Zombie dan Zimbabwe, apakah ada hubungan antara dua kata itu? Sama sekali tidak, kata zombie berarti mayat hidup padahal Zimbabwe adalah nama suatu negara, sungguh tak seimbang. Namun keduanya ibarat saudara menggambarkan hal yang suram dan menakutkan.

Saudaraku, pernahkah kalian mendengar nama negara itu di telingamu? pernahkah huruf-huruf itu terlintas di matamu ketika engkau membaca koran dan majalah. Pernahkah terlintas di hatimu nama negara itu yang ada di benua hitam. Mungkin hanya Ethiopia yang terlintas di telingamu karena mendengar negeri yang dinyayikan Iwan Fals dulu, “engkau yang hitam sehitam nasibmu”.

Dan di benua itu berjajar tanah – tanah tandus yang kini menjadi negara. Hanya karena ego dan semangat chauvinistis hitam yang muncul dari sentimen etnis hingga lahirlah negara. Padahal orang biasa tak dapat memahaminya meski memakai logika monyet. Hingga pada akhirnya nyawa saudara-saudara sebangsa menjadi taruhan sentimen itu. Dan sudahkah kau hitung  berapa luka dan derita yang mengalir dari rakyat negeri  yang mendera di bawah sosok sang hitam arang pemimpinnya di itulah Robert Mugabe.

Negeri itu bukan jatuh seperti jatuhnya Romawi karena ditelan gunung Vesuvius, bukan pula seperti Turki yang diserbu bala tentara dari Barat, bukan pula Jepang dulu yang hempaskan bom atom.  Negeri itu hancur karena pemimpin dan rakyatnya sendiri yang bodoh. Hingga ada yang berkata “musuhmu adalah dirimu, musuhmu adalah kebodohanmu.”

Ketika itu Rhodesia (nama mereka zaman dulu) mengalami masa keemasannya di tangan para “pendatang putih”. Tanah-tanah Rhodesia diolah oleh para pendatang itu.  Mereka itu sosok-sosok yang tak kenal menyerah oleh alam karena di mereka berfikir akal menjadi raja atas alam yang tandus. Mereke sudah ditempa ratusaan tahun berjuang untuk hidup hingga akal mereka menjadi penguasa. Dari yang semula tandus berbulir ternak yang gemuk dan tumbuhan tumbuh hijau nan subur dari setiap bulirnya memberikan nafas yang berkelanjutan bagi rakyat negeri itu. Sayang karena ketidak-adilan “aku yang berusaha aku yang menikmati” menimbulkan kecemburuan hingga membuat mereka terusir dari negeri itu.

Kemudian di tangan pemilik asli tanah itu, tidak ada yang bisa didapat, karena mereka tidak tahu caranya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap tanah-tanah itu. mata mereka nanar dan heran sampai mereka bergumam “dari mana si bule bule itu menumbuhkan ternak dan gandum ya?” Mereka tidak tahu intan dan emas di dalam bumi mereka, mereka tidak tahu cara meraih serpihan gula dari batang tebu. Mereka tidak tahu menggandakan biji gandum…  akibat mereka tidak punya kuasa atas ilmu dan teknologi. Kondisi pemimpinnya pun sama bodohnya dengan rakyatnya.

Hingga suatu masa sampai bencana itu terjadi, apa yang dapat engkau impikan jika engkau mati sebelum mencapai usia 38 tahun, apa yang dapat kau beli jika inflasi 7000% membuat harga barang melompat 70 kali lipat (bayangkan seikat sayur dari seharga 1000 menjadi 70.000). Apa yang bisa mengisi perutmu jika delapan dari 10 orang tenaga kerja menganggur, apa yang membuatmu merasa nyaman jika 3 dari 10 orang muda terkena aids, bagaimana kau menapak jika tidak ada minyak untuk menghidupkan mesin, apa yang dapat kau kunyah jija tidak ada makanan di toko. Kalaulah saudara jadi aku, aku akan berlari jauh-jauh dari negara itu.

Itulah masa kehancuran Zimbabwe dari negeri makmur di bawah kolonial menjadi hancur di bawah kaki Mugabe. Masa 2 dekade kemerdekannya sejak 1980 menyadarkan betapa mereka itu tidak tahu cara mengelola urusan negera yang ternyata sangat komplek. Mugabe berfikir semuanya bisa dia atur, padahal pemimpin adalah sistem diantara sistem yang lain. Dan mereka sadar karena terlambat memulai. ….

Kata-kata pedas “betapa engkau ini bodoh dan tolol” serasa menyakitkan. Kata kata “dasar malas, dungu tak berilmu” menggugah emosi. Kata-kata “dasar biadab” membuat kita meradang. “Dasar maling dan koruptor” membuat engkau mudah mengayunkan kapak hukum. “Dasar Miskin dan papa” dan lain-lain cemooh terhadap  pribadi dan negeri itu karena engkau tak pernah belajar.

Engkau tidak menyelami masa lalumu yang hitam hingga saat ini engkau masih juga hitam. Padahal banyak jalan yang bisa kau tempuh jika seperti yang ada di “sumpah serapah itu”. Maka kata orang bijak, “menjadilah nadir yang berada di kutub yang berlawanan dengan kata-kata itu”. Usaha yang tak lain hanya bisa diraih dengan kerja keras dan belajar. Kalau kau sadar niscaya semua itu bukan sumpah serapah namun nasehat yang supaya engkau bertahan hidup. Nasehat yang tertuju bukan hanya kepada rakyat Zimbabwe yang malang tetapi juga rakyat di bumi pertiwi …….