Suatu hari aku pulang dari rumah saudara naik taksi bersama doi. Si Sopir taksi ini lumayan banyak bicara, so aku terlibat banyak adu lidah alias ngobrol dengan si sopir tersebut. Sepanjang perjalanan beliau mengomentari perilaku buruk orang-orang yang ada di sekitar kita. Inti dari permasalahan yang di bilang pak sopir secara garis besar adalah ”orang Indonesia sangat pelit” Mengapa? Jangankan untuk membantu menolong nyawa orang lain, menolong diri sendiri saja kadang-ogah. Menolong dalam arti care terhadap diri sendiri bisa dilakukan dengan selalu bertindak waspada dan bisa menimbang resiko yang dihadapi daripada apa yang diperbuat. Menolong diri sendiri dapat dimaknai dari cara mengambil keputusan dari hal yang sepele sekalipun. Sepanjang perjalanan contohnya sangat gamblang. Konsep yang diungkapkan pak Sopir langsung dibuktikan dengan pemandangan di jalanan.

 

  1. Kebetulan laju  taksi lagi bersamaan dengan kereta ekonomi…. waktu itu banyak sekali orang yang naik di atas gerbong. Itu dia yang dibilang nggak care terhadap diri sendiri, keputusan untuk naik di atas gerbong adalah cara yang salah dan gegabah. Keputusan itu juga cermin dari perilaku yang tidak care dan sayang terhadap diri sendiri. Maunya cepat tapi kalau jatuh nyawa juga akan cepat melayang. Dalam acara John pantau di Trans TV, saat si Johh tanya mengapa mereka naik di atas, jawabannya simple,  habis  di dalam sumpek.
  2. Si sopir mencontohkan lagi dengan laju pengendara motor yang melaju sangat kencang seperti dikejar setan menyalip taksi kiri kanan lalu ciiit si motor mengerem mendadak hampir menabrak pejalan kaki, nah ini dia perilaku yang pelit karena tidak mau memberi kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang.
  3. Si Sopir kali ini juga menyalahkan  pejalan kaki yang menyeberang tidak pada tempatnya. Walaupun sudah ada jembatan tempat menyeberang namun mereka tetap saja menyeberang bukan di tempat yang disediakan. Di saping jalan yang dilalui taksi kebetulan ada jembatan penyeberangan yang berwarna biru yang kelihatan begitu lengang sementara di bawah jembatan banyak orang yang sibuk menyeberang.Kata si Sopir ”dasar pada tak tahu diri, mending sudah dibuatkan jembatan, tinggal pakai saja pada nggak mau, apalagi kalau diminta iuran untuk beli besi untuk membangun jembatan tersebut.”
  4. Kebetulan taksi juga melewati palang pintu kereta api, sambil menunggu palang pintu dibuka di depan terlihat  para pengendara motor maupun sopir angkot seolah nggak mau ngasih jalan ke kereta api nekat menyeberang, walaupun bunyi sirene bergema dengan kencang,. Mereka seakan tidak mempedulikan palang pintu yang mengahalangi jalan mereka. Kalau kerete api saja hampir nggak dikasih jalan apalagi pejalan kaki ya….?
  5. Kali ini ceritanya bukan dari mulut si Sopir, Cerminan dari sikap pelit ini juga terlihat di dalam kereta. Di perjalanan pagi atau sore di kereta komuter, kita akan mendapatkan menjumpai situasi di mana ketika pintu kereta terbuka , orang-orang berjubel  masuk lalu dengan kesetanan merangsek untuk mencari tempat duduk. Begitu dapat lalu pura-pura tidur, walaupun di sekitarnya banyak penumpang lain yang lebih membutuhkan tempat duduk misaalnya orang tua dan wanita hamil.

 

 

11 jan 2009