minyak1.jpg

Telah menjadi paradoks umum bahwa kaya minyak tidak selalu makmur. Terkecuali Arab Saudi dan Brunei mungkin, di dunia ini sebagian besar negara yang kaya minyak tetapi penduduknya miskin. Tulisan yang dibuat oleh Tina Rosenberg dari New York Times tanggal 4 November 2007 lalu yang berjudul The Perils of Petrocracy sangat menarik. Dia mengulas sebuah negeri yang dikelola bukan dengan demokrasi tetapi petrokrasi. Istilah untuk menyebut negeri yang dikelola oleh dukungan minyak.

Demokrasi berarti rakyat yang berkuasa, dalam petrokrasi minyak menjadi kunci untuk menjalankan roda pemerintahan. Itulah negeri Venezuela, negerinya para putri kecantikan dunia (universe) tetapi keadaannya tidak jauh berbeda dengan dunia berkembang di belahan lain di dunia. Negeri yang sebagian besar penduduknya miskin. Tetapi negeri ini menjadi surga bagi para penikmat minyak, bayangkan jika minyak di pom bensin hanya 6 cents atau setara dengan 600 rupiah. Berikut ini lebih lanjut tulisan Rosenberg.

Siapa sebenarnya pemilik minyak dunia. Anda mungkin mengira berada di tangan perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil. Tetapi faktanya mengatakan lain, 77 persen cadangan minyak dunia dimiliki oleh perusahaan minyak nasional tanpa kepemilikan privat, dan ada 13 perusahaan milik negara yang memiliki cadangan minyak lebih besar dari ExxonMobil, suatu perusahaan minyak terbesar di dunia.


Trend yang berlaku umum adalah nasionalisasi bukannya privatisasi. Ketika cadangan minyak di negeri kaya mulai menipis – karena mereka telah mengeksplotasi habis-habisan, minyak kemudian ternyata banyak berada di negeri berkembang.

Nasionalisasi juga telah menjadi trend politik di beberapa negara religius di Amerika Latin, dimana presiden populis di Boivia dan Ecuador telah menjadikannya menjadi wacana. Mereka dipimpin tentunya oleh Hugo Chavez, Presiden venezuela. Dia telah membuat produsen swasta menerima status kendali atas operasi mereka. Dan apabila mereka tidak mau, maka mudah saja, tinggal menasionalisasi kepemilikan mereka, seperti yang terjadi atas ExxonMobil dan ConocoPhillips. Chavez juga memperkuat kendali atas perusahaan milik negara Venezuela, yang sebelum dia berkuasa dioperasikan layaknya seperti swasta.

Chavez adalah “nabi”yang sedang mencari pengikut. Dia menampilkan Venezuela lebih sebagai kekuatan moral dunia, mempersatukan Amerika Latin dan negeri miskin dimana saja dalam aliansi sosialis., yang ia sebut sebagai Bolivarian socialism, nama yang diperoleh dari Simon Bolivar, pahlawan kemerdekaan, anti imperialis, a little Marx, a little Jesus. Negaranya adalah gereja yang dilumas dengan minyak, minyak juga membiayai transformasi Venezuela. Chavez adalah tokoh politik yang jenius.

Pesan yang disampaikan mudah dipahami dan lebih daripada kharisma yang menyampaikan. Untuk negara-negara Amerika Latin khususnya yang kaya minyak, Chavez melihatnya dengan kepentingan tertentu. Negara-negara yang bergantung pada minyak dalam sejarahnya sangat sakit. Hal inilah mengapa rakyatnya memberontak melawan globalisasi, yang banyak janji namun tidak membawa apapun. Negara mereka dibilang kaya tetapi mereka melihat diri mereka sendiri miskin. Jika demikian maka pasti ada yang mencuri keuntungan dari mereka.

Nasionaliasi merupakan buah reaksi dari pemikiran bahwa pencuri adalah perusahaan asing. Untuk golongan kiri yang populis El Petroleo es Nuestro! — the oil is ours – minyak milik kita, slogan yang membangkitkan semangat. Apalagi sekarang, meroketnya harga minyak telah membuat eksploitasi sangat berharga walaupun di tempat yang sangat terpencil dan secara geografi sangat rumit. Fakta ini membuat negara miskin berfikir apa yang harus mereka lakukan dengan minyak mereka. Mereka harus berfikir cara untuk mendapatkan manfaat dari minyak yang mereka miliki.

Secara historis, hampir setiap negara yang bergantung pada minyak menjawabnya dengan cara yang “buruk”. Ini mungkin bersifat paradoks, tetapi menemukan celah di tanah yang memancarkan uang merupakan hal yang terburuk yang terjadi di negara itu. Dengan satu atau dua pengecualian (seperti yang saya sebutkan di atas; Arab Saudi dan Brunei), negara yang bergantung pada minyak kebanyakan miskin, sangat rentan konflik dan lalim.

Studi yang dilakukan oleh OPEC mengungkapkan resiko dari ketergantungan akan minyak. Antara tahun 1965 dan 1998, ekonomi anggota OPEC menurun sebesar 1.3% per tahun. Negara yang tergantung akan minyak sangat buruk dalam hal: gizi, harapan hidup, aksara, sekolah dan angka bayi yang selamat. Ini seperti yang dikatakan Terry Lynn Karl, Professor dari Stanford University yang ia sebut sebagai paradox of plenty.

Minyak tidak hanya menghasilkan sedikit peluang kerja, minyak malahan menghancurkan peluang kerja di sektor lain. Dengan mendorong naiknya nilai tukar mata uang karena ekspor minyak, maka ekonomi terdistorsi. Pertanyaannya kenapa harus repot-repot memproduksi makanan sendiri jika anda dapat membelinya. Kenapa harus repot-repot membangun industri untuk keperluan eksport jika minyak menyediakan uang yang lebih dan ternyata ini sangat menyakitkan karena tidak ada lagi peluang eksport di sektor non migas. Padahal suatu masyarakat kelas menengah yang sukses dibangun melalui industri manufaktur, minyak telah membuat mereka kesulitan untuk mencapainya.

Minyak telah membuat kekayaan di negara tersebut tertumpuk ke orang-orang tertentu. Ini membentuk budaya dimana uang dihasilkan oleh politisi dan birokrat yang korup daripada memproduksi barang dan menjualnya. Negara kaya minyak juga meminta sedikit pajak dari warganya, dan jika warga hanya dikenakan sedikit pajak maka mereka hanya menuntut sedikit pertanggungjawaban. Mereka yang berada di lingkaran kekuasaan membagi uang dari minyak untuk tetap berada di tampuk kekuasaannya. Sehingga negara minyak cenderung untuk sangat korup.