Wow sobat sudah lama juga nich aku nggak bikin coret-coretan di web ini. Sejak meninggalkan kota tercinta Brisbane menuju Jakarta, aku jadi terasingkan dari dunia maya. Dan memang kehidupan di Jakarta adalah suatu realita sejarah dan masa depan.

Mengapa dua kata itu terangkai menjadi satu (sejarah dan masa depan) karena sosok kota Jakarta merupakan cerminan dari dua kata itu. Ketika suatu peradaban sosial belum meninggalkan sifat tradisionalnya maka yang terlihat di depan mata adalah suatu sejarah. Sementara di sisi lain potret masa depan juga tergambar bersamaan seiring dengan pembangunan berbagai sarana prasarana yang kalau boleh aku bilang menambah semrawutnya kota ini.

Dari sisi sosial aku melihat ada hal yang sakit di dalam jiwa warga yang mendiami kota ini. Budaya warga kota telah menjadi sakit karena tergerus oleh permasalahan-permasalahan sederhana yang tidak sudah lama tidak bisa ditangani dengan baik.

Kita telah menjadi sakit oleh berbagai paradok realitas di depan mata. Sebut saja kata “miskin”. Apakah kita ini memang bisa dibilang miskin jika tidak jauh dari pemikiman jorok (rumah-rumah tempel pinggir rel dan rumah panggung di sisi kali ciliwung)  berdiri dengan megah perkantoran pencakar langit, apartemen dan hotel yang maha mewah.

Kita telah menjadi sakit karena ketidak bisaan kita menangani  masalah-sederhana yang sebenarnya terbatas pada kebutuhan fisik minimum (ingat masalah tempe, dan minyak tanah yang membumbung tinggi).

Kita juga menjadi sakit oleh rutinitas wacana yang wara wiri di telinga tetapi nggak juga kesampaian. Sebut saja misalnya janji pemerintah  untuk mengatasi kemacetan dengan monorail, KRL dan busway yang ternyata masih jauh dari ideal. Wacana penegakan hukum, birokrasi yang efektif, penataan ruang dan lingkungan yang baik entah kapan bisa terwujud.

Kita juga menjadi sakit akibat ditumpuk dalam ruang dan waktu yang sempit. Bahkan waktu seakan telah jauh meninggalkan kita. Waktu yang berjalan bisa kita lihat dari bagaimana bangsa lain merubah peruntungannya menjadi bangsa yang lebih maju dan beradab. Ruang pun demikian karena kita harus berbagi dengan sekian ribu nyawa yang juga mendiami tempat kita.

Setumpuk permasalahan itu membuat akal budi kita menjadi sakit. Hingga akhirnya kita memiliki budaya yang sakit karena otak dan jiwa yang kita miliki untuk mengolah budaya itu telah sakit duluan.