Carabagal, wilayah timur Australia yang terkena dampak kekeringan yang hebat, sekarang hanya memiliki 38 jiwa. Toko-toko sudah tutup dan air pun harus dikirim  truk ke daerah ini. Satu-satunya oase yang menyejukkan hati hanyalah lapangan bowling sintetis (bukan rumput) yang berwarna hijau. Di sinilah orang-orang menghabiskan waktu sambil menunggu datangnya hujan untuk kembali lagi ke ladang.

Carabagal adalah contoh kasus kekeringan terburuk yang menimpa sebuah kota yang mulai sekarat. Letaknya di tengah-tengah New South Wales, jaraknya 500 km dari Sydney.

10 orang telah meninggalkan kota ini dalam kurun 6 bulan terakhir. Hal ini semakin memperciut populasi kota dari sejumlah 500 di tahun 1950 an. Kekeringanlah yang menjadi penyebab utama.

Dua toko kelontong, warung kopi (caffee), toko roti, toko daging, reparasi telpon, bengkel dan satu cabang Wespac Bank telah meninggalkan kota ini. Yang tertinggal di area ini selain lapangan bowling adalah satu kantor pos kecil dan pub.

Si pemilik pub bercerita bahwa ia membuka pub ini karena mendengar perkiraan cuaca yang bilang bahwa kekeringan akan segera berganti oleh curahan hujan la nina di tahun 2007. Tetapi yang ditunggu-tunggu tidak datang jua.

Keadaan ini memunculkan frustasi yang luar biasa di kalangan generasi petani. Tidak lain karena iklim kering yang sangat ekstrim. Walaupun mereka sudah akrab dengan kekeringan, namun manuasia pun ada batasnya jika menghadapi kekeringan yang “mematikan”.

Bayangkan apa yang anda bisa perbuat jika hujan tidak turun selama dua tahun? Tidak air yang bisa dipakai untuk menyiram tanaman dan memberi minum biri-biri dan sapi. Dam yang berisi cadangan air selama 2 tahun telah kering kerontang.

Satu kota yang lebih besar daripada Carabagal, Barmedman, berjarak 75 km arah barat daya juga menyusut dengan jajaran toko-toko yang tutup dan jalanan yang kosong. Empat kota lain di wilayah itu juga mengalami hal serupa dengan tidak meninggalkan populasi sedikit pun. Semuanya telah pergi, padahal dulu kota-kota tersebut berisi tak kurang dari 300 – 400 jiwa.

Kekeringan adalah tangis. Kekeringan adalah derita, air yang diharap-harap tak kunjung tiba. Kekeringan telah menyebabkan jumlah lahan pertanian menyusut sebesar 25% selama kurun waktu 20 tahun. Kekeringan itu pula yang menyebabkan pendapatan rata-rata para petani menurun hampir 70% menjadi hanya sekitar $26,600 per tahun per juni 2007.

Tidak itu saja, derita yang dialami para petani yang hidup di kawasan pedesaaan juga diperparah oleh turunnya harga komoditas pertanian dan hengkangnya anak-anak muda yang tertarik untuk menikmati hidup di perkotaan. Jika anak-anak muda pergi maka orang tua pun akan menyusul kemudian.

Keadaan ini menaikkan angka bunuh bunuh diri di kalangan petani. Jika di daerah perkotaan ada lima lelaki dan satu perempuan yang bunuh diri setiap hari, di daerah pedesaan angkanya lebih tinggi lagi, dan cenderung akan meningkat terus.

Kekeringan, kata Professor John Mc Donald dari Western Sydney University, adalah penyebab tingginya angka bunuh diri. Di daerah pedesaan angka bunuh diri mungkin lebih tinggi daripada yang tercatat karena luas dan terpencilnya daerah tersebut. Mereka-mereka yang bertahan untuk tinggal di ladang menghadapi resiko ini.

Margareth Bolte, istri kepala wilayah daerah itu (Carabagal) menuturkan kesaksiannya melihat dua orang pemuda yang mencoba bunuh diri. Di tempat lain, satu keluarga menabrakkan mobil ke pohon, karena  mereka fikir ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk membantu keluarga.

Kehidupan pertanian telah menjadi jiwa dan gairah orang pedesaan (rural) Australia. Mereka hanya tertawa ketika John Howard (Perdana Menteri) menawarkan uang $150,000 jika mereka mau meninggalkan lahannya. Namun bagi mereka lahan pertanian adalah nyawa mereka. Uang itu tidak sebanding dengan kekayaan bathin bagi mereka yang memiliki ladang yang luas. Memang ada yang  ikut dengan ajakan si perdana menteri untuk meninggalkan lahannya, namun suatu saat ketika hujan datang, mereka pasti kembali.

Source: The Epoch Times Oct – Nov 07, yang dikutip dari Reuter.