawa bekal-sendiri-sendiri.

Malamnya aku sudah gak tahan lagi, suhu tubuh naik lagi, aku lihat jam 1 aku belum bisa tidur karena suhu badan naik. Aku bangun jam 7 pagi. Aku fikir susah sekali bangun untuk sholat shubuh di sini.

Minggu 29 Januari 2006.

Aku di kamar seharian, istirahat sambil menyelesaikan homework. Rasa sakitnya bertambah lagi. Terhitung mulai senin penyakitku ini, so sudah seminggu. Apakah ambeyenkah atau bukan? Aku gak tahu aku takut kalau-kalau ini abcess seperti yang dulu diderita mas Aris Asmono dulu, dia cuti sampai dua bulan lamanya, dan rawat inap di rumah sakit selama dua minggu.

Senin 30 January 2006

Sakit di pantat sudah mulai berkurang, rasa nyerinya sudah mulai menghilang. Tetapi masih juga ada rasa yang gak enak di punggung, masih agak pegel-pegel. Waktu latihan angklung di 27 Upland road rasa sakitnya bertambah lagi, pegel-pegel banget ini punggung.

Dari bincang-bincang dengan temen-temen, ciri-cirinya mirip dengan penyakit ambeyen. Yaitu pembengkakan jaringan di sekitar dubur. Rasanya sakit banget, mau geser dari duduk aja sakit banget, apalagi kalau dari posisi duduk ke posisi berdiri, sakitnya minta ampun. But setelah ke klinik kampus, dikternya bilang itu hanya inveksi biasa bukan ambeyen….. setelah dikasih antibiotik, dua minggu kemudian alhamdulillah sembuh….

Selasa, 31 January 2006

Ikut IAP dilanjutkan dengan latihan angklung di 27 upland road, tempat Mba Tari, Mba Puji, Mba Helda, Ana dan Ira.