Ramahadhan, bulan suci ummat Islam. Bulan yang lebih mulia dari seribu bulan. Di bulan itu semua orang berlomba-lomba mencari pahala. Apapun hal baik sekecial apapun itu, niscaya pahalanya akan dilipatgandakan. Untuk itu menjadi hal yang mulia apabila kita bisa beribadah sebanyak-banyknya.

Menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan adalah kewajiban.  Semua yang merasa dirinya muslim wajib menjalankannya. Walaupun dalam keadaan apapun kita wajib melaksanakannya. Ada hal yang unik di ramadhan kali ini karena dimulai tanggal 1 September, dengan demikian pertanggalan hijriah sama persis dengan tanggal masehi.

Kali ini puasa ramadhan kami jalankan bertepatan dengan alokasi waktu kerja yang sedemikian padat. Seperti rutinitas yang biasa aku jalani, berangkat pagi hari sebelum jam 6 dan pulang ke rumah selepas jam 4. Ini masih untung karena tempat kerja memberikan dispensasi untuk pulang satu jam di awal.

Walaupun demikian puasa kali ini menimbulkan kesan yang lain yang berbeda dengan apa yang aku jalani dulu sewaktu di aussi. Di Jakarta, suasana puasa memang terasa karena banyak rekan-rekan kerja yang juga menjalankannya. Warung dan restoran buka setengah pintu, beberapa rekan yang tidak puasa agak malu-malu mencari tempat sunyi untuk makan siang.  Rasa haus dan lapar tidak begitu terasa karena kerja di tempat yang ber-AC. Beda dengan dulu sewaktu di Aussi, walaupun puasa namun kerja seperti biasa saja. Yang berat hanyalah menahan rasa haus.

Ramadhan kali ini kondisinya agak sama dengan Aussi. selain karena cuaca yang sama-sama panas, waktu ibadah tarawih dan witir nggak bisa dilakukan secara rutin. Kalau di Aussi ada-ada saja yang membuat sibuk mulai wari waktu ujian dan kuliah yang tidak sinkron dengan waktu beribadah, jadwal kerja yang padat juga dirasakan agak mengganggu kekusyukan menjalankan ibadah tarawih. Kalau di Jakarta, yang membuat ibadah menjadi tidak rutin adalah karena kondisi badan yang terasa sangat capek selepas pulang dari tempat kerja. Belum lagi cuaca Jakarta yang panas (maklum di rumah nggak ada ac), menjelang akan tidur kipas angin harus dinyalakan.

Kalau di aussi, forum buka bersama sering diadakan,  di Jakarta wuihhh pastinya akan susah menyelenggarakannya. Akibat dari jalanan yang muacett berat resikonya bisa saja pulang ke rumah sampainya tengah malam. Di bulan puasa ini, orang-orang keluar di waktu yang bersamaan di sore hari, jalanan  menjadi kubangan mobil dan motor tanpa tahu kapan akan bergerak. Mengantisipasi hal ini, aku tancap gas aja menuju busway, walaupun di dalam juga macet tetapi bus yang kita tumpangi tetap bisa bergerak.

Ada hal khusus di tempat yang aku tinggali. Suara deru motor dari  gang sempit  samping rumah dan geledak bunyi mercon dan kembang api selalu terdengar selepas pertengahan bulan ramadhan.