Jauh di ujung telpon, do’i berusaha dengan keras berbicara supaya suaranya dapat aku dengar. Ia harus bersaing dengan suara lagu dan gitar yang dilantunkan oleh pengamen. Aku tanya “kamu sebenarnya dimana sich…?” “di angkot” jawabnya….. mendengar itu aku sungguh terheyak Bagaimana mungkin angkot yang sempit, penumpang pun harus duduk berdesak-desakan, dimasukin pengamen. Aku tak habis fikir….

Pengamen, istilah ini tidak asing di telinga. Setiap orang pasti pernah berjumpa dengan “seniman jalanan” ini. Apalagi setelah krisis ekonomi mengguncang negeri kita. Pengamen lepas dari sisi positif maupun negatifnya menyediakan alternatif profesi informal di tengah beratnya kehidupan di tanah air.

Profesi ini memberikan jalan pintas bagi siapa saja ingin mencari uang tetapi “terkalahkan” oleh tingginya angka pengangguran. Secara pribadi pengamen bagiku adalah cerminan potret buram negeri kita. Terlepas dari syair lagu-lagunya yang kadang menggugah kita untuk berbuat baik kadang juga mengingatkan kita untuk lebih taat beribadah dsb…..namun keberadaannya lebih didominasi oleh sisi negatif. Sudah berulangkali aku dapat masalah dengan pengamen ini. Cerita yang aku tulis di bawah ini berdasarkan pengalaman pribadi.

Di Kereta api, terutama kelas ekonomi, pengamen tidak lebih daripada “tukang palak”. Sewaktu menjadi mahasiswa dulu di Jakarta sekitar tahun 97 -98, aku secara reguler pulang kampung ke Solo. Namanya juga mahasiswa yang duitnya “cepak” kereta ekonomi adalah pilihan yang terbaik dari segi harga (bukan dari kenyamanan dan waktu) sementara di pilihan lain akuharus merogoh kocek lebih dalam, satu hal yang aku hindari zaman jadi mahasiswa dulu. Walaupun sekarang ini juga masih jadi mahasiswa…

Sepanjang perjalanan, setelah lepas dari Cirebon, gerombolan pengamen yang terdiri dari beberapa pemuda dengan membawa satu gitar dan yang lain bertepuk tangan bernyanyi. Suaranya parau seperti suara gagak. Lagu yang dinyanyikan kedengarannya bukan lagi nyanyian tetapi bernada “bentakan” supaya mereka dikasih duit.

Dalam perjalanan dengan kereta ekonomi, aku lebih sering duduk di bawah karena tidak kebagian kursi. Ketika malam menjelang, aku rebahkan diriku di koridor kereta di atas koran bekas yang biasa dijual “anak-anak” seharga 500 rupiah. Nah pengalaman yang sangat buruk terjadi ketika beberapa pengamen dengan kasar meminta duit. Mintanya bukan dengan sopan tetapi dengan nada memaksa.

Bagaimana aku harus ikhlas memberi mereka duit, sedangkan aku ini mahasiswa yang juga tak punya uang, aku harus belajar untuk bisa bekerja dan bisa dapat duit. Sedangkan mereka dengan “enaknya” tinggal minta saja. Bagaimana aku rela, di saat malam, mata sudah mulai sayu menuju mimpi ada orang bersuara keras, membangunkan dengan suara kasar, sambil bertepuk tangan meminta uang. Bagaimana aku nyaman, jika mulut mereka pun berbau alkohol dan sumpah serapahnya keluar, kata-kata “tul” tidak segan-segan ditumpahkan dari mulut mereka.

Dan siapa yang menjadi korban. Rakyat kecil juga pada akhirnya. Merek yang naik kereta ekonomi ini adalah orang-orang sederhana yang merantau ke Jakarta. Untuk dapat uang, mereka harus bekerja keras membanting tulang dengan menjalani profesi apa saja mulai dari tukang batu, penjual bakso, penjual jamu, tukang kredit, tukang bengkel, pembantu rumah tangga dan lain-lain. Terhadap orang-orang inilah para pengamen yang tidak lebih daripada preman tersebut meminta uang.

