Apa yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Muaz mengenai memperereat silaturahmi sangatlah menarik. Dengan gaya “betawi” yang beliau miliki, makna silaturahmi yang disampaikan sungguh mengena. Ceramah beliau penuh dengan pesan moral yang juga diselingi dengan humor-humor segar.

Ukhuwah demikian yang dijelaskan Ustadz Muaz, dimulai dari tingkatan paling rendah yaitu dengan manahan diri dengan tidak mencela dan menggunjing keburukan teman kita sendiri, sampai pada tingkatan paling tinggi yaitu ibarat “ketika kaki dan tangan saudara kita terkena duri maka kita juga ikut merasakan sakitnya”. Dampak dari rasa persaudaraan itu menimbulkan semangat mendahulukan kepentingan saudara/ orang lain daripada kepentingan diri kita sendiri.

Namun dibalik indahnya pelajaran ukhuwah islamiah ini, faham materialisme telah menggerogoti budaya bangsa Indonesia. Beliau menyampaikan kesan bahwa bangsa timur seperti kita ini malahan tampak lebih “barat” daripada bangsa Barat sekalipun. Erosi materialisme ini telah melunturkan rasa persaudaraan hingga memunculkan sifat egoisme yang hanya mementingkan kepentingan pribadi saja.

Namun hal tersebut tidak cukup berhenti di tempat itu saja. Beliau menyampaikan bahwa merubah bangsa kita ini tidak hanya sekedar merubah sistem saja tetapi harus merubah budaya bangsa kita. Budaya yang telah lama melekat diri kita tersebut ternyata ketika dirunut ke belakang sejak zaman kedatangan islam pertama kali masih tercampur dengan ajaran sinkretisme islam dengan kebudayaan lokal (Animisme).

Apa budaya yang sangat kental ada di masyarakat ini? Dalam konsep spiritualisme paganisme, sesuatu harus selalu dilambangkan dengan simbol. Hingga misalnya kedudukan dan kehormatan seseorang belum dilihat dari betapa baik dan luhurnya budi mereka tetapi dilihat dari apa atribut yang mereka pakai. Nah simbolisme inilah yang sering disalahgunakan sehingga paradoks ibadah haji berkali-kali , sementara tetangga kanan dan kiri banyak yang kekurangan terjadi. Atau misalnya ketika di tanah suci, untuk ritual ibadah-pun tampak ada egoisme di dalamnya. Misalnya ketika ada orang yang sikut kanan dan kiri ketika hendal mencium hajar aswad.

Kebanggaan yang berupa symbol inilah juga pemicu orang-orang untuk mencapai jalan pintas menuju itu dengan tanpa harus bekerja keras. Padahal dalam dunia nyata membangun generasi yang maju di berbagai bidang diperlukan etos dan kerja keras dari generasi ke generasi. Hingga misalnya apa yang tampak pada zaman sekarang ini, negara-negara seperti Korea, Jepang atau Taiwan menjadi maju karena kerja keras generasi pendahulunya.

Kebanggaan symbol ini juga menyebabkan orang-orang menghargai apa yang tampak daripada esensinya. Sebagai contoh, misalnya para pejabat yang lebih sering naik mobil mewah, padahal memberikan contoh dengan naik kendaraan sederhana akan membawa dampak yang sangat positif bagi masyarakat secara keseluruhan.

Akhirnya Ustad Muaz memberikan point untuk meretas keterbelakangan budaya  dengan 2 kunci. Pertama dengan penguasaan informasi yang dapat menyebarluaskan ide-ide dan ajaran yang baik dan kedua perlunya keteladanan pemimpin yang sangat “radikal” dalam pengertian yang positif.