Semua warga Australia terkesima melihat karir politik Kevin Rudd yang begitu cepat menjadi orang nomor satu di Australia. Setelah sebelas tahun menjadi anggota parlemen, dia langsung menjadi Perdana Menteri. Pemilihan Umum hari Sabtu (24 November 2007) lalu membuktikan bahwa dia kini berada di antara jajaran pimpinan labor yang hebat. Namun tidak seperti pemimpin labor terdahulu seperti john Curtin (1943), dia tidak memakai jubah sebagai pemimpin perang, tidak seperti Gough Whitlam tahun 1972, dia tidak mengalahkan lawannya dengan karikatur memalukan pemimpin pemerintahan di kala itu. Tidak seperti Bob Hawke (1983), dia tidak memiliki keunggulan karena lawannya yang tidak kompeten mengatur ekonomi.

Faktanya kevin Rudd sekarang telah menjadi perdana menteri Australia. Sebenarnya jauh sebelum pemilu pun deputi perdana menteri / treasuree Peter Costelo (Liberal party) telah khawatir ketika Rudd tampil menjadi pemimpin partai labor menggantikan Kim Beazley. Bahasa dan artikulasi dari setiap kalimat yang diucapkannya sangat jelas. Keunggulan ini secara politik dapat mengangkat image partai.

Lebih daripada itu, kenyataannya bahwa rakyat Australia menginginkan pergantian pimpinan setelah sebelas setengah tahun dipimpin Howard tidak dapat dipungkiri lagi. Sinyal kemenangan Rudd sebenarnya telah dapat diduga ketika angka di pooling menempatkan dia beberapa persen di atas Howard. Ibarat berdagang, politik pun harus pula memiliki sesuatu yang bisa dijual. Kepiawaian Rudd dalam komunikasi publik adalah sesuatu yang bisa dijual. Selain dari cara berkomunikasi Rudd yang sangat baik (walaupun dari berbagai kesempatan dia dikenal sebagai type pendiam), labor juga memiliki isu-isu publik yang berhasil dijual. Isu-isu ini selain sebagai daya tarik Labor untuk meraup suara pemilih ke depan akan menjadi indikator keberhasilan kinerja Rudd. 

Ada beberapa isu yang segera harus segera direalisasikan sesuai janji kampanye labor. Mulai dari perubahan iklim sampai pada belanja kesejahteraan, dari tarif pajak sampai pada aliansi dengan U.S, pendidikan sampai pelayanan kesehatan. Dalam beberapa hal, kebijakan labor ini sangat kontras dengan kebijakan pemerintahan koalisi sebelumnya. Janji itu harus direalisasikan namun ibarat kapal yang berubah haluan, baik dan buruknya kebijakan politik Rudd ini akan ditentukan oleh waktu.

Berbeda dengan negara kita yang meletakkan hubungan industrial di bawah permasalahan yang lain. Hubungan industrial yang dituangkan dalam regulasi yang disebut Workchoice ini mendapat  perhatian yang sangat besar dari konstituen keluarga kelas pekerja.  Di bawah Howard, regulasi perburuhan ini mengarah pada penciptaan lapangan kerja namun hal dilihat oleh partai labor sebagai ketentuan yang membatasi hak kaum buruh. Apakah nanti Rudd berhasil merubah arah hubungan industrial dan dalam waktu bersamaan dapat menurunkan angka pengangguran di bawah 3 persen?.

Satu yang menjadi pokok permasalahan adalah bagaimana menciptakan upaya perbaikan kesejahteraan keluarga kelas pekerja dan di saat yang sama mampu menurunkan tingkat pengangguran.

