Lanjutan Petrokrasi
Kemiskinan di Venezuela berkurang di bawah pemerintahan Chavez. Berdasarkan statistik resmi, populasi yang hidup dalam kemiskinan yang ekstrem, yang diukur dari pendapatan kas, turun dari 20.3 persen pada pertengahan akhir 1998 menjadi 11.1 persen pada pertengahan akhir tahun 2006. Booming minyak mungkin dapat diharapkan mengurangi kemiskinan. Pertanyaan nyata adalah apakah pendapatan itu akan berkelanjutan. Weisbrot mengatakan bahwa dia yakin hal itu akan terjadi. Dia menunjuk pada misi dan angka-angka ada peningkatan di bidang kesehatan dan pendidikan yang tidak bisa diukur dari pendapatan kas. Meskipun demikian persentase penduduk yang hidup tanpa air bersih dan hidup di perumahan yang tidak layak dan juga anak-anak yang putus sekolah kurang mendapatkan porsi anggaran yang cukup pada dasawarsa terakhir. Persentase bayi yang dilahirkan dengan bobot rendah meningkat dari tahun 1999 ke 2006. Angka-angka ini mungkin berarti bahwa misi chavez benar-benar membantu melalui tunjangan berupa uang tunai.

Sesukses apapun misi untuk membantu orang-orang miskin menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan distorsi ekonomi secara umum. Inflasi menurut statistik resmi pada angka 16% tetapi mingkin lebih tinggi kata Orlando Ochoa, seorang ahi ekonomi yang sering mengkritik Chavez. Dia mengatakan bahwa di dalam keranjang barang dan jasa untuk mengukur inflasi, hanya setengah jenis barang-barang yang dijual pada harga yang dikendalikan pemerintah. Banyak barang-barang yang tidak dapat dibeli pada harga itu, dan konsumen harus membayar harga yang berlipat pada pasar jalanan. Beberapa barang bahkan tidak bisa didapatkan sama sekali, produsennya terpaksa gulung tikar akibat kebijakan pengendalian harga. Kacang-kacangan dan gula sangat sulit didapatkan dengan harga murah ketika saya (wartawan) mengunjungi Caracas si bulan September; susu segar dan telur bahkan sama sekali tidak ada di pasar. Akhir-akhir ini harus mengantri selama lima jam hanya untuk mendapatkan satu liter susu. Satu usulan dari konstitusi yang disusulkan Chavez di referendum dapat meningkatan inflasi dengan menghilangkan otonomi Bank Sentral dan memberikan kekuasaan kepada Chavez terhadap cadangan Internasional. Usulan itu juga secara esensial memungkinkan Chavez untuk mencetak uang.

Ancaman utama terhadap ekonomi datang dari nilai tukar mata uang. Minyak menyebabkan mata uang Venezuela (Bolivar) menjadi terlalu tinggi. Perkebunan dan pabrik ada dalam masalah. Mereka tidak dapat melakukan ekspor dan harus berkompetisi di pasar domestik dengan barang impor pada harga nilai tukar resmi, yang pada saat sekarang sepertiga dari nilai tukar pasar. Venezuela sekarang dibanjiri oleh produk impor yang murah, dari barang kebutuhan pokok dampai ke mobil mewah. ”Kapasitas produksi kami sangat lemah untuk menciptakan lapangan kerja,” kata Petkoff.”Namun kami mengkonsumsi seperti negara kaya”

Disparitas antara nilai tukar resmi (2,150 bolivar per dolar) dengan pasar gelap (6200 bolivar per dolar) telah menciptakan kelas baru yang disebut (Boluburgesia. Para bankir, pedagang, dan siapapun yang bekerja di sektor keuangan menjadi sangat kaya dengan memanipulasi nilai tukar. Beli semua whiskey dan Hummers impor, begitulan pesannya. Hidupkan kehidupan dari kelebihan yang liar, Jangan coba untuk memproduksi sesuatu.

Bahkan jika harga minyak tinggi, ini tidak akan membuat Venezuela berkelanjutan jika produksi minyak terus menurun, konsumsi domestik yang disubsidi terus meningkat dan belanja pemerintah terus menerus tidak terkontrol dan terukur. Sementara negara produsen minyak yang lain seperti Rusia dan Nigeria, semakin menumpuk surplusnya, Venezuela membelanjakan semua yang dia dapatkan. Venezuela pernah memiliki 6 milar dolar dana minyak untuk disimpan di tahun-tahun berikutnya; Chavez membenjakan semunya dan hanya menyisakan 700 juta dolar. Sebagian besar misi Chavez dan kerjasama pekerja sangat bergantung pada dana pemerintah yang tidak akan berkelanjutan jika pendatan pemerintah jatuh. Devaluasi mata uang akan menghapuskan pendapatan orang-orang miskin.

