Budaya suatu organisasi pada dasarnya dibentuk oleh suatu sistem. Sistem adalah abadi sementara figur bisa berulangkali berganti. Jika sistem telah tertanam dalam alam fikiran anggota organisasi tersebut maka budaya organisasi akan muncul.

Mengidentifikasi kultur organisasi sangatlah mudah. Tengok saja perusahaan angkutan Blue Bird. Perusahaan ini mampu menciptakan image aman dan nyaman untuk siapa saja yang menggunakan jasa perusahaan ini. Sapaan selamat siang, pagi, sore, apa khabar serta hendak kemana (tentunya dengan bahasa yang sopan dan ramah) telah menjadi budaya para pengemudi Blue Bird. kemanapun kita pergi blue bird selalu siap mengantar. Faktor inilah yang tidak dimiliki oleh perusahaan taksi yang lain.

Apakah budaya seperti blue bird tadi ada dengan sendirinya? tentu saja tidak. Budaya yang berorientasi image tersebut pasti diciptakan dan dijaga oleh sistem. Sistem dapat mendrive orang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kaidah sistem yang berlaku di organisasi tersebut. Beberapa contoh yang mudah dilakukan adalah:

1. Pemberian reward dan punishment untuk siapa yang berprestasi dan yang tidak berprestasi. Reward dan punishment harus tegas dan tidak mengenal batas waktu.
2. Konsistensi sikap dari leader dari organisasi tersebut. Konsistensi ini membuat aturan menjadi lebih jelas dan bawahan memiliki petunjuk untuk bertindak.
3. Whistle blowing atau para “penggonggong” ini sangat berperan untuk menjaga jangan sampai ada anggota organisasi yang menyimpang dari kaidah etika dan sistem yang telah disepakati bersama. Jika ada whistle Blower secara internal maka tidak akan ada yang berani berbuat di luar batas toleransi.
4. Rules jelas dan telah diketahui oleh semua orang dalam organisasi. Kejelasan ini penting karena jika tidak maka semua orang akan mencari-cari sendiri dengan cara-cara mereka sendiri. Contoh, jika tidak ada standarisasi yang jelas mengenai penilaian kualitas pekerja dalam organisasi maka orang akan melakukan cara-cara yang tidak etis untuk naik posisi.
5. Kriteria tentang prestasi harus dirumuskan dengan jelas. Prestasi juga harus terukur dan bisa dinilai secara vertikal maupun horizontal.
6. Harus ada history yang selalu mengingatkan akan apa yang pernah terjadi sehingga setiap orang akan selalu dalam alam kesadaran. History atau catatan sangat mutlak diperlukan agar permisifisme dapat ditekan dan orang akan selalu ingat supaya tidak mengulang lagi kesalahan yang telah dilakukan.

Demikian, mudah-mudahan kultur organisasi yang baik dan etis dapat dijalankan oleh setiap pekerja maupun anggota dalam organisasi kita.