Sampah dan bunga adalah suatu hal yang berbeda. Pada umumnya orang akan mengasosiasikan sesuatu yang tidak berguna, buruk, dan bau sebagai sampah. Namun, bunga memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan sampah. Bunga adalah simbol keindahan, simbol kesegaran dan simbol masa depan. Pendeknya sesuatu yang baik dapat dikaitkan dengan bunga.

Jika dua hal tersebut sangat berbeda maka pertanyaannya adalah: Apakah bunga dapat tumbuh di tumpukan sampah? jawabnya tentu beragam namun saya memilih jawaban “iya”.

Tumpukan sampah, seburuk-buruknya pada dasarnnya adalah nutrisi bagi perkembangan segala jenis tetumbuhan. Tumpukan sampah sangat kaya akan nutrisi. Namun demikian tentu saja Tumbuhan tersebut harus pandai memilah-milah zat nutrisi, jika tidak maka racun yang akan terserap oleh tumbuhan tersebut.

Nah di lingkungan kerjapun keadaannyaa dapat dianalogikan sama.  Pada setiap lingkungan kerja tentu saja ada faktor impurities seperti yang dicontohkan sebagai sampah tadi.  Lingkungan kerja yang yang sangat buruk dapat diibaratkan sebagai tumpukan sampah tadi. Sadar atau tidak, lingkungan yang buruk akan berpengaruh terhadap cara kita bekerja. Lingkungan kerja membuat kita bisa menjadi hebat bisa pula menjadikan kita seperti sampah.

Menjadi bunga adalah suatu pilihan. Walaupun hidup dari tumpukan sampah, jika sejatinya kita ingin menjadi bunga yang mekar harum bersemi tentu saja bisa.  Faktor penting yang harus dijaga adalah ” selektif”.  Selektif dalam mengambil nutrisi dan membuang faktor-faktor yang menjadi racun. Menjadi selektif tentu saja harus diikuti dengan “memilih”.  Memilih hal yang baik, meninggalkan hal yang buruk.

Dengan melakukan hal di atas maka seandainya kita bunga, maka kita akan berwarna merah menyala di tumpukan sampah.