Tulisan ini hanyalah ekspresi kegamangan begitu kaki menginjak kembali pelataran bendara yang telah kutinggalkan dua tahun lamanya. Sebetulnya agak telat juga tulisan ini dibuat karena waktu itu aku sampai di bandara Cengkareng pada tanggal 8 Desember 2007 sedangkan sekarang sudah berada pada penghujung bulan Januari 2008.

Begitu Pesawat SQ mendarat di Bandara, roda-roda gemericik pesawat beradu dengan landasan Bandara, perasaan lega langsung mengembang dalam hatiku. Aku berucap syukur bisa sampai kembali ke tanah air dengan selamat dan segera bisa berjumpa dengan sanak saudara yang sudah lama aku tinggalkan.

Sejenak selepas kaki melangkah dari gar barata yang menghubungkan pintu dengan bandara, rasa gamang kembali muncul. “kusam” kata pertama kali muncul ketika mamandang bandara yang telah menjadi termewah di negeri ini. Koridor dan sebagian dinding di bandara itu telah kusam. Beberapa bagian tembok ada bekas bekas kaki. Lampu di bandara itu juga sangat redup. Namun, Lantai bandara masih meninggalkan kesan karena warnanya yang seperti warna bata merah, aku suka. Sementara itu kakiku terus melangkah menuju bagian cek imigrasi.

Bandara Cengkareng (Soekarno Hatta) ini adalah yang terbesar dan termewah di negeri ini. Namun apa daya zaman ternyata telah meninggalkan Bandara ini. Aku hanya bisa menelan ludah ketika membandingkannya dengan bandara Changi yang baru saja aku singgahi. Kesan modern dan profesional sangat jauh, aku agak kecewa melihat layar monitor yang menunjukkan kemana kita harus mengambil barang. Layar LCD itu sangat kecil dibandingkan dengan ukuran ruang pengambilan bagasi yang begitu lebar.

Kehidupan ini mungkin tidak berjalan sebagai mestinya, karena roda di tempat ini tidak berputar. Meja pemeriksaan imigrasi itu telah sangat kusam, bahkan ada meja yang sudah tidak apik lagi karena kayunya telah terkoyak, entah apa yang telah mengoyaknya. Sederetan pegawai imigrasi duduk melayani satu persatu tamu di negeri ini dengan wajah yang biasa-biasa saja, tidak tampak antusiasme dan wajah yang sumringah di wajah-wajah para pegawai itu. Tempat antrian para penumpang di depan meja juga tidak dilengkapi dengan pembatas yang mengakibatkan antrian penumpang menjadi sedikit kacau.

Selepas dari ruang bandara, hawa Jakarta yang sangat khas menjemputku, sama seperti dulu, panas dan sangat lembab. Kepulan abu rokok mendominasi bagian luar bandara hingga membuat nafasku menjadi berat.

Disana, dibagian tunggu penumpang, saudara dan “kekasih” koe yang telah 6 bulan lamanya nggak ketemu melambai. Inilah waktu baru buatku. Pertemuan itu akan mengawali perjalanan hidupku berikutnya bersama si dia.