Kebenaran itu menurut kacamata agama merupakan kebenaran yang haqiqi, tidak multi-interpratatif dan memiliki standar penilaian yang seragam. Apa yang menjadikan kebenaran mutlak itu menjadi satu hal yang patut diyakini? Jawabannya adalah karena berasal dari Allah, Tuhan pencipta alam semesta.

Namun apa daya ketika manusia mencoba merumuskan kebenaran menurut realita yang ditafsirkan sesuai dengan akal dan budidaya manusia di tempat itu. Tentu saja karena jika kebenaran itu  bersifat sosial dan kemasyarakatan, apalagi mengenai nilai dan norma maka menimbulkan multi-interpretatif yang panjang dan melelahkan.

Untuk menghindari salah tafsir ini maka diperlukan satu sumber mutlak yang dipercayai semua pihak. Jika dikaitkan dengan masyarakat yang sekuler maka tentu saja kebenaran itu akan selalu berpijak pada hukum yang berlaku.

Kebenaran akhirnya tidak selalu menjadi milik oleh orang yang soleh, karena bisa saja dia berbuat salah dalam kacamata hukum. Kata salah satu teman, “engkau ini salah karena gagal membuktikan dirimu benar dan gagal membuktikan tuduhan orang lain salah”.

Dengan demikian “Benar” apakah benar untuk kategori yuridis harus selalu didudukkan dalam koridor kriteria hukum yang berlaku. Semoga diri kita bisa selalu bertindak benar menurut kriteria agama dan hukum yang serba sekuler ini…….amieen.