Kejadian buruk di kereta ekonomi itu berulang-ulang terus hingga aku cuek dan mengalah. Tiap kali aku naik kereta ini, aku harus menyisihkan beberapa ribu uang yang sebetulnya bisa untuk beli makan di warung buat mereka. Akhirnya dengan keterpaksaan aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dan yang parah bukan hanya kereta ekonomi, kereta kelas bisnis pun juga setali tiga uang.

Bagi yang tidak mau mengalah maka konflik pasti terjadi. Pernah ada satu orang anggota TNI yang berpakaian sipil bentrok dengan preman kereta ini, gara-gara tersulut emosi oleh olah para preman itu.

Selain di kereta api, para preman itu juga bertebaran di angkutan umum yang lain seperti bis. Baik bis kota maupun bis antar kota, semuanya dimasukin pengamen. Para pengamen pun telah merambah pemukiman.

Dari bis umum di Jakarta yang pernah aku naiki, dalam perjalanan taruhlah dari Jakarta Selatan sampai Jakarta Pusat, tinggal mengitung berapa banyak “seniman jalanan” ini yang keluar masuk. Mulai dari yang semi profesional dengan gitar dan drum portabel, karaoke, “kecrek-kecrek” sampai pada yang hanya mengandalkan suara dari mulutnya. Pendeknya istilah “banyak jalan menuju Roma” yang artinya banyak cara untuk mencari duit dari penumpang.

Di terminal Pulo Gadung aku pernah hampir berkelahi dengan preman “puisi” karena cara meminta uang tidak dengan sopan. Di Bus yang lain kakakku sampai marah sekali karena melihat preman yang merangsek ke dalam bus padahal bis penuh sesak penumpang. Kata-kata yang mengalir dari kakakku : “Kalau semua orang seperti dirimu, akan jadi seperti apa negeri ini??, bukan seperti ini caranya mencari duit, lihat dirimu masih muda, masih kuat, mengapa malas mencari pekerjaan, mengapa kamu tidak mau berusaha ?? “

Di komplek pemukiman, para remaja-remaja tanggung sudah mulai belajar menjadi pengamen. Silih berganti, para pengamen datang. Kalau mau dihitung jumlahnya bisa mencapai 3 sampai 4 dalam sehari. Pendeknya hal itu sudah mencapai taraf yang mencemaskan, dari sisi kenyamanan dan keamanan.

Dari hasil pengamatanku, pengamen ini biasanya punya korelasi positif dengan tingkat pengangguran. Dan ketika ditarik benang merahnya, pengamen dari sisi ekonomi merupakan relfeksi nyata dari keterbelakangan negeri kita. Angka di statistik mengenai pengangguran hingga lebih dari 10% adalah cerminan prestasi yang buruk negeri kita, karena lapangan kerja yang ada tidak bisa menampung tenaga kerja. Hingga muncullah para pengamen ini di semua ruang yang ada.

Dari sisi image, sudah barang tentu “negatif”. Keberadaaan pengamen bagi para wisatawan asing lebih memberi kesan negatif. Sebut saja misalnya contoh kasus wisatawan barat yang suka “blusukan” ke tempat-tempat marginal (mungkin kerena di negara mereka sudah nggak ada lagi tempat marginal) semisal pemukiman miskin dan warung-warung pinggir jalan. Nah… bagaimana bisa merasa nyaman jika misalnya lagi enak-enak menikmati makanan di warung pinggir jalan, sambil mendengarkan nyanyian pengamen yang kadang nggak enak didengar dan harus pula melayani mereka dengan uang. Di negeri Barat, profesi pengamen yang biasa disebut “Busker” caranya sangat sopan dan tidak hadir diangkutan umum atupun minta dari rumah-ke rumah seperti di Indonesia.

So apa yang bisa kita perbuat?? Minimal kalau anda menganggur jangan pernah punya pikiran untuk jadi pengamen. Karena kalau mau jujur, orang-orang yang memberi sedekah ke pengamen, bukan dilandasi oleh responsibility untuk memberikan reward karena sudah merasa terhibur tetapi karena faktor “kasihan dan takut”