Ini adalah kutukan minyak sejak dulu, dan Venezuela telah mengalami sebelumnya. Pada tahun 1973 dan 1981, Venezuela membelanjakan uang minyak tanpa kendali. Setiap saat booming minyak berakhir, akan meninggalkan Venezuela lebih buruk daripada semula. Pendapatan per kapita tahun 1999 sama dengan tahun 1960. Chavez sepertinya sangat mengintensifkan siklus ini, dan negara ini tidak mampu memproduksi apapun selain minyak.

Petualangan Venezuela untuk menasionalisasi perusahaaan minyak asing telah memunculkan dua model yang berbeda. Pada saat dimana harga minyak rendah dan negara sangat memerlukan uang untuk belanja sosial, Pdvsa yang lama memusatkan untuk menginvestasikan pada produksi minyak yang oleh sebagian besar kalangan sangat tidak demokratis dan tidak adil bagi rakyat. Tetapi cara baru telah menimbulkan sesuatu yang lebih buruk – kegagalan ekonomi walaupun terjadi booming harga, dan inipun juga tidak adil bagi generasi selanjutnya.

Nasionaliasi merupakan respon terhadap kegagalan swastanisasi minyak untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Bahkan di negara Amerika, dimana ada banyak peluang untuk tertangkap tangan, perusahaan minyak telah melambungkan biaya mereka dan secara ilegal mengurangi biaya dan melakukan hal lain untuk meminimalkan kewajiban untuk membayar. Untuk negara miskin , resiko untuk mendapatkan tawaran kasar dari perusahaan minyak swasa sangat besar.

Sejarah telah dikotori dengan kontrak dimana perusahaan minyak besar mendapatkan keuntungan yang tidak adil – Shell di Nigeria, Mobil di kazaksthan dan Texaco di Ecuador adalah antara lain pelakunya. Minyak juga merupakan godaaan yang tidak tertahankan bagi para penguasa negara. Dimana institusi demokratis – dan proses transparan tidak ada, jalan untuk melakukan korupsi sangat terbuka. Minyak di Russia, sebagai contoh, dijual tidak untuk memaksimalkan keuntungan untuk negara tetapi untuk memaksimalkan keuntungan para pejabat yang mengawal proses privatisasi. Di Guinea Equator, ExxonMobil, Amerada Hess, Marathon dan yang lain melakukan pembayaran kepada Presiden Teodoro Obiang atau keluarga mereka untuk tanah, keamanan dan jasa lain menurut investigasi senat pada kasus pencucian uang yang melibatkan Riggs Bank, dimana beberapa pembayaran disimpan di situ.

Nasionalisasi, bahkan tidak bisa menyembuhkan penyakit ini, dan ini dapat menghancurkan hak suatu negara untuk mendapatkan kekayaan alamnya dengan cara lain. Hal ini disebkan hanya karena faktor kekurangan Know-how (mereka tidak tahu cara melakukannya). Satu alasan yang membuat presiden Bolivia Evo Morales menarik ancamannya untuk melakukan nasionaliasasi radikal industri gas karena pejabat Bolivia menyadari mereka tidak dapat menjalankan bisnis itu. Morales telah memusatkan untuk meningkatkan royalti lahan dengan cadangan terbukti, lahan dimana perusahaan telah memilik jaminan atas pengembalian investasi mereka. Royalti pada zaman dulu sebesar 18%. Dibawah tekanan protes, pemerintah sebelumnya menaikkannya menjadi 50%, dan tahun lalu Morales meningkatkannya menjadi 82 persen. Sementara investasai asing di industri gas alam Bolivia turun, setiap analis yang ditanya menjawab itu bukan karena tekanan royalti. Retorika nasionalisasi Morales, bukan tarif royalti yang membuat perusahaan swasta terkejut takut. Ada perbedaan besar untuk investor ketika ada kekhawatiran adanya nasionalisasi, ”kata Amy Myers Jaffe, anggota riset lembaga nonpartisan James A. Baker III Institute for Public Policy, di Rice University , Houston. Ada faktor tak terlihat (intangible) yang tidak dapat dikendalikan, dan ini menciptakan semua resiko politik. ” Roger Tissot of PFC Energy menambahkan: “Perusahaan tidak punya masalah membayar lebih banyak rente an pajak. Mereka memiliki masalah jika tidak memiliki kendali (control).

