Menengok sejarah Australia yang nenek moyangnya berasal dari para tahanan dari Inggris sungguh engkau nggak akan gampang percaya dengan kejujuran orang di sini. Seperti pameo “like father like son” atau juga air cucuran akan jatuh ke pelimbahan juga. Namun kenyataannya berbicara lain sobat….

Aku kali ini akan berbicara mengenai kejujuran orang sini. Walaupun ada memang beberapa teman-teman termasuk si do’i yang pernah kehilangan memori stik dua biji yang tanpa sengaja tertinggal di Library ada pula teman yang kehilangan sepeda butut di kampus atau teman-teman yang dipalak preman “abo” di Brunswick.

Selama di sini aku nggak pernah mendengar ada rumah kawan-kawan Indo yang tinggal di Brisbane dibobol maling. Rumah dimana aku tinggal pun tanpa dilengkapi kunci, baik di pintu maupun di jendela, sejauh ini aman-aman saja. Yang menjadi sedikit gangguan di telinga hanya karena kegaduhan anak-anak bule yang tinggal di college depan rumah di saat berangkat atau pulang party dan pemain bandyang kadang latihan di belakang rumah.

Kenyataan ini sangat kontras dengan yang aku alami selama tinggal di jogja dulu. Pada waktu itu, hanya dalam hitungan beberapa bulan setelah aku masuk ke kos baru, rumah tersebut dibobol maling. Kamar yang aku tempati diobrak abrik, barang-barang habis dijarah. Padahal beberapa minggu sebelumnya aku sudah kehilangan baju di jemuran ketika aku tinggal bekerja. Dan aku ternyata tertipu dengan keyakinanku sendiri “maling tidak akan masuk ke rumah yang sama”. Rekan kerjaku yang lain dalam waktu yang berbeda juga kehilangan motor, sementara itu sohib akrabku kebobolan komputer yang baru saja dia beli. Fakta inilah yang membulatkan niatku untuk meninggalkan kota Jogja.

Di sisi lain ketika berada di Brisbane, aku nggak pernah mendapatkan pengalaman buruk mengenai kejujuran orang sini. Malahan sebaliknya, pengalaman itu aku alami di library UQ, ketika aku tiga kali berturut-turut aku teledor meninggalkan barang . Dua barang yang pertama harganya lumayan yaitu, external hardisk seharga 150 dollar dan PDA O2 atom berharga 325 dollar, barang yang ketiga nggak terlalu mahal yaitu kalkulator casio seharga 40 dollar.

Sadar kalau barangku ketinggalan, aku lalu bergegas menuju kembali ke library, dan Alhamdulilllah ketiga-tiganya dapat aku temukan kembali. Dua barang (eksternal hardisk dan kalkulator) dititipkan penemunya di loan desk. Sementara itu PDA dipegang oleh orang yang kebetulan waktu di library duduk di sampingku, dia menunggu kalau-kalau si empunya datang. Dan ketika aku kembali ke meja dimana aku meninggalkan PDA, orang itu (bule) langsung memberikannya kepadaku. “Aku hanya bisa berkata- “Thank you very much“. Kalau orangnya licik, tentunya barang itu akan langsung dibawa pergi, kenyataannya tidak….. “luarr biasa” gumamku dalam bathin.

Lantas apa ya sebenarnya yang membuat mereka jujur untuk mengembalikan barang? Mungkinkah bagi mereka barang seharga itu tidak terlalu bernilai? Mungkin orang tua dari anak-anak bule tersebut berhasil mendidik kejujuran anak-anak mereka? Atau karena alasan simple karena taat peraturan (di library ada aturan kalau ada barang ketinggalan maka si penemunya harus mengembalikan ke loan desk).?

Terlepas dari semua itu, pelajaran yang bisa dipetik mengenai kejujuran berkaitan dengan empati dan image. Betapa misalnya kita sangat sakit jika kehilangan barang yang vital, taruhlah hasil penelitian bertahun-tahun yang kita simpan di external hardsik hilang. Bagi si penemu, barang itu mungkin tak lebih dari sekedar barang mungkin nilainya tidak sebesar bagi orang yang kehilangan.

Secara umum kalau kita mau bersikap jujur, orang lain pasti memandang kita dengan positif. Artinya image kita bagus. Siapa sich yang tak suka jika kita memiliki trust. Dan trust seperti itu hanya bisa diperoleh jika image kita baik karena selama ini kita selalu melakukan hal yang proper. Image ini salah satunya tercermin dari kejujuran.

Namun menjadi agak susah jika etos kejujuran ini dikaitkan dengan orang lain yang nggak kita kenal, hingga ada kecenderungan untuk bersikap ” masa bodoh, toh kita juga nggak kenal dengan dia”.

Sayang sekali ketidaktahuan banyak orang mengenai inilah yang membuat mereka tidak bisa berkembang. Secara sederhana saja dalam dunia perdagangan, mana ada sih orang yang mau berbisnis dengan kita kalau kita dikenal sebagai orang yang tidak jujur.

Dan kultur “kejujuran”suatu nilai yang terpuji sudah selayaknya tertanam di lingkungan perguruan tinggi, istilahnya kejujuran akademis, baik yang menyangkut nilai maupun hasil penelitian. Namun kita telah mulai meninggalkan Kultur itu sebagaimana zaman telah menyadarkan bahwa kita telah ditinggalkan oleh kereta kemajuan. Kepalsuan yang tercermin dari nilai akademis anak-anak didik kita meninggalkan bola salju yang membawa bangsa kita ke jurang kehancuran. Kita juga nggak tahu bahwa image kita akan tercermin dari kejujuran kita juga. Lantas apa yang bisa membuat kita tersenyum jika ternyata kita telah menipu diri sendiri, menutupi wajah dengan topeng kepalsuan, bukan hanya engkau tetapi juga anak keturunanmu.

Namun asalkan mau berusaha, kejujuran itu masih merupakan “asa yang tak hilang”. Kejujuran bukan timbul dengan sendirinya, tetapi proses yang harus terus diusahakan.