Dec 10, 2007


Berada di ketinggian teluk ke Jakarta , melepaskan pandangan ke jendela pesawat. Yang kutemui kabut tipis yang menggelayuti jakarta. Aku tak tahu apakah itu kabut karena asap polusi ataukah karena asap dari awan yang akan mendatangkan hujan di bulan Desember. Entah aku tak tahu, namun yang aku temui dulu juga keadaannya juga seperti itu. Di waktu-waktu lalu ketika pesawat berada di ketinggian dermaga Tanjung Priok, keadaannya juga seperti itu, Jakarta diselimuti kabut. Gedung-gedung tinggi yang seharusnya dapat dilihat di ketinggian, tidak juga tampak di pandangan mata.


Pagi itu, Pesawat SQ no 952 telah menginjakkan rodanya di landasan. Bunyi berderak dan goncangan saat-saat pesawat mendarat membuatku lega. Ketika aku lepas dari gerbang barata segera udara panas Jakarta menyapa tubuhku yang kelelahan setelah berada di pesawat kurang lebih 9 jam lamanya. Udara kota sama seperti dulu. Panas, lembab dan lengket. Hari itu adalah pagi tanggal 8 Desember 2007. Itu adalah tanggal kedatanganku kembali di kota Jakarta setelah dua tahun lamanya menghabiskan waktu belajar di Brisbane Australia.


Koridor menuju meja imigrasi kelam sekali. Lantai masih seperti dulu, dibalut dengan keramik warna merah tua. Di beberapa bagian terutama di tembok aku lihat warna cat-nya sudah mulai pudar. Dinding –dinding itu sudah tampak usang. Bukannya aku menjelek-jelekkan bangsa sendiri, namun hanya sekedar kegundahan akan pelayanan petugas di bandara. Para petugas berpakaian hijau-hijau itu enak sekali berbincang seolah tidak memperdulikan ketika aku menghampiri mereka untuk meminta form hijau kedatangan. Buatku ini adalah mala petaka pelayanan yang segera menjadi bencana di masa depan.


Bayangkan jika model atau cara melayani mereka seperti ini, siapa yang tidak akan takjub dalam pengertian negatif ketika kedatangan para penumpang dicuekin sama petugas bandara. Tidak ada afeksi dan atentif, kesan yang muncul dari suasana dengan petugas adalah “tidak nyaman”. Aku bertanya dalam hati, apakah tidak ada ya mengajari mereka cara meleyani penumpang (customer) dengan baik.

Kembali ke bagian imigrasi. Segera setelah itu, para penumpang berderet di depan meja imigrasi. Mereka tunjukkan pasport dan beberapa dokumen lain sementara sanak saudara mereka menunggu di balik pagar pengunjung. Meja imigrasi itu sudah mulai usang. Lampu penerangan si koridor menuju meja imigrasi sangat gelap. Tidak tampak keceriaan, sampai akhirnya aku sampai di saalah satu meja, dan kusapa petugas tersebut dengan sapaan apa khabar mas, dan langsung terjalin pembicaraan cukup akrab, karena ternyata petugas tersebut kenal dengan salah satu teman yang bertugas di kantor imigrasi.


Setelah barang aku jemput segera saja terlihat beberapa wajah yang cukup akrab menantikan kedatangaku……..