Temuan yang diperoleh para resercher di UQ di Centre for Remote Sensing and Spatial Information Science mengatakan bahwa pembukaan lahan oleh orang Eropa sejak kedatangan mereka di Australia menjadi penyebabnya. Lahan yang dibuka ini kemudian diganti dengan vegetasi impor, demikian kata Dr McAlpine dan Dr Clive McAlpine (keduanya peneliti dari UQ)

 

Dengan menggunakan CSIRO Mark 3 climate model, data setelit dan DNRW superkomputer (hmm di Indonesia ada nggak ya alat ini??) mereka berhasil menemukan bahwa pembukaan lahan secara signifikan mempengaruhi semakin panas dan keringnya bagian timur benua Australia

 

Temuan ini memberikan penjelasan bahwa sangatlah simplistik jika kita menduga kalau pemanasan global ini karena efek dari gas rumah kaca. Sehingga dalam hal ini perlindungan dan pemulihan vegetasi asli Australia menjadi bahan pertimbangan yang kritis untuk mengatasi masalah perubahan iklim

 

Perubahan iklim yang ditengarai karena pemanasan global ini membuat curh hujan di musim panas turun sebesar 4 sampai 12 persen di bagian timur, dan 4 – 8 persen di belahan barat daya Australia. Di daerah inilah secara historis pembukaan lahan dilakukan secara besar-besaran.

 

Vegetasi asli Australia ternyata memiliki kemampuan lebih baik dalam menahan kelembapan, yang sedikit demi sedikit diuapkan (evaporasi) lalu akhirnya turun sebagai hujan. Vegetasi ini ternyata juga lebih sedikit memantulkan radiasi matahari gelombang pendek (shortwave) dibanding tanaman impor dari Eropa. Proses yang dilakukan vegetasi asli ini menjaga agar suhu di permukaan lebih dingin dan membantu dalam pembentukan formasi awan.