Kata itu (wrecking) pertama kali saya dengar ketika suatu hari mobil salah teman di Bisbane rusak. Mobil teman ini sudah sangat parah, usia mobil ini boleh dikatakan sudah cukup lanjut, tetapi masih tetap digeber bekerja berat untuk mendukung aktivitas si empunya. Walhasil suatu ketika mobil ini sampai “muntah” air sudah masuk ke ruang pembakaran dan akhirnya mogok total.

Hitung-punya hitung, akhirnya tercapailah kesimpulan untuk membawa mobil ini ke wreckers (tukang loak) di brisbane. Daripada mengeluarkan uang untuk menservis mobil ini akhirnya diputuskan untuk menterminasinya saja. Di tempat itu (Wreckers) mobilnya dimutilasi, spare part yang masih bagus diambil untuk dijual kembali dengan harga yang murah.

“Melempar” mobil bekas ke Wreckers pada hakikatnya menguntungkan dua belah pihak bak dari sisi pembuang maupun dari sisi penadah. Simbiosis ini memunculkan pasar spare part second yang sangat menguntungkan bagi siapa saja yang tidak berkocek tebal.

Dari sisi empunya wrecker atau penadah tentu saja menguntungkan karena mereka mendapatkan suplai barang dagangan. Sementara itu dari sisi “pelempar” mobil juga menguntungkan minimal mobil masih dihargai sebagai “besi tua” dan bisa menghindarkan diri danri denda. Di Brisbane, pemilik mobil harus memperhatikan betul larangan menaruh mobil sembarangan. Kalau ketahuan polisi menelantarkan mobil rusak di sembarang tempat maka tentu saja dendanya akan segera dikirim.

Semakin lama waktu mobil “ngetem” semakin banyak pula denda yang harus dibayarkan. Oleh karena itu kalau berniat membuang mobil maka buang saja mobil bekas yang kita miliki ke Wreckers tetapi perlu diingat mobil harus di unregister dulu.

Dengan keberadaan si Wreckers ini maka para pemobil yang nggak kuat beli spare part baru bisa “lari” ke tempat ini. Dan pastinya bisa dijamin kalau spare-part bukan barang curian. (Harap diketahui bahwa tingkat pencurian mobil di Brisbane sangat rendah……..)