Apa arti dari angka unemployment (pengangguran) rate di Australia yang sekarang hanya 4.3 %. Angka yang masih merupakan mimpi bagi negara kita (Indonesia) . Namun Kata Howard (Prime Minister Australia) ini adalah prestasi yang cukup membanggakan kerena sekarang Australia berada dalam fase perputaran ekonomi yang cukup tinggi.

 

Tingkat pengangguran yang rendah di Australia mencerminkan ekonomi berada dalam kapasitas penuh. Sektor-sektor yang dapat menyerap tenaga kerja berfungsi dengan baik untuk menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Bahkan di sektor-sektor tertentu seperti di bidang pertambangan dan hospitality service di Western Australia, demand tenaga kerja melebihi suplay yang ada. (ini kali ya yang menyebabkan teman-teman yang kuliah di Perth nggak bisa menganggur he he he….). Di Brisbane pun permintaan tenaga kerja untuk bekerja di sektor konstruksi dan perawat masih cukup tinggi.

Prestasi ekonomi Australia dalam menurunkan angka pengangguran ini cukup diacungi jempol. Data yang saya peroleh dari Economagic, tingkat pengguran ini mengalami trend yang terus menurun sejak tahun 1992 dari angka 10% menjadi hanya sekitar 4 %(salah satu prestasi ekonomi di bawah pemerintahan partai liberal). Bahkan prestasi ini jauh lebih baik dari negara maju yang lain seperi Amerika, Jerman dan Inggris. Tercatat dalam pengamatan saya ada dua negara yang mengalahkan Australia yakni Jepang dan Belanda yang tingkat unemployment di bawah 4% (BLS.gov).

Angka pengangguran merupakan indikator produktivitas angkatan kerja dalam menunjang well being populasi secara keseluruhan. Jika angka ini rendah, berarti persentase angkatan kerja yang produktif tinggi.

Namun jika dikaitkan dengan populasi maka denominator (angka pembagi) produktivitas dari angkatan kerja yang tercermin dari GDP ini harus pula dikendalikan. Mengapa? karena jika pengangguran usia produktif rendah sementara usia populasi yang nggak produktif sangat besar maka dampaknya mengerikan bagi ekonomi. Perumpamaannya sama dengan keledai yang membawa beban yang seharusnya dibawa gajah.

Bagaimana dengan Indonesia, wah sepertinya kita masih perlu belajar dech…. Negara kita memang belum maju dan kita harus akui kenyataannya memang demikian. Dalam prestasi menurunkan pengangguran di dalam negeri, kita bukan jagonya. Tingkat pengangguran di negara kita masih cukup tinggi masih dalam kisaran 10% (angka dari BPS).

Saya masih cenderung untuk tidak percaya bahwa angka pengangguran segitu. Sejatinya, seperti fenomena gunung es maka angka sebenarnya lebih dari angka tersebut karena sistem kependudukan dan sistem informasi yang kita punya masih sangat lemah. Apalagi BPS menghitung orang yang bekerja hanya satu jam saja dalam seminggu bukan dalam kategori menganggur, padahal pengangguran di negara kita sangat masif.

Untuk mengidentifikasi banyaknya pengangguran di negara kita, sangat mudah. Tengok saja hal simpel yang berada di lingkungan kita. Jika dalam keseharian banyak anda lihat orang-orang yang tidak jelas berkeliaran di kota-kota besar maka itu adalah cerminan tingginya angka pengangguran.

Sejenak jika kita lihat Jakarta. Satu hari berjalan menyusuri kota kita ini, anda pasti akan menemui kenyataan yang sangat menyedihkan; mulai dari pengemis, pengamen, tukang copet, tukang palak, pedagang asongan, preman, dan lain-lain. Keberadaan mereka secara terbuka mencerminkan bahwa ekonomi berada tidak dalam kapasitas penuh. Masih banyak orang yang tidak memproduksi apapun selain bunyi suara gitar dan nyanyian memelas belas kasihan orang. Dalam konteks apapun kita akan sulit memahami nilai “produksi” yang dihasilkan dari suara gitar di bis dan di jalan-jalan dan berpindahnya uang bukan karena transaksi yang fair, menyebut kata ini untuk aliran uang dari korban ke tukang palak dan dari penderma ke pengemis.

Kita harus ingat rumus sederhana demand dan supply juga berlaku dalam sektor ketenagakerjaan kita. Dalam kaitannya dengan sumus ini, lingkaran setan yang telah membelenggu kemajuan kita berpangkal pada ketidak-sinkronnya antara dua sisi ini. Jika selama ini kita selalu menyalahkan pemerintah yang tidak bisa menyediakan lapangan kerja yang memadai (sisi demand) , namun di sisi lain para produsen tenaga kerja tidak henti-hentinya berproduksi (over supply). Dampaknya mengarah pada tingginya angka pengangguran. Kesalahan dua sisi ini menghasilkan neraca yang timpang.

Saya bukannya ingin menyerang secara frontal kebiasaan untuk memiliki keturunan yang banyak, tetapi lihatlah realita. Orang yang memiliki pemikiran jangka panjang jauh ke depan pasti bisa menghitung besarnya beban finansial dan non finansial akibat memiliki banyak anak. Mungkin ini juga menjadi lumrah di kebanyakan negara berkembang tingkat kelahiran masih cukup tinggi, yang pada akhirnya akan menggerogoti kue ekonomi yang jumlahnya terbatas.

Cara untuk meretas hanya dengan kesadaran rasional dalam berfikir, bukan hanya berfikir mikro namun juga harus berfikir makro. Jika kue ekonomi yang tercermin pada lahan kerja terbatas maka supply tenaga kerja pun seharusnya terbatas juga. Bayangkan ilustrasi pendapatan perkapita. Setinggi apapun GDP ataupun GNP jika harus dibagi dengan jumlah manusia yang banyak maka dapatnya akan sangat sedikit.

Kembali ke Australia, di luar kenyataan bahwa ekonomi yang sedang bagus karena ditunjang oleh sektor pertambangan, agriculture, pariwisata dan pendidikan sehingga pengangguran rendah. Sungguh metode sederhana angka pendapatan perkapita, nominator dalam hal angka GDP dan denominator dalam angka jumlah penduduk menghasilkan angka yang manis yang pada gilirannya membawa ekses bagi kenyamanan bagi semua penduduk negeri

Bayangkan jika hampir setiap orang memiliki kesibukan, maka tidak ada lagi waktu untuk berleha-leha. Tidak akan kita dapati orang yang bergerombol dan duduk-duduk di gang komplek sambil mengoda cewek yang lewat. Angka kiminalitas menjadi rendah karena setiap orang sudah tercukupi kebutuhannya. Dan suasana kota akan sangat nyaman …. Itulah yang saya lihat di kota-kota Australia yang saya kunjungi. Dan rendahnya angka pengangguran bagi saya sebagai mahasiswa di Brisbane membawa berkah karena mencari pekerjaan sambilan tidak terlalu sulit. Kapan ya negara kita bisa seperti itu…..