Sepulang dari tempat kerja aku berbegegas pulang. Waktu itu meniunjukkan sekitar pukul 4.30 sore. Aku beranjak menuju stasiun Cikini, berharap ada kereta AC express atau ekonomi nggak masalah dari ara kota menuju Depok atau Bogor.

Ternyata aku salah sangka, kereta AC ekonomi baru berangkat jam 6 petang, sementara itu AC express nggak berhenti di Juanda. langsung aku naik Kopaja jur Senen Manggarai. Di stasiun yang kusam itu (manggarai) keadaannya setali tiga uang. Kereta yang agak bagusan (AC) adanya hampir jam 6 juga (tepatnya jam 5. 47). Daripada lelah menunggu aku segera aja beli kereta ekonomi.

Di sinilah cerita-cerita nggak keruan mengenai kereta ini terjadi. Segala yang berbau pengap, sempit, bau, lelah, keringat, gelap , panas ada di kereta itu. Di dekatkau seorang perempuan berusaha menenangkan saudaranya yang basah kuyup karena lelah dan kepanasan. Aku mendengar keluh kesah dan nafas yang tersengal dari saudara itu. pegangan tangan di atas hampir lepas sementara kaki nggak bisa menginjak bebas di tanag. Udara di dalam gerbong begitu panas penuh dengan karbon. badan saling beradu, tidak sedikitpun badan maupun anggota tubuh bia bergerak dengan bebas.

Yang ada di fikiranku hanyalah moga-moga saja kereta ini segera sampai di tempat yang dituju. Aku pribadi nggak akan bisa tahan berlama-lama berdiri di kereta ekonomi ini. Aku nggak bisa bayangkan jika harus naik kereta ini setiap hari, tubuhku pasti remuk redam. Belum lagi oleh resiko kecopetan sangat mungkin bisa terjadi.

Itulah kereta ekonomi. Alat angkut masal yang menjadi tumpuan warga ibukota ke tempat kerja dan kembali ke rumah. harga tiket yang sangat murah (Rp1500) sangat sebanding dengan resiko keamanan dan ketidaknyamanannya. Sementara itu alternatif KRL AC belum menjadi pilihan yang baik karena jadwalnya yang nggak tepat waktu dan juga frekwensinya yang sangat jarang.