minyak1.jpg

Banyak perusahaan minyak hasil dari nasionalisasi tidak ditangani dengan baik (poorly managed), perusahaan minyak nasional efisiensinya 65% dari perusahaan swasta, menurut suatu studi. Walaupun demikian hal ini masih memungkinkan perusahaan minyak nasional untuk menjadi bintang, efisiensi dalam pengertian klasik, adalah mereka yang dapat berkompetisi dengan barat dengan Saudi Aramco dan Petrobras adalah dua contoh. Tetapi mungkin perusahaan minyak nasional yang paling baik yang pernah ada di dunia adalah Pdvsa, tetapi itu masa lalu.

Wawancara Rosenberg dengan mantan pegawai Pdvsa, Antonio Szabo yang sekarang menjalankan perusahaan software yang berbasis di Houston. Dia menjadi eksekutif tingkat tinggi di Pdvsa sampai tahun 1982. Katanya “ saya menuju kantor yang sama, semuanya serba sama. Proses nasionalisasi itu adalah proses yang brilian. Apa yang menjadi berbeda di keesokan harinya? Kecuali kemana tujuan pendapatan dari minyak. Yang paling penting adalah melanjutkan memroduksi uang untuk negara tanpa ada gangguan.”

Presiden Carlos Andrés Pérez menasionalisasi minyak Venezuela karena di awal tahun 1970 an minyak sedang booming, dengan harga per barrel mencapai $12 di tahun 1974 (kira-kira nilai $12 setara dengan $50 sekarang). Harga itu meningkat empat kali lipat dari $3 pada tahun 1973. Rakyat Venezuela menuntut supaya keuntungan dari minyak tetap harus berada di dalam negeri. Pengambil alihan Exxon, Shell dan Gulf dinegosiasikan dan tanpa hambatan. Proses ini menjadi tidak sengit karena sejak awal investasi mereka di Venezuela hanya bersifat sementara dan akan usang pada tahun 1983. “Saya kira setiap orang berfikir bahwa Pdvsa waktu itu adalah angsa yang menghasilkan telur emas” . Untuk membuatnya sehat makas biarkan dia sendiri. Setiap Presiden percaya ini adalah kebijakan yang baik – sampai pada masa Chávez.”

Ironisnya, nasionaliasasi pada waktu itu hanya menghasikan sedikit uang dan kendali yang melemah. Ketika minyak Venezuela masih di tangan swasta, pemerintah mengumpulkan 80 cents dari tiap dollar hasil penjualan minyak. Dengan nasionalisasi, angka itu menurun dan menjelang tahun 1990-an, pemerintah hanya dapat mengumpulkan setengah dari jumlah penjualan. Pengembalian yang sedikit ke kocek pemerintah sebagian karena telah usangnya mesin minyak sementara pendapatan yang dihasilkan dialihkan untuk keperluan lain. Sumur minyak juga telah mengering dan mesin menua, padahal perusahaan minyak harus menginvestasikan uang yang banyak hanya untuk membuat agar produksinya stabil dan syukur-syukur bisa tumbuh. Tanpa adanya investasi baru maka , Pdvsa akan kehilangan 25% produksinya setiap tahun. Pejabat waktu itu diyakinkan oleh kenyataan tersebut bahwa Venezuela akan lebih mendapatkan keuntungan jika keuntungan Pdvsa digunakan lagi untuk memproduksi minyak lagi, bukannya untuk pemerintah.

“Social Revenue telah selalu membayangi investasi di industri”kata Ramón Espinasa, dulu dia mantan ekonom Pdvsa tahun 1992 – 1999. “Tetapi saya fikir prioritas yang harus dilakukan adalah menjaga keberlangsungan minyak. Jika anda memiliki lebih satu dollar di kantong, maka anda harus menfaatkan itu untuk menjaga kapasitasa produksi. Jika tidak maka di lain waktu anda tidak lagi punya uang sedolar pun untuk dibagi.

Espinasa, sekarang 55 tahun hidup di Washington dan bekerja sebagai konsultan energi untuk Inter-American Development Bank. Sebagai kepala ekonom untuk Pdvsa, dia sangat persuasif dalam menjalankan strategi “oil first”. Selama era awal 1990 an, perusahaan membutuhkan biaya besar untuk investasi. Cadangan minyak Venezuela berada di kedalaman 4,500 mile persegi di daerah padang rerumputan yang disebut sabuk Orinoco. Cadangan itu luar biasa besar, tetapi 20 tahun lampau tidak jelas apakah secara komersial layak untuk diproduksi. Minyak itu sangat berat (heavy oil) yang disebut sebagai extra heavy oil dan sangat pekat sepekat Play doh, membutuhkan teknologi dan keahlian yang mahal untuk dapat diekstrak, dan bahkan hanya sedikit persentase minyak yang dapat diambil. Minyak ini juga membutuhkan kilang khusus dan sepertinya minyak mentah ini harus dijual dengan harga diskon.