Dengan ini maka mungkin strategi yang paling bagus untuk negara kaya minyak adalah mempertahankan minyak di tangan swasta, melakukan pengawasan secara hati-hati dan memajaki minyaknya. Dan yang mungkin yang lebih baik adalah meningkatkan royalti, yang kelihatannya lebih mengena dan lebih mudah dikumpulkan. “Jika tujuan anda untuk memaksimalkan rente , dan jalan yang paling bagus adalah membuat perusahaan berkompetisi satu sama lain pada proses tender untuk masuk. Libya mengundang kembali perusahaan swasta untuk datang dan memeras 90% keuntungan mereka.

Seperti sebuah slogan,” lakukan negosiasi untuk tarif royalti yang lebih baik!” memiliki kaitan dengan “Minyak adalah milik kita”, Nasionalisasi sumber daya alam dapat meningkatkan kemakmuran walaupun manajemen sumber daya gagal. Dorongan untuk menasionaliasasi, adalah berakar dari dorongan politik. Chavez mengambil alih pdvsa bukan untuk meningkatkan produksinya tetapi lebih untuk mengendalikan secara langsung uangnya. Ketika pemerintah memenuhi tuntutan ini, mereka sangat rentan terhadap godaan untuk menggunakan minyak bagi tujuan jangka pendek.

Tetapi tidak selalu seperti itu. Produksi minyak nasional tidak selalu mengarah pada korupsi politik atau pandangan jangka pendek. Jika Pdvsa lama dioperasikan pada saat booming harga sekarang, akan ada banyak uang untuk investasi di minyak dan program sosial. Tetapi ini akan menjadi pekerjaan pemerintah untuk melakukan pengawasan perusahaan dengan lebih dekat untuk menjamin negara mendapatkan haknya dengan adil – dengan kata lain, untuk menjamin minyak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu menghasilkan uang yang berkelanjutan untuk negara. Juga menjadi pekerjaan pemerintah untuk menggunakan uang itu dengan bijaksana. Ini sebenarnya merupakan pekerjaan yang lebih penting dan menjadi sulit daripada dilema apakah melakukan nasionalisasi atau tidak, pemecahannya tidak bergantung pada apakah produksi minyak dinasionalisasi atau diswastakan.

Semua produksi minyak berakhir pada beberapa titik realisme politik – apakah kepentingan mereka akan memberikan karunia pelayanan? Satu-satunya jalan untuk memecahkan pengaruh politik adalah kesamaan transparansi untuk perusahaan negara dan swasta. ”Harus ada suatu hukum dimana sebuah perusahaan minyak nasional harus mempublikasikan angka-angka perusahaan, sesuai dengan filing S.E.C”, kata Jaffe, the Baker Institute fellow. “Kami merekomendasikan bahwa harus ada regulator di parlemen yang mengharuskan pelaporan secara lengkap. Laporan ini harus dibuka untuk umum. Sesuatu yang mudah untuk dikatakan tetapi sukar untuk dilakukan.

Perusahaan swasta benar menerbitkan laporan tahunan yang kredibel – tetapi banyak diantara mereka tidak pernah mengungkapkan berapa yang mereka bayar untuk pemerintah tuan rumah. Beberapa kampanye baru lembaga non pemerintah, seperti Terbitkan apa yang anda bayar dan Inisiatif transparansi industri ekstraktif, mencoba untuk memalukan perusahaan dan pemerintah dengan membuka buku mereka untuk umum. Sampai sejauh ini mereka tidak terlalu berhasil.

” Masalahnya bukan siapa yang memiliki sumber daya, tetapi apa yang kau dapat dari hasilnya,” kata David Mares a professor ilmu politik di the University of California, San Diego, yang memepelajari energi di Amerika Latin. “Jika kau menghabiskannya untuk korupsi dan program yang tidak berkelanjutan, ini sama buruknya dengan dominasi perusahaan internasional terhadapmu, yang hanya membayar sedikit pajak.”

Nasionalisasi tidak dapat menghindarkan minyak dari pencurian. Pengawasan yang baik, akuntabilitas dan manajemen minyak yang baik, tidak peduli siapa pemiliknya. “Pada tanggal 1 Januari 1976, hari pada saat nasionalisasi, Perez berpidato dengan banner di belakangnya yang dapat dibaca ‘El Petróleo Es Nuestro,’ ” Antonio Szabo berkata . “Tebak apa itu? It was nuestro all along.”