Transportasi perkotaan telah menjadi masalah pelik di negara kita ini. Di kota terbesar di Indonesia (Jakarta) hampir setiap orang pernah merasakan stress ketika menghadapi kemacetan yang berlarut-larut di jalan raya. Dalam keseharian kita, tekanan muncul seketika manakala kita keluar dari pintu pagar rumah. Asap kendaraan bermotor roda dua maupun empat membuat dada sesak. Raungan kendaraan bermotor silih berganti memekakkan telinga. Pemandangan di luar ruangan tertutup kabut tebal siang malam.

Sebenarnya ini adalah ironi mengingat Jakarta adalah kota modern dan megapolitan Silih berganti gubernur datang dan pergi namun mereka semua gagal menata transportasi publik yang semakin carut marut. Jangankan untuk kenyamanan, mau bebas macet saja sulitnya minta ampun.

Jakarta sesungguhnya menuju tahap beberapa langkah menuju bencana transportasi dalam beberapa tahun ke depan. Tanda-tanda ke arah itu sangat gamblang. Ruas jalan makin sesaak dan sempit tidak mampu menampung jumlah kendaraan bermotor yang semakin melimpah Jarak tidak lagi berbanding lurus dengan waktu. Hingga bukan lagi mobil yang mengalami kemacetan, namun kendaraan roda dua pun mengalami hal yang sama.

Saat ini tidak ada lagi jalan raya yang nyaman untuk dilalui terutama di jam-jam sibuk pada pagi dan sore hari. Berangkat ke dan pulang dari kantor memerlukan energi yang bahkan lebih besar daripada energi untuk bekerja. Setiap orang yang turun ke jalan kurang lebih mengalami stress yang hampir sama. Di saat mata lelah, konsentrasi menurun kita dihadapkan pada pemandangan luar biasa di jalan raya yang penuh sesak oleh kendaraan.

Hancurnya sistem transportasi di Jakarta tidak mampu lagi mendukung perkembangan kota modern yang membutuhkan sarana transportasi yang efisien dan nyaman. Daya saing Jakarta semakin terpuruk dengan kondisi ini. Bukan hanya dari segi biaya yang perlu dibayar mahal oleh warga kota Jakarta untuk berkendara namun mereka harus membayar mahal atas pemborosan waktu.

Mengapa disebut bencana? Apabila berbagai sarana yang terkait dengan fungsi transportasi mandeg dan ekses transportasi menimbulkan efek negatif yang luar biasa besar maka hal itu sudah pantas disebut bencana transportasi. Bencana transportasi pertama dimulai dari kemacetan secara sistemik. Sistem transportasi tidak berjalan semestinya. Indikator kemacetan sistem tampak dari dari ketidaknyamanan yang luar biasa dan ketidakefisienan transportasi publik. Gabungan dari kedua faktor tersebut terlihat dari banyaknya orang yang memiliki dan menggunakan kendaraan pribadi. Mereka bingung mencari alternatif transportasi yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Di saat tidak ada sarana transportasi publik yang nyaman maka orang-orang akan beramai-ramai menggunakan alat transportasi privat yang ternyata menambah kemacetan.

Jika kita melihat transportasi sebagai suatu fungsi, transportasi eksis untuk memperpendek jarak, waktu dan tenaga (JWT). Transportasi berfungsi normal apabila memberikan kemudahan dari sisi JWT dibandingkan dengan jalan kaki. Nah jika waktu tempuh kendaraan roda empat atau dua lebih lama dibandingkan dengan jalan kaki maka fungsi transportasi tidak dapat disebut normal.

Selain dari faktor kemacetan ekses lainnya adalah polusi udara. Sudah tampak jelas tampak di depan mata asap jelaga yang memenuhi semua ruangan terbuka di Jakarta. Jika anda melepaskan pandangan dari dalam pesawat ke arah kota jakarta. Gedung-gedung tinggi di sekitar jalan Sudirman Thamrin dan Gatot Subroto tampak ditutupi kabut yang pekat. Tadinya saya berfikir kabut tersebut timbul karena pada waktu itu cuaca dalam keadaan mendung, tetapi ternyata pada saat cuaca cerah pun, gedung-gedung tinggi tersebut masih tertutupi kabut tebal berwarna putih kehitaman. Jika dilihat dari dekat gedung-gedung tinggi itu juga kelihatan cepat kusam karena asap polusi. Jika anda perhatikan dengan cermat, beberapa baliho iklan yang baru, tidak beberapa lama kemudian warnanya menjadi kusam. Itu semua karena adalah kabut polusi kendaraan bermotor yang betul-betul sudah sangat parah.

