Menghabiskan waktu di Brisbane sama dengan mengecat rambut dengan warna yang pasti kita nggak suka “putih”. Setelah hampir dua tahun di sini, sedikit demi sedikit bibit putih itu bermunculan di kepala. Batang rambut yang dulunya menghitam pun juga ujungnya mulai memutih. Helai demi helai, pigmen rambut mulai memudar.

Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah penuaan dini telah terjadi. Ataukah memang aku sendiri yang nggak pernah merasa tua. Kucoba bercermin ke kawan lama di sini, yang telah tua, lebih tua daripada usia sesungguhnya. Apakah daku begitu juga ya? Padahal aku belum menikmati hidup, aku masih berjuang melawan segala rintangan kehidupan.

Aku nggak peduli sama rambut si orang sini, memang sudah bakatnya begitu. Usia boleh muda, bodi boleh kinyis-kinyis namun rambut mereka tiada mengenal usia, kata orang Betawi, ” emang udeh dari sononya begitu”.Tetapi warna rambut menjadi begitu penting bagi orang-orang seperti diriku ini. Warna rambut menandakan perjuangan hidup. Warna rambut menunjukkan betapa kerasnya kita berusaha, hingga orang akan menengarai siapa-siapa yang kalah oleh waktu dan setumpuk masalah.

Luka-luka dalam diri saudara-saudaraku di sini terlihat dari rambut mereka. Bukan hanya aku tetapi mereka-pun (teman seperjuangan) mengalami hal yang sama. Terus apakah dengan itu aku bisa menarik kesimpulan bahwa hidup di negeri orang walaupun bergelimang ilmu dan doku tidak pasti lebih bahagia dan nyaman dari hidup di kampung sendiri. Jawabannya terserah masing-masing orang.

Bukan hanya kekalahan dalam rupa rambut, tetapi kekalahan yang sangat dalam pun terjadi. “Batangnya” sudah berguguran akibat akarnya lemah dalam menyesap nutrisi. Hingga akhirnya rekan-rekan seperjuangan telah kehilangan mahkotanya.

Kembali ke alam realita, persoalan memudarnya warna rambut bahkan yang paling parah adalah kebotakan yang banyak dialami teman-teman yang belajar di sini akibat dari beberapa hal berikut ini.. (identifikasi awal….)

1. Faktor kesibukan. karena sibuknya kuliah dan mengerjakan tetek bengek yang lain hingga tidak punya waktu untuk merawat rambut. Rambut yang kusut dan memerah itu tanda kekurangan nutrisi. Aku duga karena treatment rambut seperti keramas, pekai kodisioner rambut, dan pelembab mungkin jarang atau malah nggak pernah dilakukan hi hi….

2. Biaya perawatan yang mahal. jelas faktor ini juga sangat mempengaruhi. Sekedar info aja untuk biaya cukur yang paling murah 9 dollar (Rp70,000) untuk cukur di tempat yang lumayan bagus harganya sekitar 15 – 20 dollar. Bagi yang sayang duit….. mendingan menggondrong atau membotakin kepala daripada merawat rambut. Tetapi bagiku, yang punya keahlian cukur mencukur, tinggal beli alatnya (15 dollar) lalu cukur sendiri dech…. walaupun modelnya nggak begitu bagus.

3. Faktor lingkungan dan cuaca. Mungkin karena udara yang sangat kering membuat rambut jadi nggak bagus. Ketombe berguguran dan rambut jadi gampang sakit dan mati (rontok). Perlu kali ya diteliti lebi lanjut pengaruh cuaca terhadap rambut.

4. Faktor apatisme dan kebodohan. Apatis terhadap diri sendiri, mungkin bagi yang sudah berkeluarga nggak masalah karena udah “laku”, tapi gimana dong bagi yang masih bujangan? Mungkin ada yang banyak bertanya apalah arti sebuah penampilan? kalau di negeri orang seperti ini, kita sama-sama saling cuek….. Boleh lah berkata seperti itu, namun ntar kalo kembali ke Indo… hayo…..kebodohan ini yang aku maksud memang karena nggak tahu yang bagus yang kayak apa, malas mencari tahu…..

Semoga nanti kalau dah pulang ke Indo bisa kembali merawat rambut yang tak terawat ini. I wish I could change my hair color.