Merubah haluan dengan merubah kebijakan perburuhan mungkin sangat mudah, tetapi melihat ke depan dampak dari kebijakan ini akan sangat sulit. Kebijakan yang bersifat populis ini (memihak kaum buruh) belum tentu menguntungkan dalam jangka panjang. Bisa-bisa menjadi boomerang di masa depan. Meskipun demikian para analis politik melihat Rudd sebagai ketua partai labor yang tidak tulen. Dia tidak akan serta merta menuruti keinginan para aktivis buruh jika tidak menguntungkan ekonomi dalam jangka panjang.  Langkah tegas telah dia lakukan terhadap para ketua serikat buruh yang bertindak tidak patut.

Walaupun dia mengaku sebagai pendukung kebijakan ekonomi konservatif dia sebenarnya bukan dari kalangan ekonom. Karir Rudd yang dominan sebagai diplomat karir. Melihat kenyataan ini konstituen mancoba untuk menunggu formulasi kebijakan ekonomi apa yang tepat paling tidak untuk mempertahankan kinerja ekonomi di bawah Howard.

Menimbang pengalaman  China yang sangat berpihak kepada pengusaha, karena mereka menginginkan dalam jangka penjang penciptaan lapangan kerja, walaupun dampak dari kebijakan ini tidak memihak kaum buruh. Jika Rudd memberikan lapangan bergerak yang lebih luas kepada aktivis buruh untuk nego dengan pengusaha akan memberikan dampak yang luar biasa dalam ekonomi.

Pak Rudd mewarisi kinerja ekonomi yang baik dari Howard. Bayangkan saja, di bawah Howard, angka pengangguran adalah yang terendah sejak 1970. GDP tumbuh rata-rata 3% sementara itu ekspor tumbuh 10%. Pemilu kali ini merupakan kekalahan Koalisi Liberal – National tanpa ada sentimen negatif yang signifikan di bidang ekonomi, kecuali kenaikan suku bunga yang menjerat leher para debitur mortgage. Namun kenaikan suku bunga ini bukan semata karena kinerja ekonomoni Howard yang buruk. Hal ini semata disebabkan karena naiknya harga minyak dan kasus subprime mortgage di U.S. yang tidak begitu saja mudah diisolasi mengingat integrasi ekonomi yang mengglobal.

Sentimen negatif yang muncul dari Howard adalah usianya yang terbilang sudah senja, dan pula isu mengenai handover posisinya kelak ke tangan Peter Costello. Inilah yang dibaca oleh para pemilih bahwa memilih Liberal berarti memilih Costello, padahal mereka tidak menginginkannya. Hal lain yang membuat Howard menjadi tersudut adalah keenggannnya meratifikasi Kyoto Protocol, walaupun dia mengambil kebijakan ini bukan dengan tanpa sebab. Howard tidak mau mengambil resiko ekonomi dari Kyoto protocol. Di sisi lain, keengganan Howard untuk meminta maaf kepada masyarakat aborigin tambah memunculkan sentimen negatif.

Isu yang diangkat Rudd,yang manarik untuk dicermati adalah apa yang dia sebut sebagai revolusi pendidikan. Konsep yang dia tawarkan sederhana namun realitanya membutuhkan kerja keras untuk menciptakannya. Revolusi ini berkaitan dengan upgrading training dan keterampilan serta pemberian akses perangkat teknologi informasi dan fasilitas internet berkecepatan tinggi kepada siswa sekolah menengah dan universitas di Australia. (Hmm.. kalau konsep ini diwujudkan di Indonesia butuh berapa trilyun ya??)

Dalam waktu segera. Rudd harus berkemas untuk segera meratifikasi Kyoto Protocol. Mungkin saja Pak Rudd bisa setenar Al Gore sebagai pahlawan lingkungan. Selanjutnya dia bersiap pula untuk menarik pasukan Australia di kancah perang Irak dan Afganistan. Dan tidak lupa memperbaiki hubungan dengan tuan tanah masa lalu (masyarakat aborigin) Tugas berat untuk mempertahankan booming ekonomi Australia menanti. Saya sebagai rakyat negeri sebelah menanti kebijakan luar negeri seperti apa yang akan Pak Rudd jalankan terhadap Indonesia.