Harapan menuju transportasi yang baik dan efisien terletak pada perbaikan manajemen transportasi umum. Bencana transportasi perkotaan timbul akibat lemahnya pemerintah dalam membuat kebijakan transportasi umum di perkotaan. Pemerintah kota telah gagal mengantisipasi masa depan. Mereka tidak mampu mengantisisapsi hukum supply dan demand. Yang ternyata lebih berat bergerak ke arah demand. Pertambahan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya mobilitas ternyata tidak diimbangi dengan penyediaan transportasi umum yang massif dan efisien.

Jika menilik kondisi persebaran populasi penduduk yang tinggal di daerah pinggiran sementara tempat bekerja mereka berada di tengah kota maka transportasi umum yang masif merupakan suatu keharusan. Jika tidak maka kebijakan alternatif perlu dilakukan dengan menggiring populasi pinggiran menuju tengah kota. Dengan kebijakan ini maka mobilitas menurun.

Perbaikan transportasi umum yang masif bukan dengan mempersempit ruang gerak kendaraan pribadi dengan memperkenalkan busway atau semisal kebijakan three in one. Perbaikan manajemen transportasi dilakukan dengan beberapa metode komprehensif yang meliputi peningkatan dari sisi kualitas pelayanan, kuantitas, insentif dan penegakan hukum.

Kita sebenarnya sering salah mengerti mengenai perbaikan kualitas sering dikaitkan dengan pelayanan ke golongan ekonomi menengah ke atas. Perbaikan kualitas berlaku umum kepada setiap orang. Semua golongan berhak menikmati layanan kelas satu yang prima tanpa peduli dari golongan ekonomi mana. Yang perlu diperbaiki hanyalah perbaikan ekonomi untuk membuat penghasilan rata-rata menjadi meningkat sampai pada taraf yang tidak terlalu sensitif dengan harga tiket angkutan umum. Melihat kondisi sekarang sebagai contoh dimana tarif 1500 rupiah sekali naik maka kereta listrik kelas ekonomi menjadi penuh sesak dengan penumpang. Keadaan ini akan menjadi lebih baik jika tarif dinaikkan tiga atau empat kali lipat per sekali jalan namun jumlah armada dan frekuensi kereta ditambah.

Selain kualitas penambahan kuantitas sejatinya upaya untuk memenuhi kebutuhan standar seperti mobilisasi yang cepat, aman dan nyaman. Sampai saat ini kebutuhan ini belum bisa terpenuhi. Kebutuhan ini khususnya untuk mereka yang tinggal di daerah pinggiran yang hanya dapat dilayani dengan Kereta Listrik AC. Keterbatasan sarana ini mengakibatkan hanya sedikit yang menggunakannya. Pertama karena jalur kereta ini tidak tersebar merata sampai ke beberapa daerah pinggiran. Mereka yang tinggal di daerah selatan seperti misalnya di Ciputat, Ciledug, Jakarta Barat (Kebon Jeruk, Karawaci), Jakarta Timur (Pasar Rebo, Pulogadung, Cakung) tidak bisa menikmati saran ini. Kedua karena frekuensi kereta yang sangat jarang hingga tidak dapat memenuhi kebutuhan skedul perjalanan sebagian besar orang. Pembangunan sistem dan penambahan jalur KRL di beberapa koridor padat menjadi solusinya.

Alternatif berupa kereta listrik tidak harus ditanam di dalam tanah (subway). Mengingat faktor resiko berupa banjir dan blackout listrik sangat besar maka subway bukan pilihan yang baik. Yang perlu dilakukan hanyalah membuat desain KRL yang bagus sehingga memiliki kualitas yang sama baiknya dengan subway. KRL sebaiknya juga saling interkoneksi dengan sistem tiket yang terintegrasi dengan angkutan lainnya seperti bus dan busway sehingga memudahkan para penumpang. Kita tampaknya dapat meniru sistem di negara tetangga negara yang lebih maju seperti di Singapura atau Hongkong.

Untuk transportasi dalam kota maka cara yang ditempuh adalah melakukan revolusi angkutan umum dengan cara mengganti bus ukuran metromini / kopaja dengan bus yang lebih besar yang lebih berkualitas dan tentunya dengan armada yang lebih ramah lingkungan. Memang ini membutuhkan biaya yang besar, namun kalau langkah ini tidak dilakukan terus mau dibawa kemana sistem transportasi kota kita ini.

Pembenahan dari sisi sistem dan penegakan hukum adalah dengan memperketat pengawasan dan perbaikan rambu-rambu lalu lintas di semua jalur. Penataan ulang alur transportasi misalnya dengan memisahkan jalur motor dengan kendaraan lain, menata ulang halte yang sudah demikian kusam dan rusak, serta menghilangkan persimpangan dengan membangun banyak underpass dan jembatan layang. Yang tidak kalah penting juga adalah penempatan rambu-rambu yang lebih jelas, penegakan disiplin lalu lintas serta memperketat persyaratan kendaraan baru.