Tulisan ini dibuat ketika aku baru sampai di Jakarta,  8 Desember 2007 lalu

 

Perjalanan dari bandara menuju rumah saudara Ciledug sangat mendebarkan dan membuatku takjub. Kota ini tidak berubah dari dua tahun yang lalu. Tidak tampak adanya perubahan yang sangat berarti. Aku bahkah harus sedikit syok menghadapi kenyataan di jalan.

 

Ketika mobil menjemputku mulai beranjak dari tempat parkir, sepotong cerita dari film ”naga bonar jadi dua” terjadi. Dari lampu sein, terlihat ada seseorang petugas parkir berpakaian lusuh mencoba untuk mengatur/ mengarahkan mobil untuk mundur. Dari pakaiannya jelas dia  bukan petugas resmi, dia ini mungkin salah satu orang yang kurang beruntung di negeri ini. Dia ini merupakan bagian yang sangat besar dari banyaknya populasi yang tinggal di negeri ini yang tergencet oleh tingginya pengangguran.

 

Sedikit perdebatan terjadi ketika aku dan Ika (yang kebetulan menjadi driver waktu itu) we were having argument tentang apakah harus memberi uang atau tidak. Rupanya si Ika (keponakanku yang paling besar) punya prinsip jangan berikan uang, karena itu akan membuat mereka akan seperti itu terus. Namun waktu itu aku punya fikiran lain, karena terdorong faktor kasihan aku minta Ika untuk memberikan  sedikit uang receh. Ika tetap bergeming. Luar bisa memang, bahwa mendidik perilaku masyarakat tentang bagaimana mencari nafkah kadang harus dilakukan cara-cara seperti itu. (keras, tanpa kompromi).

 

Manusia di Jakarta memang sangat padat. Sepeda motor, mobil, bahkan para pejalan kaki memenuhi jalanan. Infrastruktur Jakarta yang sudah mulai rusak tidak kelihatan diperbaiki. Kota ini memang memiliki seribu satu macam rupa, namun yang sangat dominan adalah kesemerawutan dan sampah. Tidak ada yang perlu disalahkan melihat kenyataan seperti itu, karena itu keadaan seperti itu sangat wajar terjadi di negara berpredikat negara berkembang yang sudah sangat jauh ditinggalkan negara-negara lain yang memulai membangun di saat yang sama dengan negara kita. (Ini potret jakarta pinggiran bagian Barat (Cengkareng)… di bagian lain mungkin ceritanya akan berbeda ya)

 

Mobil jalan, berhenti, menyalip tanpa aturan. Tidak ada rambu-rambu yang dapat menunjukkan bagaimana kita seharusnya berkendara dengan baik. Bahkan motor dan pejalan kaki menyeberang dan memotong laju kendaraan dengan tanpa takut. Untuk si Driver ini sangat lincah bergerak ke kanan dan ke kiri menghindari laju kendaraan yang sedang berjalan atau berhentri sembarangan.

 

Di kanan kiri jalan, sampah-sampah berserakan dengan liar. Di beberapa lahan yang lebih rendah tertutup air yang warnanya menghitam. Tidak ada trotor yang layak untuk digunakan pejalan kaki. Bahkan di beberapa tempat, trotoar yanga da pun diisi pedagang kaki lima.

 

Sesampai di Ciledug, segera saja mobil terhenti padatnya mobil yang merayap, terhalang oleh pembangunan fly over Ciledug, entah kapan bangunan ini selesai dikerjakan. Di situlah mobil berjuang selama hampir seperampat jam untuk bisa melewati keruwetan prapatan ini. Alhamdulillah underpass ini telah selesai dikerjakan…..