Untuk menjamin adanya pasar bagi minyak mentah Orinoco, di tahun 1982 Pdvsa memulai membeli kilang minyak di luar negeri untuk memprosesnya. Diantaranya Pdvsa membelinya dari Citgo, kilang minyak di Amerika dan juga memiliki jaringan distribusi. Menjelang akhir 1990 an. Pdvsa menjadi peringkat tiga teratas dalam proses pengilangan minyak di US. “Dengan heavy oil, jika anda tidak memiliki kilang sendiri maka produksi minyak anda tidak memiliki rumah: kata Szabo. “Jika anda memiliki kilang, anda memiliki pangsa pasar.” Dan Pdvsa di tahun 1990 an memusatkan diri untuk memperluas pangsa pasar di Amerika.

Eksekutif do Pdvsa juka memutuskan mereka tidak ingin mengambil risiko hutang dalam mengembangkan sumur Orinoco, sehingga di tahun 1989 mereka mulai membuka partisipasi swasta. Pdvsa menurunkan royalti dari 16% menjadi hanya satu persen untuk menarik investasi proyek yang capital intensive. Royalti kemudian dinaikkan menjadi 16% ketika perusahaan swasta tersebut telah mendapatkan persentase tertentu dari investasi mereka. (Ini mirip dengan proses cost recovery system yang ada di Indonesia).

Sekilas, kebijakan ini merupakan keputusan bisnis yang brilian. Kilang minyak Pdvsa di luar negeri menghasilkan keuntungan dengan U.S. sebagai palanggan terbesar. Tetapi selanjutnya, mengumpulkan pendapatan yang cukup untuk negara Venezuela bukan menjadi prioritas utama perusahaan. Dalam kontrak Orinoco misalnya, Venezuela sangat bermurah hati di tahun 2004, dengan harga minyak pada waktu itu sebesar $46 per barrel, perusahaan minyak swasta hanya membayar royalti satu persen. (pada tahun itu juga Chavez menaikkan royalti menjadi 16 persen yang ia tuangkan dalam dekrit)

Faktanya, beberapa keputusan bisnis Pdvsa disamarkan dari pandangan mata sebagai perisai terhadap pemerintah. Pdvsa membeli saham di kilang minyak luar negeri setelah pemerintah mengambil alih investasi yang bernilai jutaan dollar untuk membantu memulihkan krisis keuangan. Ekonom sayap kiri yang sangat kritis terhadap Pdvsa berpandangan bahawa kekuatan asing memungkinkan perusahaan bermain dengan biaya dan keuntungan. Perusahaan dapat menjual minyak ke kilangnya pada harga di bawah pasar – sehingga dapat memperkecil pajak.

Pdvsa telah mengundang para profesional Venezuela yang terbaik. Espinasa, yang terdidik di Cambridge, memiliki kantor yang penuh h dengan generasi muda terbaik venezuela. Sumber daya Pdvsa lebih mengkilap daripada yang berada di kementrian energi yang berfungsi mengawasi Pdvsa. “Di era 1990 an sebagian kebijakan makroekonomi untuk Venezuela dilakukan di dalam Pdvsa,” “Ketika IMF datang ke Venezuela, pertemuan dilakukan di kantor Espinasa. Seluruh angka-angak indikator ekonomi diperoleh dari Pdvsa dan Bank Sentral bukan dari kementrian keuangan.

Duta Besar Alvarez adalah salah satu dari mereka yang berusaha menjaga kendali atas Pdvsa, pertama sebagai kepala komite energi dan pertambangan di kongres dan selanjutnya sebagai wakil menteri energi dan hidrokarbon. Selama berada dalam kementrin tersebut Alvarez telah menjalani pengalaman bersama 200 engineer yang kini telah menyusut menjadi 25 orang. Orang-orang di kementrian energi menyebut mereka Pdvsa sebagai Kerajaan.

Pdvsa memenangkan semua perdebatan. Tetapi banyak orang tidak hanya Chavistas (pengikut Chavez) yang berpandangan bahwa sebenarnya Venezuela rugi. Menjelang tahun 1998, pendapatan riil Venezuela menurun 40% dari jumlah yang mereka dapatkan di tahun 1980. Sepertiga dari warganya hidup dibawah kemiskinan yang ekstrim – meningkat 11 persen di tahun 1984. “Sangat lumrah bagi orang-orang yang bekerja di Pdvsa merasa bangga yang dikenal sebagai salah satu perusahaan minyak terbaik, “ kata Tissot, sang analis minyak. “Sementara itu, para politis mengelola negara dengan kacau, Pdvsa berfungsi dengan baik, tetapi Venezuela tidak.”

Mengapa Pdvsa tidak melakukan sesuatu untuk rakyat Venezuela? Jawabnya karena Pdvsa tidak seharusnya melakukan itu. Pemerintah lah yang seharusnya melakukannya.